by

SURIMI MERAKYAT DAN HARAPAN INVESTASI

 

By: Rusdianto Samawa, Alumni FISIP Universitas Muhammadiyah Mataram

BONE MENUJU SIDRAP – Perusahaan surimi di Indonesia telah membuktikan keberpihakannya kepada negara dengan banyak membina nelayan-nelayan di berbagai daerah sesuai kemampuan yang mereka miliki. Bukti keberpihakan Surimi kepada negara Indonesia adalah pendirinya asli Indonesia, pekerjanya hingga ABK, nahkoda maupun pemilik kapal binaannya, semua Indonesia asli. Terlepas dari agama dan suku mereka menjadi pengusaha surimi.

Selama investigasi ke perusahaan surimi yang tutup dibeberapa daerah, semua pekerjanya masyarakat lokal, regional dan internasional, belum pernah saya melihat orang asing. Surimi perusahaan lokal bersifat padat karya. Tentu kalau tergolong padat karya, sudah jelas dimensi gotong royong antara nelayan, pengusaha dan pendidikan atas pengetahuan nelayan sudah pasti ada. Pendidikan inilah yang terus dilakukan perusahaan Surimi.

Selama perusahaan surimi mampu memberikan reward dan imbalan yang cukup dalam memenuhi kebutuhan nelayan, maka sudah memenuhi ketentuan sebagai perusahaan pengolahan ikan karena telah memberi dampak kesejahteraan bagi nelayan. Namun, dari ketentuan tersebut, selama ini pemerintah terkesan memusuhi perusahaan surimi dan nelayan alat tangkap yang dilarang, anggapan itu sangat merugikan nelayan dan pelaku usaha yang bergerak disektoral pengolahan ikan.

Sebetulnya surimi tidak pernah merugikan pemerintah, baik dari aspek fishing maupun ekonomisnya. Surimi adalah daging ikan yang dihaluskan sehingga bisa dijadikan aneka tiruan makanan laut. Bahannya mudah diperoleh. Surimi diproses melalui pencucian, penggilingan, pengemasan, dan pembekuan. Daging ikan dipisahkan dari seluruh tulang dan kulit, lalu digiling dan diberi es batu agar adonan tetap dingin. Cara ini tidak menghilangkan proteinnya. Di Indonesia surimi banyak diproses menjadi empek- empek, otak-otak, dan bakso ikan.

Industri surimi melahirkan banyak pengusaha sukses. Namun karena menyangkut kebersihan, kandungan gizi, dan proses produksi, teknologi modern untuk menghasilkannya harus dikuasai benar. Umumnya Surimi memiliki perencanaan strategis berskala besar serta berhubungan langsung dengan pihak luar. Para manajer di perusahaan surimi selalu berhadapan dengan perubahan lingkungan yang sangat cepat dan radikal, maka perusahaan sudah disiapkan dan dilengkapi perencanaan strategis agar bisa meningkatkan daya saing, yang pada gilirannya mampu meningkatkan penguasaan pasar (market share).

Perubahan-perubahan yang harus diantisipasi oleh perusahaan surimi agar dapat memenuhi bahan baku masa-masa mendatang, diantaranya (a) melakukan antisipasi perubahan masa depan, baik perubahan di bidang ekonomi, sosial, maupun politik, (b) perubahan di bidang Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang sangat cepat, (c) perubahan nilai-nilai dalam masyarakat sejalan dengan perkembangan lingkungan, (d) perubahan pasar/persaingan bebas yang harus dihadapi sebagai sesuatu yang pasti terjadi.

Permasalahan utama yang dihadapi ada pada pengelolaan bahan baku yang ketersediaannya kurang memenuhi kebutuhan yang ada. Karena pemerintah tergolong memusuhi perusahaan Surimi. Bahan baku utama adalah ikan demersal yang diperoleh dari hasil penangkapan ikan nelayan cantrang dan alat tangkap lainnya yang cocok. Ikan cantrang yang diolah perusahaan Surimi yang sangat populer dan tidak asing bagi masyarakat Indonesia.

Pada saat yang bersamaan, pemerintah dituntut harus terus memperbaiki kebijakan demi meningkatkan taraf hidup nelayan dan investasi di sektor perikanan. Kebijakan ini antara lain dibukanya investasi dibidang industri pengolahan, penyediaan fasilitas penangkapan, penyimpanan dan pengolahan ikan seperti kapal modern dan cold storage, hingga menggenjot pembiayaan oleh perbankan.

Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, realisasi ekspor ikan tahun lalu hanya menyentuh angka US$ 4 miliar dari target US$ 5,8 miliar. Penurunan tersebut selain diakibatkan oleh pelambatan ekonomi dunia juga disebabkan oleh hilangnya 1.132 kapal eks asing dari laut Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan, ekspor ikan ke Cina dan Thailand mengalami penurunan sebesar 17 persen dan 41,72 percent. Pada 2015, importir terbesar produk perikanan Indonesia masih didominasi AS. Negara ini menyumbang 41% dari total ekspor perikanan, diikuti oleh Jepang (16%). Eropa (12%) dan negara-negara ASEAN (11%).

Untuk 2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia menetapkan target pertumbuhan produksi ikan hasil tangkap sebesar 2,4% menjadi 6,45 juta ton sedangkan pertumbuhan produksi ikan hasil budidaya ditargetkan naik sebesar 8,72% menjadi 19,5 juta ton. Target ini diharapkan akan tercapai mengingat luasnya wilayah budidaya ikan di Indonesia yang sebagian besar masih belum digunakan. Saat ini ada 11,8 juta hektar untuk budidaya ikan di air laut, 2,3 juta hektar untuk budidaya ikan di air payau, dan 2,5 juta hektar untuk budidaya ikan di air tawar. Selain itu, pertumbuhan ikan hasil tangkapan di Indonesia juga diharapkan berkembang sehingga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan populasi ikan.

Peluang investasi asing maupun domestik di sektor perikanan Indonesia sangat terbuka lebar. Menurut Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), total kebutuhan investasi perikanan tangkap tahun 2015-2019 mencapai Rp 127 triliun. Adapun total kebutuhan investasi perikanan budidaya selama periode yang sama Rp 320,73 triliun.

Untuk 2016, kebutuhan investasi di sektor perikanan tangkap mencapai Rp 23 triliun. Sementara kebutuhan investasi di sektor perikanan budidaya diperkirakan mencapai Rp 29,97 triliun. Peluang bagi masuknya investor asing maupun lokal kian terbuka lebar karena perbankan domestik umumnya masih enggan masuk ke sektor perikanan.

Sejumlah peluang investasi yang potensial di sektor perikanan antara lain perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan, sistem rantai dingin, dan pegudangan. Namun, tidak semua bidang industri perikanan terbuka bagi asing. Ke depan, pemerintah berencana melarang investasi asing di industri tangkap. Asing hanya diperbolehkan berinvestasi industri pengolahan ikan yaitu di wilayah barat 40 persen dan timur 60 persen. Sedikitnya, ada enam bisnis potensial yang terbuka untuk investor asing dan domestik yaitu pembekuan ikan, lumatan dan surimi, pengawetan ikan kaleng, pengawetan udang, pembekuan biota air lainnya dan pengawetan biota air lainnya.

Pemerintah pun telah menyiapkan empat kebijakan pendukung bagi investasi di kawasan ekonomi khusus dan bidang tertentu. Pertama, insentif pajak penghasilan berupa pengurangan PPH sebesar 5% per tahun selama 6 tahun, keringanan pajak pertambahan nilai berupa bebas pungutan PPN untuk barang kena pajak, fasilitas kepabeanan berupa bebas bea masuk untuk impor barang dan modal, dan pemangkasan birokrasi melalui perizinan satu pintu Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed