by

DIANGGAP LECEHKAN PAHLAWAN ACEH DPRA SOMASI GUBERNUR BI

dprk

LANGSA ACAH– detikperistiwa.com-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Asril H Asnawi  (40) warga Tualang Teungoh Kota Langsa Aceh – melalui kuasa hukum nya  Safaruddin SH dari Yayasan Advokat Rakyat Acah(YARA) melakukan somasi terhadap Gubernur  Bank Indonesia (BI)  atas pencatutan gambar Cut Meutia pahlawan Nasional asal Aceh.
Kuasa hukum dari Asrizal H Asnawi , Safaruddin SH yang mengirim relisnya kepada wartawan Selasa (3/1) mengatakan gambar Cut Meutia yang ditampilkan  dalam uang pecahan Rp 1000 (seribu rupiah)  dapat melecehkan pelaksanaan syariat Islam  di Aceh sebagai mana  telah diatur Qanun  Peraturan Daerah  (perda)  No 11 tahun 2002  tentang pelaksanaan syariat Islam di bidang ibadah dan syariat Islam  pada pasal 13 qanun tersebut,”  ujar Safaruddin tokoh muda dan pengacara muda di Aceh.

Lanjutnya setiap orang Islam di Aceh wajib berbusana Islami, untuk mengukur  busana Islami tersebut  yang terdapat 4 kriteria  di antaranya harus menutup aurat,  baik bagi laki laki maupun perempuan  aurat bagi perempuan  (Seluruh anggota  tubuh kecuali wajah  dan telapak tangan red-),  tulis Safaruddin dalam surat somasi.

 

uang-1000
Lalu, Gambar Cut Meutia yang ditampilkan dalam uang pecahan Rp 1000,- (Seribu Rupiah) dapat melemahkan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh sebagaimana telah diatur dalam Qanun  Perda Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam Bidang Aqidah, Ibadah dan Syi’ar Islam, pada pasal 13 Qanun tersebut dijelaskan bahwa setiap orang Islam di Aceh wajib berbusana Islami.

Untuk mengukur busana Islami ini terdapat empat kriteria, yaitu: Pertama, harus menutup aurat, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Rambut perempuan itu bagian anggota tubuh yang wajib ditutup. Kedua, pakaian untuk kaum perempuan harus longgar sehingga tidak terlihat lekukan bentuk tubuh. Ketiga, bahan (kain) pakaian tidak dibenarkan yang tipis dan transparan. Keempat, bahan pakaian harus terbuat dari bahan yang suci (halal), bukan dari bahan bernajis dan diharamkan.
Cut Meutia merupakan bangsawan Aceh yang dilahirkan di Keureutoe, pada 1870, sekira tiga tahun sebelum Belanda menyerang Kesultanan Aceh Darussalam. Ini mengartikan bahwasanya saat Cut Meutia dilahirkan di Keureutoe, daerah tersebut masih wilayah Kesultanan Aceh Darussalam yang merupakan sebuah Negara Islam.

laporan-1

laporan

“Cut” merupakan salah satu sebutan untuk seorang perempuan bangsawan di Aceh, para perempuan bangsawan Aceh pada saat itu memakai pakaian muslimah yang menutup aurat dengan jenis pakaian menurut adat dan kebiasaanya mereka dalam tingkatan pemerintahan yang berlaku saat itu dan sebagai perempuan bangsawan di wilayah Samudra Pasai,

Cut Meutia sebagai kaum bangsawan selalu memakai pakaian muslimah menurut adat dan budaya Aceh.
Lukisan Cut Meutia yang tidak memakai penutup kepala, pelukis saat itu merupakan turunan dari usaha pihak Belanda untuk memalsukan sejarah yang ingin memberikan kesan palsu bahwasanya Cut Meutia itu tidak menutup kepala sama seperti sebagai dayang perempuan Istana Belanda.“Kami menilai ini penipuan data sejarah dan penghinaan terhadap Pahlawan Bangsa dan Syariat Islam di Aceh,” terangnya.

.
Kemudian, Cut Meutia itu  salah satu Pahlawan Nasional dari Aceh yang sangat dikagumi  masyarakat Aceh, khusus nya para perempuan, bahkan semangat dan kepribadian serta tata cara kehidupan dan berpakaian Cut Meutia pun selalu dianjurkan untuk diikuti  generasi perempuan di Aceh.

Sehingga Cut Meutia menjadi inspirasi bagi para perempuan di Aceh dan gambar Cut Meutia pada uang pecahan Rp 1000,- (Seribu Rupiah) yang terbaru dikeluarkan Bank Indonesia dapat merusak semangat dan karakter generasi perempuan di Aceh yang satu-satunya Provinsi di Indonesia yang melaksanakan Syariat Islam.

Gambar Cut Meutia tersebut seakan-akan Cut Meutia itu wanita yang tidak memakai penutup kepala, sehingga generasi perempuan di Aceh akan mengikuti semangat dan tatacara Cut Meutia berpakaian dengan tidak memakai penutup kepala yang merupakan aurat perempuan dalam Islam yang saat ini dilarang di Aceh.
Pada mata uang salah satu simbol kedaulatan Negara yang harus dijaga dan dihormati  seluruh Bangsa Indonesia, pelecehan terhadap mata uang merupakan pelecehan terhadap simbol kedaulatan Negara.

Syariat Islam di Aceh itu salah satu dari bagian kedaulatan Negara yang diberikan secara konstitusional kepada Provinsi Aceh, pelecehan terhadap Syariat Islam merupakan pelecehan terhadap konstitusi dan Negara, dalam kaitan dengan pecahan uang Rp 1000,- (seribu Rupiah).

Asrizal H Asnawi sebagai seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dimintai  masyarakat luas di Aceh untuk melakukan prores terhadap gambar Cut Meutia pada pecarah uang Rp 1000,- (seribu Rupiah), karena telah menempatkan Pahlawan Kebanggaan Aceh dengan semangat Jihad Islamnya mengusir penjajah dari Tanah Rencong seperti bukan seorang Cut Meutia yang selama ini dikenal dalam sejarah Aceh.
Untuk itu kami minta kepada Gebernur Bank Indonesia agar segera melakukan pencabutan dan penarikan uang pecahan Rp 1000,- (Seribu Rupiah) dari peredaran dan menganti gambar Pahlawan Nasional Cut Meutia dengan gambar yang menggunakan penutup kepala sebagaimana seorang muslimah sesuai dengan pasal 17 UU No 7 tahun 2011 tentang mata Uang dan berkonsultasi terlebih dahulu dengan Pemerintah Aceh sebagaimana pasal 269 UU No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Demikian Somasi ini kami sampaikan, dan kami menunggu tanggapan dari Gubernur Bank Indonesia paling lama tujuh hari dari tanggal surat ini, jika somasi ini diabaikan maka kami akan menempuh jalur hukum. (amt)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed