TANGERANG-Antisipasi tiga isu aktual yakni, konflik sara, tempat hiburan dan hoax, Bupati Tangerang, A Zaki Iskandar mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda), Kabupupaten Tangerang.
Rakor tersebut dilaksanakan di Pendopo Bupati Tangerang, Selasa, (18/4). Langsung dipimpin Bupati Tangerang A. Zaki Iskandar dan menilai tiga isu tersebut dapat mengganggu, meresahkan, dan membuat perpecahan antar kelompok masyarakat.
Kata, Zaki Pemda  terus berupaya melakukan mendeteksi pencegahan secara dini, sosialisasi dan menekan kepada masyarakat akan pentingnya kebersamaan, karena perbedaan adalah kekuatan kita bersama.
“Saya harap melalui rapat ini para kepala SKPD dan unsur camat dapat mensosialisasikannya pada masyarakat di daerah masing-masing, untuk terus menjaga keutuhan dan saling menjaga lingkungannya agar tetap aman dan nyaman agar tidak terpengaruh dengan isu-isu yang beredar, kita harus perangi isu tersebut,” ujarnya.
Kemudian, Sekretaris Pembaruan Forum Kebangsaan Kabupaten Tangerang, Rapali Daili mengatakan konflik sara itu suatu kekerasan dilatarbelakangi sentimental antar suku, agama, ras dan golongan tertentu, penyebab konflik sara itu adanya benturan budaya, masalah ekonomi dan politik, diskriminasi, sikap arogansi dari sekelompok masyarakat, masih terdapat kelompok masyarakat yang menganggap perbedaan sara merupakan masalah dan sikap serta pandangan terhadap etnis lain (saling curiga).
“Sehingga membuat konflik menjadi masyarakat merasa terganggu, terancam dan bisa terjadi kekacauan, proses pembangunan akan terganggu, dan dapat terjadi perpecahan dan disintegrasi bangsa,” tutur Rapali Daili.
Maka dalam mengantisipasi potensi konflik tersebut dilakukannya memelihara kondisi damai dalam masyarakat, menumbuhkembangkan kembali sikap nasionalisme, menanamkan kesadaran bagi semua warga negara untuk mengingatkan kembali semboyan “Bersatu Kita Teguh, bercerai kita runtuh”.
“Memupuk dan meningkatkan semangat bhineka tunggal Ika, sejak dini menghindari sikap egoisme, menghormati perbedaan suku budaya dan agama, mempertahankan kesamaan dan kebersamaan, memberikan pemahaman perbedaan adalah kekuatan, meredam potensi konflik, membangun sistem peringatan dini dan jangan memanggil orang lain dengan julukan sara,” bebernya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tangerang H. Soma Atmaja  mengatakan Hoax itu sebuah kebohongan atau informasi sesat yang sengaja disamarkan agar terlihat benar.
“Berbagai macam faktor Hoax dikarenakan faktor ekonomi, faktor politik dan agama, dan faktor pribadi. Dalam mengantisipasi informasi/ berita hoax tersebut dengan cara kenali Hoax melalui kaidah 5 W dan 1 H (who, what, where, when, why dan How), cermati bahasanya, dan mencari sumber yang akurat,” uarinya.
Masih di tempat yang sama, Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Yusup Herawan menjelaskan Kabupaten Tangerang cukup strategis, akibatnya iklim investasi semakin meningkat yang berdampak banyaknya investor yang membangun.
“Pertumbuhan penduduk yang tinggi, heterogenitas penduduk yang menyebabkan rawan gangguan ketertiban umum, permasalahan sara dan meningkatnya potensi kejahatan,” cetusnya.
Satpol PP Kabupaten Tangerang terus melaksanakan fungsi pendataan, pengawasan dan pembinaan tempat hiburan, serta penertiban tempat hiburan yang melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang. “Kami akan menindaktegas kepada tempat-tempat yang mengganggu ketertiban umum yang dapat meresahkan masyarakat, dan akan menindak langsung tempat-tempat yang tidak mempunyai izin,” ucapnya.
Terkihat dalam rapat tersebut dihadiri Bupati Tangerang, Wakil Bupati Tangerang, Kapolresta Tangerang, Dandim 05/06, Kepala Kejaksaan Negeri Tangerang, perwakilan Polres Metro Kota Tangerang, Perwakilan Polres Metro Tangsel, Forum Kebangsaan dan para Kepala SKPD Se-Kabupaten Tangerang. (raja).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed