by

STAIBAR SIBUHUAN GELAR SEMINAR INTERNASIONAL

PALAS-Mengusung tema, mengokohkan pemahaman islam ala manhaj Aswaja di tengah tantangan ideologi global, Sekolah Tinggi Agama Barumun Raya (STAIBR) menggelar kegiatan Seminar Internadional, dengan menghadirkan pembicara utama DR. Syaik Fadi Alamuddin Albeiruty Dosen Global University  Lebanon, bertempat di gedung aula STAIBR, Rabu (12/4).

“Tujuan digelarnya seminar internasional ini adalah, sebagai study banding bagi kaum muslim di Indonesia yang menganut faham Aswaja khususnya dan masyarakat secara umum, agar tidak mudah menerima faham-faham baru yang belakangan ini kian marak berkembang, ternyata merupakan faham radikalisme,” ungkap Pimpinan STAIBR Drs. H. Syafaruddin, MA didampingi Ketua Panitia, Ismail Nasution, Lc, MTH

“Seperti yang terjadi di negara-negara Arab, hanya karena perbedaan faham, sampai terjadi perang saudara. Selain itu, faham-faham baru yang cenderung radikal tersebut, sangat mudah sekali mengkafirkan ummat Islam. Makanya, kita sangat berbahagia sekali, pada seminar internasional ini bisa langsung hadir pembicara dari Dosen Global University, Lebanon,” ujarnya.

Kegiatan seminar kali mendapat sambutan hangat dari masyarakat Palas, khususnya masyarakat di Kecamatan Barumun. Terlihat hadir di acara itu, Kakan Kemenag Palas, Ketua MUI Palas, sejumlah tokoh masyarakat Palas, pengurus organisasi PC NU Palas dan organisasi banom-banomnya, serta kalangan akademisi dan mahadiswa STAIBR Sibuhuan.

Sebagai pembicara utama, DR. Syaikh Fadi Alamuddin Albeiruty dari Negara Lebanon, dalam pemaparan makalahnya dengan berbahasa arab, didampingi oleh penterjemah Akmal Marzuki Harahap. Beliau menghimbau kepada ummat muslim Indonesia, agat tidak mudah terprovokasi dengan faham-faham baru yang berkembang di masyarakat, seperti faham Khawarij, Syi’ah dan lainnya.

“Memang, faham-faham tersebut, sampai saat ini masih berkembang di negara-negara Arab. Tetapi, trik-trik dari faham-faham baru tersebut, saat ini sudah masuk ke Indonesia. Saya tidak mau, kaum muslimin di Indonesia menjadi korban faham-faham baru tersebut,” sebutnya dalam logat Arab, yang dijelaskan oleh penterjemah.

“Faham Aswaja, adalah faham atau organisasi NU yang menyebarkan faham Aswaja ini, sangat menjunjung tinggi sikap kedaulatan dan kebersamaan ummat. Kalau faham-faham yang lainnya, itu sangat mudah sekali mengkafirkan atau memuhafikkan kaum muslim yang lainnya,” paparnya.

Diakuinya, bahwa keadaan faham Aswaja yang berkembang di Negara Lebanon, itu sama dengan faham Aswaja NU di Negara Indonesia. “Faham Aswaja yang kita anut, itu tidak mudah mengkafirkan ataupun memunafikkan ummat muslim yang lainnya,” tegasnya.

Oleh sebab itu, lewat kegiatan ini diharapkannya ummat muslim di Indonesia, khususnya di Kabupaten Palas, agar terus menjaga dan mengamalkan tradisi-trafis faham Aswaja di tengah masyarakat. Agar faham-faham baru, atau aliran radikalisme yang dapat memancing permusuhan ummat, bahkan dapat memicu perang saudara seperti yang terjadi di negara-negara Arab, dapat diantisipasi dan diminimalisir sejak dini,” pungkasnya.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed