“Siapkah Jokowi Malu menantang Massa Kampanye Prabowo?

Oleh: Fadlin Guru Don
(Akademisi Universitas mercu Buana Jakarta & Direktur Riset dan Analisis Data Lembaga Analisis Politi Indonesia)

Kampanye Akbar Prabowo-Sandi yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno telah menghadirkan jutaan orang, bisa dibilang pemecah rekor kampanye terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Semua itu terjadi tidak lepas dari pengaruh Imam Besar Umat Islam Indonesia Muhammad Habib Rizieq Shihab.

Rupanya Kampanye Akbar Prabowo-Sandi tidak hanya membuat pendukungnya menjerit dalam doa, tetapi dilain sisi membuat lawan politiknya kepanasan dan mencari-cari sisi lemah dari kampanye tersebut. Mulai dari pencekalan hingga mencari kesalahan dengan mengumpulkan dalil-dalil kitab suci untuk menyeret keyakinan publik.

Namun ada hal yang menarik pasca Kampanye Akbar Prabowo-Sandi. Ternyata Jokowi-Ma’ruf menyepelehkan dan mencoba menantang massa kampanye Prabowo-sandi di lapangan GBK pada tanggal 7 April 2019 kemarin.

Segala potensi Jokowi kerahkan, bahkan telah viral di media sosial bahwa petahana akan menggerakan pegawai BUMN untuk hadir ke Jakarta dalam rangka mengikuti Kampanye Jokowi-Ma’ruf pada tanggal 13 April 2019.

Seruan itu bukan sekedar himbauan tetapi penuh dengan ancaman dan intimidasi. Seperti ciutan akun @IreneViana di twiter bahwa semua pegawai BUMN dicatat nomor Handphonnya dan diabsen kehadiranya. Apa bila pegawai BUMN menolak hadir maka akan diberi beragam sanksi seperti pembatalan bonus, penundaan kenaikan pangkat dan golongan bahkan bisa dimutasi.

Politik intimidasi ini sudah jelas bertentangan dengan slogan Nawa Cita yang digaung-gaungkan Jokowi sendiri. Perilaku ini bukan saja berpotensi menghilangkan trust atau kepercayaan publik tetapi juga dapat berpotensi pendukungnya meninggalkan Jokowi. Kenapa tidak, karena itu sudah jelas melanggar prinsip-prinsip demokrasi.

Disamping itu, Jokowi telah mengambil langkah brutal dengan melabrak perintah konstitusi negara bahwa telah melibatkan Pejabat Negara dan Aparatur Sipil Negara terlibat didalam politik praktis. Jokowi tidak hanya brutal tetapi jokowi juga sedang melawan rakyat Indonesia. Ini berhaya, karena telah berani mengobrak-abrik amanah rakyat. Bila cara-cara ini terus masif dilakukan maka tidak ada yang mustahil potensi konflik bisa saja terjadi.

Penulis juga ingin menyarankan kepada Jokowi sebagai kepala negara harus memperhatikan akibat-akibat yang akan terjadi nanti. Sudah cukup rakyat Indonesia banyak kehilangan kepercayaan dari janji-janji politiknya jangan lagi rakyat diajari untuk bertindak premanisme. Jokowi harus sadar bahwa dia jadi Presiden dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jangan lupakan itu bahwa yang memiliki otoritas tertinggi adalah otoritas rakyat, karena suara rakyat adalah suara “tuhan”.

Dengan segala usaha itu, mungkinkah Jokowi-Ma’ruf mampu mengalahkan massa kampanye Prabowo-Sandi? Ataukah ia akan kembali meradang? Ditanya atau tidak Jokowi-Ma’ruf saat ini pun sebenarnya sudah malu dan meradang, karena tantangan ini dapat dianggap sebagai reaksi dari rasa khawatir mereka yang tidak akan mampu mengalahkan massa kampanye akbar Prabowo-Sandi.

Kenyataannya, Jokowi menantang massa pendukung Prabowo tidak hanya kali ini, tetapi pernah ketika reoni persaudaraan Alumni 212 di Monas, kemudian ditantang dengan acara tandingan Tabligh Akbar di Masjid Istqlal walaupun pada akhirnya dibatalkan karena tidak yakin mengalahkan acara reoni 212. Jokowi-Ma’ruf sebenarnya sudah punya referensi dan tidak mungkin tanpa hitungan yang matang, bahkan sudah memikirkan segala resikonya terhadap apa yang akan terjadi nanti sebelum menantang massa Prabowo-Sandi.

Sesungguhnya sikap dan tantangan Jokowi-ma’ruf untuk melawan massa kampaye Akbar Prabowo-Sandi bisa di prediksi minimal dua hal yang akan terjadi. Pertama, bila massanya dapat mengalahkan Prabowo-Sandi maka Jokowi-Ma’ruf belum tentu bisa selamat tetapi masih banyak masalah yang akan ia hadapi, termasuk masalah keterlibatan ASN dan pejabat negara. Lalu Kedua, bila massa Jokowi-Ma’ruf kalah maka selesai sudah, Jokowi-Ma’ruf akan menanggung rasa malu yang amat besar. Ia sama saja telah menampar mukanya sendiri dihadapan rakyat Indonesia.

Bukti siapa diantara mereka yang bakalan malu atau meradang, kita belum bisa memastikan secara mutlak karena acara Kampanye Akbar Jokowi-Ma’ruf belum terjadi. Tetapi kita bisa menganilsa atau memprediksinya melalui latar belakang massa kampanye dari dua paslon ini.

Massa Prabowo-Sandi tidak Perlu dibedah terlalu Jauh karena sudah pasti mayoritas berasal dari massa alumni 212 dari berbagai daerah diseluruh Indoenesia, pendukung murni yang ikhlas tanpa dibayar sepersenpun. Sedangkan massa Jokowi, kita bisa mengira-ngira dari mana asalnya. Jika benar massa dari pegawai BUMN dan ASN maka bisa diukur bahwa mereka hadir atas dasar paksaan dan intimidasi. Maka bisa dipastikan yang hadir tidak seberapa.

Bila yang hadir ditambah dengan pendukung fanatiknya, tetapi yakinkah mereka yang ada didaerah-daerah mau hadir dijakarta secara ikhlas? Belum tentu, karena Jokowi-Ma’ruf tak memiliki magnet kuat untuk membuat mereka tertarik seperti Habib Rizieq Sihab.

Dari aspek ini kita sudah bisa meraba-raba bahwa Jokowi-ma’ruf tidak akan mampu mengalahkan massa Prabowo-Sandi. Artinya bisa dipastikan bahwa Jokowi akan meradang lagi.

Lalu kenapa Jokowi-Ma’ruf harus mengalahkan massa Kampanye Akbar Prabowo-Sandi, karena kampanye ini menjadi icon sekaligus menjadi magnet untuk memastikan rakyat Indonesia tidak ragu lagi memenangkan mereka.

Kekuatan massa pada kampanye akbar bagi kedua pasangan Calon Presiden sangat pentig karena bisa menjadi standar serta referensi rakyat Indonesi dalam mengukur kekuatan mereka dalam memenangkan pertarungan akbar pada Pilres 17 April 2019 Nanti. Jadi tidak bisa dianggap sepeleh karena ini menyangkut harga diri dari kedua pasangan Calon Presiden. Sehingga mereka akan mengerahkan energinya semaksimal mungkin.

MARI KITA SAKSIKAN BERSAMA!

No Response

Leave a reply "“Siapkah Jokowi Malu menantang Massa Kampanye Prabowo?"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.