by

DUA JARINGAN NARKOTIKA DARI CHINA DIVONIS MATI SAAT PLEDOI DI PN TANGERANG

Vonis matiTANGERANG detikperistiwa.com – Dua orang jaringan Narkotika internasional dari Tiongkok, Refta Noviani,yang tercatat sebagai Warga Tangerang Selatan (Tangsel)  dan Kanu Colis Nana asal Nigeria, Selasa (17/5/2016) divonis hukuman mati di Pengadilan Negeri Tangerang, Karena terbukti melanggar Pasal 114 (2) JO Pasal 132 ayat 1, Undang-Undang No 35 tahun 2009, tentang Narkotika.

Menurut Jaksa Penuntut Umum, Andre Wiranova, kedua terdakwa divonis dengan hukuman mati karena mereka terbukti menerima dan mengirin narkotika jenis shabu sebanyak 35 Kg. Hal itu terjadi, katanya,  pada Agustus 2015 lalu, dimana petugas Polda Metro Jaya yang melakukan pengembangan atas barang kiriman dari paket Jasa titipan di kargo Bandara Soekarno Hatta (BSH) ,  yang dialamatkan ke rumah Refta Noviani di Tangsel, langsung  membekuknya.

“Saat petugas mengembangkan paket yang berisi shabu sebanyak 20 Kg itu, langsung diterima oleh Refka,” kata Andri Wiranova.

Akibatnya, wanita yang berbisnis Tas Online tersebut diamankan untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil dari pemeriksaan, kata Andre Wiranofa, terdakwa mengaku bahwa barang itu di kirim dari Tiongkok untuk diberikan ke  Brather, warga negara Nigeria yang tinggal di salah satu apartemen di Jakarta.

Namun saat brather akan dibekuk, sudah tidak ada di tempat. Berselang beberapa hari kemudian, petugas Paket jasa titipan di kargo Bandara Soekarno Hatta, juga mendapatkan kiriman barang serupa. Kemudian barang itu langsung di jemput oleh Muyen, warga Jakarta  untuk di tindak lanjuti ke  Kanu Colins Nana, warga negara Nigeria  yang tinggal sementara di Wilayah  Bogor.

Begitu dikembangkan, laki-laki berkulit hitam tersebut tidak bisa berbuat apa-apa dan langsung menyerahkan diri. “Dari kronologis ini, dan berdasarkan barang bukti lainnya, petugaspun menyimpulkan bahwa yang disebut Brather itu adalah Kanu Colis Nana,” kata Andre Wiranova.

Dan putusan ini dijatuhkan oleh Majelis Hakim Swidya  disaat persidangan tersebut  dalam materi pledoi atau pembelaan terhadap terdakwa. “Saya-pun kaget, ternyata vonis ini dibacakan oleh Majelis Hakim di saat pledoi,” kata Andre. (CAK)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed