by

SURAT UNTUK IBU SUKMAWATI SOEKARNO PUTRI

Dari: Adiansyah Dompu

Di nama Ibu, ada nama Tokoh besar Indonesia, bahkan tokoh besar dunia, tokoh yang pernah menggetarkan sanubari Negara-negara yang beliau sebut dengan nama Nekolim, penjajah gaya baru yang menghisap negara-negara dunia ketiga. Bahkan PBB pun sangat segan kepadanya.

Ya, nama itu adalah SOEKARNO…
Tidak terelakkan bahwa beliau adalah ‘Founding Father’ Negeri ini, seorang Proklamator Bangsa. Amat susah untuk mencari tokoh Negeri ini yang melebihi beliau. Bahkan, sangat jarang ada tokoh dunia di abad 20 yang setara dengan beliau, mengingat pengaruhnya terhadap Bangsa ini dan dunia pada umumnya…

Bu Sukmawati…
Suatu saat beliau pernah berpidato dengan sangat lantang pada perayaan Maulid NABI MUHAMMAD di Jakarta pada tahun 1963.
Saya ingin berbagi dengan Ibu isi Pidato Bung Karno tersebut:

“Kita selalu merayakan Maulud, Maulud Nabi.
Apa sebenarnya yang kita rayakan?
Bukan sekadar Muhammad-nya.
Bukan sekadar dia itu dulu Nabi.
Tidak…

Yang kita kerjakan sebenarnya ialah Ajaran, Konsepsi, Agama yang Ia berikan kepada Umat. Diberi oleh Tuhan via malaikat Jibril kepada Rasul, Rasul meneruskan lagi kepada umat yaitu kita.
Itu yang kita rayakan…

Oleh karena itu, maka kita berkata jikalau benar-benar engkau cinta Muhammad, jikalau benar-benar engkau merayakan maulud Muhammad bin Abdullah, jikalau benar-benar engkau merayakan Rasulullah, yang punya hari maulid…
Kerjakanlah apa yang dia perintahkan.
Kerjakanlah apa agama yang dia bawa.
Kerjakan sama sekali.
Agar benar-benar kita bisa berkata:
Kita telah menerima daripada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW…”

Bu Sukmawati…
2 tahun sebelumnya, Soekarno, Ayahanda Ibu tercinta, pada peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jakarta, 6 Maret 1961 pernah berpidato juga. Ini isi pidatonya Bu…:

“Tatkala Jibril berkata kepada Nabi kita:
‘Iqra, Iqra, Iqra’…
Bacalah, bacalah, bacalah…
Gemetarlah Nabi beberapa kali, bahkan pun sesudah Nabi mengikuti ucapan dari pada Jibril ini.
Beliau pulang masih gemetar, masih beliau berkata kepada Khadijah:
Ya, Khadijah, aku takut…
Apakah oleh sebab Jibril berkata kepadanya? Tidak, tetapi oleh karena Qur’an ini adalah satu mukjizat yang amat hebat.

Setiap kali Nabi mendapat wahyu, kalimat-kalimat dari Qur’an itu, Nabi sampai keluar keringat dan gemetar, itu sudah cukup menjadi bukti bahwa Kitab Al Qur’an adalah satu mukjizat yang sehebat-hebatnya.

Maka oleh karena saudara-saudara, kita, kita sekarang ini, ya Sukarno, ya Muljadi Djojomartono, ya Idham Chalid, ya Sudibjo, ya Hidayat, ya Sumarno, ya Sri Sultan, ya kita semuanya, sedang Nabi Muhammad SAW tiap-tiap kali dia mendapat wahyu dia gemetar, kok kita kadang-kadang mendengar Qur’an itu sambil goyang kaki.”

Bu…
Bagi Soekarno, Nabi Muhammad adalah sebaik-baik manusia. Pemimpin tertinggi sepanjang zaman. Dan demikian juga seperti halnya saya dan ibu, yang jika membaca sejarah hidup Sang Rasul, tetes air mata itu tidak bisa tidak pasti akan jatuh. Semua karena betapa mulianya kehidupan dan misi beliau bagi kemanusiaan.

Ibu…
Saat Perjuangan kemerdekaan RI, betul, Nabi Muhammad tidak hadir secara fisik. Betul, bahwa Soekarno adalah salah satu tokoh yang memerdekakan Indonesia. Dan apakah Ibu tau kenapa mereka berjuang?

Saat itu, dalam dada seorang manusia Indonesia yang terjajah, pun dalam dada setiap muslim, muncul tekad untuk MERDEKA dari Penjajahan. Ibu tau darimana tekad itu datang? Semua dari KEIMANAN yang tinggi Bu, keimanan yang diajarkan dan ditanamkan oleh Rasulullah dalam dada setiap muslim. Rasulullah hadir dalam dada Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir dll. Dan dengan spirit itu semua muncullah gerakan memerdekakan Indonesia.

Ibu…
Saya ingin kutip pidato ibu beberapa hari yang lalu…:
“Sekarang Saya mau tanya, yang berjuang di abad 20 itu nabi yang mulia Muhammad atau Insinyur Soekarno? Untuk kemerdekaan Indonesia…?”

Bu…
Saya bisa membayangkan pasti Ayahanda Soekarno kecewa dengan pertanyaan anda itu Bu. Sebuah pertanyaan yang konyol dan tidak pantas ditanyakan. Para Nabi, jangan pernah dibandingkan dengan manusia biasa, setinggi apapun pangkat dan jabatannya.
Saya bisa membayangkan jika beliau masih hidup, Ibu akan dipanggil di ruang keluarga dan dengan lembut akan menjelaskan ke Ibu bahwa seorang Soekarno itu bagaikan setitik debu jika dibandingkan dengan padang pasir kemuliaan Rasulullah…

Oh iya Bu…
Mungkin cerita berikut akan menyadarkan Ibu dan mengingatkan saya dan semuanya tentang betapa tingginya derajat Rasulullah dimata Soekarno…:

Pada tanggal 18 Juli 1955, Presiden Soekarno menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Beberapa hari kemudian beliau berada di kota Suci Madinah.
Kepada Raja Saudi, Bung Karno bertanya:
“Di mana makamnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam wahai Raja?”

Raja Saudi menjawabnya:
“Oh itu makam Rasulullah sudah terlihat dari sini.”

Maka saat itu juga Presiden Ir. Soekarno melepaskan atribut-atribut pangkat kenegaraanya.
Hal ini membuat Raja Saudi terheran-heran, lalu bertanya:
“Kenapa Anda melepaskan itu semua?”

Bung Karno menjawab:
“Yang ada di sana itu Rasulullah. Pangkatnya jauh lebih tinggi dari kita, saya dan anda.”

Lantas kemudian Bung Karno berjalan merangkak sampai ke makamnya Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Itulah bentuk penghormatan yang tinggi dari seorang Pemimpin Besar revolusi Indonesia terhadap Rasulullah SAW.

Saya marah tapi tidak mau marah pada Ibu.
Saya juga tidak ingin memaki-maki Ibu karena membandingkan Rasulullah dengan Soekarno, Ayah Anda.
Tapi malam ini saya berdoa semoga Ibu diampuni dan dirahmati oleh Allah SWT.

Wajah Mulia itu terbayang kembali di pelupuk mata saya, wajah yang tersenyum indah. Semoga Ibu dibelai oleh kemuliaan Rasulullah.

Shalawat dan Salam untuk beliau…

Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad.
Salam untukmu wahai Penghulu semesta…

Lereng Merapi,
16112019
-AD-

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed