by

GAJI PETANI TUAK POHON KELAPA LEBIH BESAR DARI UMP SUMUT

DELI SERDANG-Memang, usaha apapun, kuncinya sabar, ulet, serius dan tekun, terbukti petani tuak Pohon Kelapa di Desa Jati Kusuma, Kecamatan Namo Rambe, Kabupaten Deli Serdang, bisa bergaji sebesar Rp 4 juta perbulan, tentu ini melebihi Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara (Sumut) Rp 1.811.875
Profesi Petani  Tuak (Sari)  Pohon Kelapa ini, menjadi kesibukan sehari-hari bagi Hakim Warga Jati Kusuma, mengakui kalau Dia ada 10 pokok Kelapa milik orang lain, setiap bulan perbatangnya dikontraknya sebesar Rp 20 ribu, dari sini dirinya bertahan hidup termasuk anak dan istrinya.
” Sebenarnya, apapun usaha yang penting, kita sabar dan giat pasti berhasil, tapi kalau mengenai keuangan dengan saya punya flosofi hidup,  ‘yang ada anggap tidak, jika tidak ada, kita harus bekerja supaya bagaimana ada’,” tukasnya, Rabu (5/4).
Hakim, sendiri, menggeluti usaha jadi Petani Tuak Kelapa, baru sekitar 4 tahun lamanya, dirinya bisa menjual 1 botol tuak yang murni ke agen sebesar Rp 10 ribu per liter. Bahkan teman-teman juga bisa menikmati itu secara gratis jika bertandang ke rumahnya.
“Kalau bagusnya memang, jual tuak ini harus punya fakter (Kedai tuak) sendiri, karena yang banyak untungnya dari penjualan Tambul (Makanan selingan bagi peminum tuak, seperti ayam goreng, sup kerang, telor goreng dan lainnya), bisa kita menjual Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu per porsi,” ungkapnya.
Menurut Hakim, jika minum tuak, tapi tidak berlebihan tidak akan ada efeknya bagi peminumnya, bahkan akan bertambah sehat, jika dibandingkan dengan minuman beralkohol lainnya. Tapi akhir-akhir ini banyak petani yang nakal, mencampur dengan air supaya pendapatanya banyak.
” Tapi kalau dirinya, tuaknya masih asli,  sehingga jika diminum masih bisa menyehatkan peminumnya, tergantung Raru (Sejenis Pengawet atau campuran air tuak, supaya yang meminum mabuk terbuat dari kulit kayu) apa yang keras atau biasa-biasa,” bebernya.
Hakim sendiri, mengakui dari 10 pokok kepala yang dideres (Sadap)-nya, bisa menghasilkan uang minimal Rp 800 ribu perpekannya. “Hal itu kita rutin mengambilnya dua kali sehari, yakni pagi dan sore,” ujarnya.
Dirinya, hanya berharap supaya ada bantuan dari pemerintah, baik Pemkab Deli Serdang dan Pemprovsu  berupa anggaran pembinaan bagi petani tuak kelapa, sehingga kelanggengan usaha berjalan dengan baik.
” Sebab pohon kelapa yang dideres itu juga, butuh perawatan supaya airnya tetap banyak keluar, baik itu pupuknya, termasuk obat-obatan supaya pucuk kelapa itu tidak dimakan ulat,” tutupnya mengakhiri. (Mauliddar Siregar)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed