by

WEJANGAN BUNG AMIN RAIS: SAATNYA KAUM MUDA MEMIMPIN

By: Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

JAKARTA – Saya ketemu Bung Amin Rais dibeberapa tempat: pertama, di Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Lampung, tahun 2008. Saya secara langsung mendengar wejangan Bung Amin Rais tentang: “Kepemimpinan Kaum Muda Mewujudkan Welfare State.” Itu tema sentral Muktamar IMM di Lampung. Sempat salaman, setelah menunggu diruang tunggu sebuah hotel di Lampung.

Kemudian, kedua: secara khusus saya berkomunikasi ke Yogyakarta akhir tahun 2008 dengan Bung Deni Al-Asy’ari untuk pengantar sebuah buku pertama saya berjudul: “Kepemimpinan dan Gerakan Kaum Muda dalam Mewujudkan Welfare State.” Buku terbit tahun 2008, pengantar Amin Rais. Sesi ini saya ketemu di pemikiran melalui kata pengantar dan saya menilai Amin Rais seorang pelopor, pemikir, dan tokoh perubahan dunia.

Ketiga: pertemuan ini, benar-benar ketemu. Dikantor PP Muhammadiyah tahun 2011. Sebelumnya saya selalu minta waktu ingin bertemu, sejak 2008 hingga 2010 tapi kadang tak ada waktu, katanya. Pertemuan dipengajian 2011 itu, sempat salaman, berdiskusi, mencerna, menganalisa, menilai dan memberi semangat karena Amin Rais sudah kelihatan semakin tua. Tetapi pemikirannya tetap masih kaum muda. Bahkan saat ini mengalahkan kaum muda progressifnya.

Dibeberapa kesempatan, saya mengamati Amin Rais: sepak terjangnya luar biasa. Mungkin pikiran pemberontak itu selalu muncul ke media dan dibully oleh semua manusia kerdil yang tidak suka kepadanya.

Dalam buku saya, Bung Amin Rais: “memberi pengantar sedikit, namun berkesan dan seolah membakar semangat. Pengantarnya berjudul: “Saatnya Kaum Muda Memimpin.” Pengantar ini sama judulnya dengan ceramah iftitah yang disampaikan saat Muktamar IMM di Lampung.

Buku saya yang pernah diterbitkan tahun 2008 itu, berjudul: “Kepemimpinan dan Gerakan Kaum Muda Dalam Mewujudkan Welfare State, Penerbit Kibar Press Yogyakarta Kerjasama Universitas Muhammadiyah Mataram, Halaman – 1-2). Mengapa Amin Rais harus menekan pemuda sebagai gayap dan gayung perubahan?. Tentunya, bagi Bung Amin Rais, bahwa kaum muda merupakan pilar panting dalam setiap perubahan, sebab kaum muda dalam melakukan aktivitas maupun geraknya selalu didominasi oleh nilai-nilai idealisme dan moralitas yang tinggi.

Amin Rais juga dinilai sangat tepat jika ia membangun optimisme bangsa Indonesia dalam melakukan perubahan dengan melibatkan kaum muda di dalamnya. Karena, tidak dapat dipungkiri bahwa kaum muda lah yang memiliki semangat yang menggelora, semangat untuk melakukan perubahan dan semangat untuk menghadirkan scsuatu yang baru dalam hidupnya.

Secara psikologi kaum muda lebih berani mengambil resiko daripada golongan tua. Namun, hari-hari pemilu 2019 Indonesia, serasa situasi terbalik, perkembangannya malah dominasi Kaum Tua (lanjut umur) untuk melakukan perubahan. Faktanya: Abdullah Hehamahua (70 tahun) dan Amin Rais (menuju 80 tahun) masih kuat memimpin barisan demonstrasi untuk keadilan dan kebenaran.

Lalu situasi dan sistem politik Indonesia saat ini terjadi berbagai kecurangan, pemalsuan, kebohongan dan penghianat, kemana kaum muda?. Masihkah progressif dan menggebu-gebu?.

Rupanya, Ceramah Amin Rais di Muktamar IMM di Lampung 2008 itu tak berlaku, bahwa: “suatu bangsa mengalami kejayaan karena dipimpin oleh kaum muda, misalnya saja Nabi Muhammad Saw yang diangkat ebagai seorang Nabi pada usia 4O tahun yang nyatanya relatif masih muda. Begitu pula saat bangsa ini merebut kemerdekaan, capaian cita-cita kemerdekaan bagi bangsa yang terjadi di Indonesia tidak luput dari peran kaum muda, seperti gerakan Budi Oetomo (I908), Sumpah Pemuda (1928), perjuangan kemerdekaan (1945), sampai gerakan reformasi (1998).”

Amin Rais juga sangat berkaitan peran dan keterlibatannya dengan kaum muda. Namun untuk saat sekarang, apakah kaum muda Indonesia masih berada di garis terdepan dalam pembangunan dan perubahan yang ada dalam bangsa ini?.

Dalam banyak pandangan, belakangan ini keberadaan Amin Rais banyak diBulliying, dihinakan, difitnah, dan dianggap tua renta bau tanah. Sungguh musibah bagi para penghina, karena hanya soal beda pandangan dan dukungan politik, harus memfitnah dan mencaci maki seorang yang telah mengabdi dan membawa angin perubahan 1998 bagi bangsa Indonesia.

Padahal, faktanya kaum muda saat ini hanya masih menikmati proses perubahan bangsa, itupun baru sebatas mendorong, dan belum mempunyai kesempatan untuk membangun negeri ini.

Catatan diatas untuk ke depannya tentu harus ada perubahan. Jika kaum muda saat ini tidak mampu untuk mereformulasikan gerakannya dengan membuat prioritas-prioritas dan ukuran yang strategis dalam satiap gerakan yang dilakukan. Maka, jelas keadilan dan kebenaran tak mungkin tegak. Minimal kaum muda saat ini, malu dengan Abdullah Hehamahua dan Amin Rais.

Terakhir, wejangan Amin Rais untuk kaum muda bahwa “jika hal yang demikian bisa dimulai oleh kaum muda, maka sejarah akan mencatat bahwa kaum muda Indonesia tidak sekedar mampu mendorong perubahan saja, melainkan juga mampu membangun negeri ini menjadi lebih baik, lebih beradab, dan lebih terhormat. Untuk itu, ke depan tidak ada jalan lain sebagai solusi untuk melakukan perubahan bagi bangsa kecuali dengan tampilnya kepemimpinan kaum muda yang lebih visioner, progresif; moralis dan memiliki keberanian dan komitmen kerakyatan.”

Semoga Bung Amin Rais sehat selalu dan diberikan kesehatan serta kenikmatan oleh Allah swt. Amin.[] Wallahualam bissawab

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed