by

Mariculture, Harapan Indonesia Dalam Mendulang Devisa

 

Semua tahu bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami masa yang paling berat. Defisit neraca perdagangan terburuk sepanjang sejarah, akibat ekspor turun dan impor naik.

Sebagai sarjana Perikanan dan pegiat Marine culture tentu tertarik menawarkan solusi untuk mendulang devisa dan mengurangi defisit, yaitu dengan mendorong peningkatan komoditas hasil budidaya laut yang berorientasi ekspor.

Peluang pasar produk hasil perikanan budidaya sangat besar, FAO telah memprediksi pada tahun 2024 pasar seafood dunia meningkat mencapai 240 juta ton dan dari jumlah tersebut 160 juta diantaranya adalah dari Perikanan Budidaya.

Baru-baru ini Wajan Sudjana yang juga sebagai Ketua Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (ABILINDO) juga melansir data kebutuhan komoditas kepiting di pasar China, bisa mencapai 400.000 ton/bulan. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para pelaku usaha budidaya kepiting di Indonesia, selama lima tahun terakhir volume ekspor kepiting dan rajungan masih sangat kecil yaitu kurang dari 30.000 ton/tahun.

Dengan harga rata-rata seafood mencapai USD 4.000/ton, ini menjadi peluang yang begitu besar bila dibandingkan dengan peluang sektor perkebunan seperti hasil Minyak sawit dengan rata-rata harga USD 512/ton atau sektor migas dengan harga rata-rata crude oil yang hanya USD 56/barel.

Oleh karena itu, Marine culture harus segera menjadi tumpuan Indonesia dalam mendulang devisa negara. Produk-produk perikanan laut harus terus digenjot, dengan menaikkan kuantitas sekaligus juga menjaga kualitas produk dan memangkas sistem perijinan.

Sebagai contoh sulitnya perijinan dalam pemanfaatan komoditas unggulan seperti Kepiting, Rajungan dan Lobster untuk membantu peningkatan devisa negara juga masih terhambat oleh Permen KP Nomor 56 tahun 2016 yang diterbitkan oleh Menteri Susi Pudjiastuti.

Padahal secara teknologi pembesaran untuk Kepiting, Rajungan dan Lobster sudah banyak dikuasai oleh pelaku usaha di Indonesia dan tinggal di kembangkan dengan dukungan riset dari Pemerintah. Bahkan untuk budidaya kepiting saja sudah dikenal berbagai teknologi budidaya mulai sistem silvofishery sampai teknologi sistem intensif yang dapat dilakukan di gedung perkotaan.

Jika Pemerintah ingin serius menjadikan komoditas Hasil Budidaya Laut sebagai tumpuhan ekonomi Indonesia maka Pemerintah hanya perlu melakukan pembenahan regulasi dan memperbanyak riset pembenihan untuk ketersediaan benih unggul dari berbagai komoditas unggulan untuk kemudian bisa dikembangkan oleh para pelaku usaha.

Pengalaman berharga dari gagalnya mega proyek KJA Offshore milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan target panen 2.400 ton/tahun yang berlokasi di Pangandaran, Sabang dan Karimunjawa dengan dana APBN sebesar 131,4 Miliar cukup menjadi pelajaran berharga bahwa sejatinya Pemerintah tidak perlu repot dalam mengurus urusan produksi dan cukup serahkan urusan produksi kepada para pelaku usaha dan pengiat akuakultur.

Sehingga harapan untuk mengaktifkan kembali pemanfaatan budidaya laut secara maksimal akan segera tercapai melalui kolaborasi yang pas antara Pemerintah sebagai penyelenggara layanan publik dan Pelaku usaha sebagai produsen.

Penulis : Afan Arfandia, S.Pi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed