by

PIMPINAN PONPES DARUL FALAH KEMBANGKAN SENI MUSIK MARAWIS

Keterangan gambar : Group musik islami Marawis dari santriwan-santriwati yang dikembang oleh Ponpes Darul Falah Desa Pasar Ujung Batu, Kecamatan Sosa Kabupaten Palas, saat tampil unjuk kebolehan di satu kegiatan kemasyarakatan. (Maulana Syafii).
Keterangan gambar : Group musik islami Marawis dari santriwan-santriwati yang dikembang oleh Ponpes Darul Falah Desa Pasar Ujung Batu, Kecamatan Sosa Kabupaten Palas, saat tampil unjuk kebolehan di satu kegiatan kemasyarakatan. (Maulana Syafii).

PALAS detikperistiwa.com –-Dalam mempertahankan seni budaya Islam dan proses filterisasi budaya-budaya barat yang dikhawatirkan dapat merusak mental dan aqidah generasi muda, pihak pondok pesantren (Ponpes) Darul Falah, berlokasi di Desa Pasar Ujung Batu Kecamatan Sosa, Kabupaten Padang Lawas (Palas), mengembangkan seni musik marawis.

Tidak tanggung-tanggung, untuk guru pembimbing musik marawis ini, pihak ponpes mendatangkan dua orang tenaga pengajar dari Kota Sukabumi, Jawa Barat. Pasalnya, di Pulau Jawa, seni musik islma marawis sudah berkembang di seluruh ponpes yang ada, mulai tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah hingga aliyah. “Sejarah seni musik marawis berasal dari negara Timur Tengah. Menurut sejarah, awalnya seni musik marawis diperkenalkan pada saat Rasulullah SAW bersama para sahabat melaksanakan hijrah kedua dari Kota Makkah ke Kota Mafinah,” sebut Pimpinan Ponpes Darul Falah, Alustadz Mashuri Lubis, S.Sy, kepada wartawan, Minggu (22/1).

“Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat sampai di gerbang pintu Kota Madinah pada peristiwa hijrah kedua, anak-anak kaum Ansor menyambut para Muhajirin dengan membawakan lagu Tola’al Badru yang diiringi musik marawis. Mulai saat itu, seni musik Islam mulai dikenal,” sebutnya.

Sedangkan musik marawis masuk ke Indonesia, lanjutnya, dibawa oleh para habaib dari Timur Tengah yang berdagang ke Pulau Jawa sambil melakukan syiar Islam. “Setelah musik marawis dikenal oleh masyarakat muslim Indonesia di Pulau Jawa, selanjutnya perkembangan musik marawis dilakukan oleh para Wali Songo. Tentunya dengan kolaborasi alat musik Jawa,” paparnya.

Sementara, tambahnya, di daerah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), seni musik Islami yang banyak dikembangkan oleh pihak pengelola ponpes adalahjenis musik daerah quro dan qorik, yang merupakan kombinasi seni musik batak mandailing gondang sembilan.

“Di Kabupaten Palas, dari sebanyak 29 ponpes yang ada, hanya 2 ponpes yang mengembangk seni musik marawis ini, yakni Ponpes Darul Falah dan Ponpes Aljumhuriyah. Kita berharap, seni musik marawis ini bisa dikembangkan oleh ponpes lainnya di Palas,” ujarnya.

Untuk lebih memperkenalkan musik islam marawis ini, terang, pihak Ponpes Darul Falah sudah sering menampilkannya pada setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah, baik tingkat kabupaten maupun tingkat kecamatan.

“Di Kecamatan Sosa, group musik marawis kita sudah cukup dikenal, karena sering ditampilkan pada kegiatan-kegiatan kecamatan. Bahkan, masyarakat yang punya hajatan pesta, juga sering mengundang group marawis kita untuk mengisi hiburan secara Islami,” jelasnya.

Sementara, Alustadz Zainal Abidin, S. Sy dan alustadz Dede Suhendi, guru pembimbing musik marawis yang didatangkan dari Sukabumi ini, saat berbincang dengan wartawan menjelaskan, alur irama marawis lebih ke irama padang pasir dan lagu-lagu islami yang bernuansa arab.

“Alat marawis terletak pada 5 atau 6 orang yang memegangnya, didukung dengan alat musik lainnya, antara lain, alat musik dumbu dan kompang. Saat ini 1 group marawis di Darul Falah sebanyak 17 orang, terdiri 10 orang pengiring musik dan 7 orang vokalis,” ujarnya.

Menurut mereka, di Pulau Jawa, musik sudah berkembang mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah. Bahkan seni marawis sering diperlombakan secara rutin oleh pemerintah setempat.

“Even turnamen musik marawis rutin diperlombakan setiap tahunnya. Bahkan, beberapa lembaga atau perusahan tertentu, rutin menggelar perlombaan musik marawis. Bedanya marawis dengan seni qasidah, bukan hanya terletak di alat musik saja, tetapi juga alunan irama musiknya berbeda, yang lebih bernuansa arab,” pungkasnya. (Maulana Syafii)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed