by

Guru BK Wajib Berikan Sifat Optimisme dan Berfikir Positif pada Siswa yang Bermasalah

BOGOR – Melihat fenomena saat ini, dunia pendidikan dihadapkan dengan berbagai macam Melihan tantangan dan permasalahan. Diantara permasalahannya adalah timbulnya berbagai bentuk kenakalan remaja.

Bentuk kenakalan remaja itu sendiri ada berbagai macam, seperti sering terlambat/tidak disiplin, tidak mengikuti upacara bendera, tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak menggunakan atribut dengan lengkap, sering membolos sekolah, menggunakan topi dan jaket di lingkungan sekolah, sepatu berwarna-warni, seragam tidak dimasukkan, tidak memakai ikat pinggang, rambut gondrong/dicat, dan lain sebagainya.

Masa remaja sangat potensial untuk perkembangaan ke arah positif maupun negatif. Karena bagaimanapun, remaja dipandang dan dari segi apapun remaja dinilai, remaja merupakan suatu proses peralihan dari anak mejelang remaja (DARATJAT, 1975: 11).

Remaja adalah tahap peralihan dari masa kanak-kanak; tidak lagi anak, tetapi belum dipandang dewasa. Remaja adalah umur yang menjembatani antara umur anak-anak dan umur dewasa. Daratjat (dalam syafaat, 2008: 87).

Masa remaja ini disebut masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, pada periode tersebut terjadi perubahan-perubahan besar mengenai kematangan fungsi-fungsi rohani dan jasmani.

Terutama fungsi seksuil, yang sangat menonjol pada periode ini ialah : kesadaran yang mendalam mengenai diri sendiri, dengan nama orang muda mulai meyakini kemauan, fotensi dan cita-cita sendiri.

Dengan kesadaran tersebut, ia berusaha menemukan jalan hidupnya, dan mulai mencari nilai-nilai tertentu seperti kebaikan, keluhuran, kebijaksanaan, keindahan, dan sebagainya (Kartono, 1986: 149).

Oleh karena itu, edukatif dalam bentuk pendidikan dan bimbingan, pengarahan, maupun pendampingan sangat diperlukan, untuk menhgarahkan perkembangan potensi remaja tersebut agar berkembang ke arah positif dan produktif.

Generasi muda memang merupakan penentuan generasi di masa mendatang. Bisa dibilang bahwa corak perkembangan umat islam dan kemampuannya berkiprah dalam pembangunan di masa mendatang amat bergantung dari kualitas generasi muda sekarang (Rahman, 1991:254).

Demikian adanya pendidikan norma sangatlah dibutuhkan demi terwujudnya siswa yang berakhlak mulia dan usaha tersebut tidak akan terlaksana tanpa adanya peran serta dari guru bimbingan konseling.

Guru bimbingan konseling merupakan orang dewasa yang bertanggung jawab untuk memberikan pertolongan pada peserta didiknya dalam mengatasi masalah yang dihadapi para peserta didik dan senantiasa memberikan patuah-patuah yang bijak untuk menjadikan peserta didik ini siswa yang lebih baik dari hari sebelumnya, selain itu mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individual dan mandiri.

Seorang guru bimbingan konseling atau istilah modernnya seorang konselor harus mampu mengetahui kecakapan metode pendekatan yang harus digunakan untuk mengatasi masalah siswanya. Seorang konselor harus memiliki keharusan perasaan serta ia harus memiliki perhatian khusus dalam spesialisasi.

Sebagai konselor yang baik, ia harus selalu menyesuaikan diri dengan tingkat perkembangan situasi konseling (siswa) dalam proses konseling.

Guru berperan juga sebagai orang tua di sekolah, di pundaknya terpikul tanggung jawab utama keefektifan seluruh usaha pendidikan. Maka guru memikul beban dari orang tua untuk mendidik anak-anak.

Dalam hal ini selain sebagai pendidik di dalam kelas guru juga harus membantu peran orang tua untuk menjadikan putra-putri mereka menjadi orang yang berguna ke arah positif, dan mematuhi sebagai norma-norma yang ada di sekolah maupun norma sosial.

Maka dari itu seorang guru bimbingan konseling harus mampu memberikan dan menanamkan nilai-nilai spritual dan sosial kepada para anak didiknya supaya dalam pengembangan keilmuannya tidak disertai dengan kecurangan atau penyimpangan yang mungkin terjadi.

Guru juga mampu menjaga kewajibannya, baik segi pengetahuan, kesopanan, metode penyampaian, sampai ikatan emosianal yang harmonis dengan siswa akan mempengaruhi siswa tersebut dalam mengikuti proses pembelajaran.

Hal inilah yang terjadi dasar peneliti untuk melakukan penelitian mengenai cara yang dilakukan oleh seorang guru untuk membimbing para peserta didiknya menuju ke arah yang positif dengan menghindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin akan dilakukan oleh para peserta didiknya.

PEMBAHASAN

Mempersepsi tidaklah sama dengan memandang benda dan kejadian tanpa makna. Yang dipersepsi seseorang selalu merupakan ekspresi-ekspresi, benda-benda dengan fungsinya, tanda-tanda serta kejadian-kejadian.

Leavitt berpendapat bahwa, “persepsi merupakan pandangan atau bagaimana seseorang memandang atatu mengartikan sesuatu” (Sobur, 2003). Persepsi berasal dari sudut pandang yang berbeda-beda tergantung subjek yang mempersepsi.

Ada beberapa anggapan yang perlu dibenarkan mengenai bimbingan konseling di sekolah, baik dari siswa maupun dari guru. Berikut beberapa penjelasannya :

  1. Siswa yang bermasalah saja yang didatangkan kepada guru BK. Sering kali hanya siswa yang mempunyai masalah dengan peraturan sekolah yang menjadi bulan-bulanan guru BK.

Ketika ada suatu yang bersangkutan langsung dihukum oleh guru BK, dan jika ia mengulanginya maka ia akan menjadi langganan guru BK.

  1. Guru BK adalah momok bagi siswa. Guru BK yang selama ini dianggap sebagai seorang yang selalu memberikan hukuman, pelanggaran hingga skors yang pantas bagi siswa yang bermasalah.

Para siswa takut terhadap guru BK, berurusan dengan guru BK sama halnya bertemu dengan hantu. Berurusan dengan guru BK adalah mimpi buruk bagi siswa.

  1. Para siswa tidak mau mengerti dan memahami tentang apa sebenernya BK dan seberapa perlu guru BK di sekolah. Para siswa ketika diberikan sosialisasi masalah bimbingan konseling kurang bisa memahami tentang BK di sekolah.

Mereka mendapat informasi-informasi negatif yang telah lalu dan membudaya di kalangan siswa. Sebelumnya adanya sosialisasi itupun mereka sudah mempunyai anggapan negatif terhadap guru BK.

  1. Tampilan yang kurang familiar. Tampilan guru BK mungkin selama ini monoton seperti itu saja. Bahkan, beberapa guru BK disekolah tampilannya memang menakutkan bagi para siswa. Tampilan disini maksudnya ialah tampilan secara fisik maupun psikis.

Guru BK di sekolah tampil dengan penuh menjaga kewajiban terhadap para siswa. Kewajiban memang perlu, namun langkah baiknya jika kewajiban itu tidak menjadikan jarak yang semakin jauh dengan para siswa.

  1. Publikasi yang komutif dan menarik. Publikasi ini juga disebut sosialisasi bimbingan konseling. Hal sering terjadi ialah sosialisasi ini dilaksanakan hanya satu tahun sekali, bahkan satu kali pada awal masuk sekolah di jenjang yang bersangkutan.

Sosialisasi itu hanya berisi pemberitahuan saja tanpa mengajak audiens untuk bertanya ataupun sedikit berdiskusi masalah bimbingan konseling.
 
Berikut langkah-langkah dari pembelajaran sosial emosional :

• Memahami emosi : memperkaya kosakata mengenai emosi, mendefinisikan emosi, dan memahami ekspresi emosi yang tepat.
• Berdamai dengan rasa marah: memahami dan mengatur rasa marah.
• Memahami oerasaan orang lain : mengajarkan empati dan memahami perspektif orang lain.
• Berfikir jernih : mengidentifikasi keyakinan maladaptif dan kemudian mengubah keyakinan tersebut, juga mengubah kesalahan berfikir.
• Berfikir positif : mengajarkan optimis dan berfikir positif.
• Mengatasi permasalahan orang lain : keterampilan interpersonal unntuk memecahkan konflik orang lain.
 
Pada artikel ini kita harus mengetahui faktor-faktor penyebabnya, konselor dapat sedikit tahu bagaimana kondisi permasalahan siswa yang menjadi proses kelanjutan konseling dapat lebih mudah dilakukan. Pendekatan supaya siswa yang membolos mau menerima arahan dari konselor.

Bagaimana jika anak tersebut tertutup? tidak mau menceritakan permasalahan mengapa ia membolos, berkelahi, jahil dan lain sebagainya.

Maka konselor denga cara lain yaitu dengan menanyakan ke teman dekatnya. Begitu semua informasi yang diperlukan telah diperolah maka konselor mengambil tindakan preventif dan pengobatan.

Tidak teraturnya anak tidak masuk sekolah tidak sepenuhnya terletak pada siswa. Ada banyak sebab yang terletak di luar kekuasaan anak, atau yang kurang dikuasai anak. Jadi kegiatan membolos, berkelahi, jahil dan lain sebagainya semuanya tidak sepenuhnya kesalahan siswa.

Ada faktor dari luar yang juga turut adil dalam permasalahan tersebut. Oleh karena itu, tugas guru BK selain memberi arahan pada siswa juga mengkondisikan lingkungan sekolahnya sebaik mungkin supaya siswa merasa nyaman berada di sekolah.

Selain itu, konselor juga selalu menjalin komunikasi dengan siswa. Kemudian, dari sekolah juga dapat membuat kebijakan yang lebih ketat lagi mengenai peraturan sekolah.

Dengan memberikan peraturan yang membuat siswa jera. Dengan menerapkan disiplin yang tinggi, dapat membuat siswa lebih rajin dan disiplin.

Dalam hal ini, permasalahan kenakalan anak tidak boleh dibiarkan begitu saja. Berkaitan dengan hal itu kita membantu siswa mencapai tujuan-tujuan perkembangannya dan mengatasi permasalahannya, maka segenap kegiatan perlu diarahkan kesana.

Di sinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling di samping kegiatan dan pengajaran. Dan pelayanan bimbingan dan konseling merupakan peran yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling.

PENUTUP

Menyadari akar permasalahan yang dialami anak bersumber kesalahan berfikir (distorsi kognitif). Memperbaiki kesalahan yang mengajarkan kosakata baru tentang berbagai ekspresi emosi, dan beberbagai alternatif solusi jika mengalami emosi negatif, sehingga anak memiliki kemampuan berfikir positif terhadap permasalahan yang dihadapinya.

Memberi motivasi sepanjang proses intervensi, agar anak dapat menyelesaikan intervensi dengan baik. Memberikan peringatan kepada siswa, bimbingan secara individu maupun kelompok, dan memberikan hukuman kepada siswa.

REFERENSI

Husen madhal, dkk., hadits BKI bimbingan konseling islam, (Yogyakarta: UIN sunan kalijaga, t.t.)

Kumara Amitya. Mengenal dan mengagumi emosi pada siswa. Yogyakarta: Pt kanisius 2018.

Prayitno. 2004. Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta: Rineka cipta.

Tohirin, 2009. Bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah. Jakarta: rajawali press.

Winkel, 2005. Bimbingan dan konseling di institusi pendidikan, edisi revisi, jakarta: Gramedia.

Oleh : Dela Maulidah – Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Ummul Quro Al-Isoami (IUQI) Bogor

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed