“Presiden Sekaligus Petahana” Mau Lawan Siapa?

EVALUASI KOMUNIKASI POLITIK DAN PEMERINTAHAN

By: Rusdianto Samawa, Alumni 2014 Komunikasi Politik Sekolah Pasca Sarjana Univ. Muhammadiyah Jakarta

==================

JAKARTA – Jabatan Presiden itu kepercayaan rakyat untuk memimpin negeri. Tentu menjadi pemimpin tidak lantas mudah. Lahirnya pemimpin sudah pasti rakyat ingin dapat sebaran informasi benar atau tidak tentang individu maupun keluarganya hingga latar belakang keluarga. Bagaimana asal usul keturunan dan keluarga?.

Hal ini yang dimaksud oleh Foucault dalam teori simboliknya sebagai makna tersirat dalam bahasa, kata dan wacana. Sebenarnya jawabannya satu hal biasa dan lumrah bagi Presiden yakni memberi kunci jawaban kepada publik rakyat Indonesia tentang keterbukaan akses konten asal usul keluarga sehingga tidak menimbulkan fitnah.

Tentu, fitnah yang akan dilawan oleh Presiden itu cacat secara mendasar. Karena persfektif komunikasi terhadap konten pidato yang sangat berapi-api di Yogyakarta pada waktu lalu itu membuka tabir masalah gagalnya Presiden memahami psikologi rakyat dan jelas tidak substantib apa yang disampaikan.

Ucapan panas itu: sudah jelas menjatuhkan marwah Presiden dimata rakyat dan mendeletigimasi sebagai capres. Karena pengakuan dalam pidato yang panas itu: “Presiden (petahana) mengaku sudah 4,5 tahun diserang fitnah dan akan melawan fitnah tersebut.”

Diksi “lawan” yang disampaikan Presiden itu membuat publik bertanya: “Presiden mau lawan siapa?.” Artinya Presiden atas nama negara mencurigai rakyat dengan ancaman dan sekaligus menganggap rakyat “hoax.”

Lebih satire lagi ketika pidato Presiden (Petahana) secara live menyampaikan soal serangan fitnah kepada dirinya sehingga membuat pendukungnya berteriak lantang dan terkesan mendukung ancaman itu. Sikap Presiden (petahana) itu menunjukkan kualitas demokrasi Indonesia menuju kegelapan. Masa gelap akan datang, ketika pemimpin negeri ini tidak mengerti esensi berdemokrasi. Semua alat negara ingin dipakai untuk mengontrol dan menghukum rakyatnya.

Ungkapan ancaman lewat diksi “lawan” itu telah membawa nasib rakyat kearah kegamangan dan kebisingan kekuasaan sehingga hakekat negara sebagai pelindung daulat rakyat tak mampu lagi hadir untuk memberi pelajaran yang sehat dan berbudi luhur.

Lebih lengkap ungkapan Presiden: “Saya sebetulnya sudah diam 4,5 tahun, difitnah-fitnah saya diam, dihujat saya diam, tetapi hari ini di Yogya saya sampaikan saya akan lawan! Ingat sekali lagi, akan saya lawan! bukan untuk diri saya, tapi ini untuk negara,” kata Petahana di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Sabtu (23/3).

Apalagi kata “Lawan” itu tak bisa dibuktikan secara fairness dari agenda melawan segala bentuk fitnah yang selama ini dialamatkan kepadanya, termasuk terkait dengan fitnah bahwa dirinya adalah antek asing. Maka ungkapan itu menbuat nehara semakin jatuh marwahnya.

Sebetulnya, belum terlambat untuk memperbaiki pola komunikasi Presiden (petahana) sehingga citra pemerintahan dapat pulih kepercayaanya dimata rakyat. Pernyataan perlawanan itu, dikatakan petahana dengan nada setengah berteriak, sehingga disambut riuh ribuan pendukungnya. substansinya, presiden telah gagal membawa kedamaian, meninggalkan sportivitas kompetisi politik dan deletigimasi kekuasaan negara terhadap upaya melindungi rakyat karena presiden sendiri mengancam satire atas rakyatnya.

Komunikasi massa Presiden (petahana) harus diperbaiki, apalagi ucapan satire itu tidak berdasar. Apa salahnya, Presiden memberi laporan sebagai upaya pertanggungjawaban baik tertulis dan lisan untuk diketahui rakyat. Apakah? telah berhasil kembali mengusai sumber daya strategis Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh asing.

Ungkapan lain Presiden (petahana): “Karena saya memiliki basic pengalaman di kota dan di provinsi, waktu masuk ke lingkup pengelolaan negara, manajemen negara, ya saya biasa-biasa saja karena sudah memiliki pengalaman itu.” Meski Presiden (petahana) menyinggung frasa “Indonesia punah” yang pernah diucapkan Prabowo sebelumnya.

Karena itu, siapapun yang merasa terpanggil untuk membenahi Indonesia karena menilai pemerintah sekarang belum memberi keadilan dan kesejahteraan. Maka marilah perbaiki negara dengan membangun tradisi komunikasi yang baik dan kuat.

Selain itu, Kathleen Searles dari Louisiana State University dan Travis N. Ridout dari Washington State University dalam tulisannya yang berjudul The Use and Consequences of Emotions in Politics menjelaskan bahwa politik kemarahan dapat mendorong penerapan kebijakan-kebijakan yang bersifat menghukum dengan meningkatnya tendensi untuk menyalahkan pihak tertentu daripada menanggapi situasi.

Atas dasar gaya.komunikasi dalam pidatonya itu, bukan tidak mungkin akan menjadi sibuk memerangi lawan-lawan politiknya demi menjaga dan mengamankan kepresidenannya. Bukan hal asing apabila Petahana menggunakan instrumen hukum untuk menyerang lawan-lawan politiknya – hal yang disebut-sebut sudah terjadi saat ini. Apabila politik kemarahan yang disasarkan pada berita bohong menjadi tema utama kampanyenya, bukan tidak mungkin pula masyarakat mendorong justifikasi penyaluran kemarahannya pada peraturan hukum yang membungkam kritik. Apabila hal itu benar-benar terjadi, petahana tentu dapat di indikasikan bangkitnya Orde Baru jilid II.[]

No Response

Leave a reply "“Presiden Sekaligus Petahana” Mau Lawan Siapa?"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.