PERAN PEMUDA MENJAGA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA PASCA PEMILU

Penulis: Harsih Setiawandari (Mahasiswa UI Pasca Sarjana)

Jakarta, (20-05-2019) – Peran pemuda menjaga persatuan dan kesatuan bangsa pasca Pemilu serentak di Indonesia adalah sebuah keharusan. Mari mengusung semangat yang sama, yaitu semangat persatuan.

Menurut mahasiswa Universitas Indonesia bahwa saat ini ada upaya yang akan mendelegitimasi hasil pemilu.

Oleh sebab itu pada 20 Mei 2019 di Gedung Gektorat Lantai 5 Universitas Indonesia, Jakarta Pusat tergerak untuk menyelenggarakan kegiatan Talk Show dengan tema “Peran Pemuda Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa Pasca Pemilu.

Kegiatan ini kabarnya dihadiri oleh kalangan pemuda milenial dengan berbagai latar belakang, mahasiswa, aktivis dengan jumlah peserta diskusi sebanyak 40 peserta.

Kehadiran para peserta diskusi memang tidak terlepas dari pada ketertarikan mereka pada tema dan pemantik diskusi yang tidak lain adalah Muhammad Sauqillah, S.H.i., M.Si., Ph.D (Kaprodi kajian Terorisme SKSG UI), Savic Ali (Direktur NU Online dan Islami.co), Manggata Todung Allo (Tokoh Pemuda Pemerhati Politik).

Kegiatan ini diharapkan akan menggali sebuah gagasan yang bisa dilakukan untuk pemuda dengan posisi dan kondisi saat ini.

Sebab saat ini tantangan yang dihadapi pemuda Indonesia bukan lagi rezim yang otoriter, musuh bersama sudah tidak ada seperti tahun 1998 lalu.

Kondisi saat ini sangat demokratis, tapi kesannya adalah pemuda saat ini mandul mengeluarkan kritis. Ini karena memang faktor zaman atau karena sistem? Selain itu ada juga kebijakan yang membatasi masa studi menjadi 4 tahun, apakah ini strategi peerintah membatasi gerakan mahasiswa?

Menurut Muhammad Sauqillah, S.H.i., M.Si., Ph.D selaku narasumber acara talkshow tersebut, bahwa ruang aktualisasi pemuda dulu dan saat ini berbeda. Sehingga tantangnya juga berbeda. Pertarungan identitas, terutama di kampus negeri saat ini sangat kuat bagaimana organisasi yang tidak moderat sangat menguasai masjid kampus melalui kegiatan keagamaan seperti mengajar ngaji dan menjadi takmir.

“Tahun 2017, di hampir 15 Provinsi di Indonesia, kami menemukan data yang mencenangkan 10, 5% mereka setuju dengan khilafah. Ini menujukkan pertarungan politik identitas di kampus bergeser. Dan ini harus dikembalikan pada oraganisasi yang didalamnya pemudanya moderat,” terang Sauqillah.

Selain itu, lanjut Sauqillah tidak ada basis argumentasi politik yang rasional untuk mensusksekan turun ke jalan, indikasinya tidak ada. People power akan sukses kalau ekonomi rendah, sedangkan saat ini Indonesia tidak menunjukkan gejala itu.

“Arab spring di timur tengah misalnya, antara kondisi ekonomi jatuh dan angkatan angka pemuda 20%. Kondisi bangsa yang terpuruk menjadi salah satu indikasi suksesnya demontasi di jalanan. Indonesia dalam kondusif yang stabil,” terangnya lagi.

Ditambah Indonesia tidak punya prasyarat tidak akan sedahsyat yang di bayangkan, kalau ada demo wajar saja sebagai bentuk kekecewaan karena faktor pengeluaran biaya yang besar untuk membiaya kampanye.

“Tahun 1998- saat ini, kita saat ini lebih dewasa dengan 5 kali pemilu. Politik identitas ini mejadi tatntangan dengan munculnya hoaks dan hate specch. Setiap pemuda punya berapa kader yang bisa memberdayakan di masyarakat, misalnya, guru gaji, takmir masjid. Bagi kita itu adalah hal usang, tapi politik identitas saat ini ada di masjid. Perlu kontribusi dengan masjid sehingga bisa mencegah kelompok-kelompok yang tidak pro pancasila,” lanjut Sauqillah.

Dan terakhir Ia sampaikan bahwa, oemberdayaan masyarakat penting untuk didorong, jangan proposal politik saja yang jalan.

“Jangan saat pemilu saja ramainya. Menyentuh kalangan milenial saat pemilu maka itu hanya mengulang tradisi lama senior. Sebagai pemuda harus berkontribusi dari level terkecil masyrakat hingga level bangsa dan negara. Peran meuda mengisi kekosongan yang ada,” tutup Sauqillah.

Dilain sisi menurut Savic Ali, bahwa 22 Mei tidak akan ada gerakan politik yang yang sangat mengkhawatirkan, mungkin hanya demo kecil dari kelompok kecil yang kecewa.

“Ada kelompok-kelompok yang kebencian pada Jokowi sudah sedemikian besar. Sehingga tidak sanggup menerima kemenangan Jokowi, terutama di online. bagi teman-teman yang mempunyai mesin grapping sosial media akan tahu bahwa hanya sedikit di medsos yang menjadi pelaku,” kata Savic.

Selain itu, lanjut Savic bahwa konteks pembacaan pemilu tidak ada tuntutan gerakan politik yang signifikan. Soal kecurangan, kecurangan ada kemungkinan di dua belah pihak karena perebutan kursi dewan.

“Aktor-aktor bukan pemuda, tapi pelaku-pelaku politik yang berafilisasi, berbeda dengan 98 yag aktornya adalaah pemuda, mahsiswa. Suara yang muncul dari mahasiswa. Suara yang keras diantaranya peneliti lippi itu pun sudah belakangan, saat massa yang sudah berpuluhan. Yang memulai adalah mahasiswa melalui mimbar bebas di dalam kampus,” papar Savic.

Ditambah saat massa sudah banyak baru demo keluar jalan raya. Dan aktor-aktornya adalah pemuda. Awalnya media tidak berani memberitakan demo. Dulu, mahasiswa menyembunyikan diri dari wartawan, karena adanya kekhawatiran adanya blokade dari pemerintah. Baru setelah demo masif, intlekul dan para tokoh-tokoh tua bermunculan.

Amin Rais sendiri kata Savic, tidak ada kaitannya dengan gerakan mahasiswa. Amin Rais sempat keluar karena Forkot. Amin Rais adalah tokoh yang vokal tapi tidak terhubung dengan gerakan mahasiswa. Pertemuan Ciganjur yang menginisiasi mahasiswa, Nur Kholis Masjid, Gusdur ada banyak tokoh.

“Sehingga mahasiswa menyadari bahwa perubahan membutuhkan tokoh-tokoh, mahasiswa berperan sebagai pendobrak. Saat ini agak sulit, partneralisme sangat kuat, junir ke senior. Dan untuk keluar dari Ketua-ketua Cipayung punya patron, info dari elit tidak akan membuat perubahan yang revolusioner,” jelas Savic.

Selain itu, lanjut Savic, kesalahan terbesar pemuda adalah bertanya pada senior, keberanian untuk mengambil keputusan sendiri hilang.

“Gus Im, adalah senior saya namun bukan patron Clien bagi saya, dia membiarkan juniornya mengambil kebijakan, selain itu Gusdur juga berlaku demikian tidak
98 membuat saya berteman dengan banyak orang,” tuturnya Savic.

Sedangkan menurut Manggata Todung Allo, narasumber lainnya bahwa Ia kurang setuju ada statment pemuda tidak melek politik.

“Aktivis di GMKI, saya katakan pada senior bahwa wadah anak muda saat ini. Aktivis saat ini harus mengambil keputusan yang berbeda. Untuk melawan hoaks saya bersama Forum Maki melalui lingkup saya, lawyer membentuk komunikatas anak kampung yang saat ini mulai di segani eksistensinya. Soal milenial di Toraja bingung soal isu korupsi yang menyangkut 41 orang dari total 50 lebih anggota dewan yang ada. Saya Tim Koordonasi, Milenial bukan kalian yang suka ngemall, yang keren juga milenial yang ke kebun sawit yang menarik kerbau di desa juga adalah milenial,” tutupnya

No Response

Leave a reply "PERAN PEMUDA MENJAGA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA PASCA PEMILU"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.