by

KONSEP CINTA KASIH UNTUK KEDAMAIAN BANGSA DAN KEUTUHAN NKRI

JAKARTA-Menyikapi beragam fenomena serta gejolak sosial yang berkembang di tengah-tengah rakyat, baik aksi kekerasan, tindakan koruptif, manipulatif, ketidakpusan kelompok tertentu, sehingga berimplikasi pada demontrasi besar-besaran, termasuk baru-baru ini perisitiwa bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5) malam.
Staff Khusus Presiden Republik Indonesia, Lenis Kogoya memberikan sebuah konsep dalam mengayomi rakyat, begitu juga supaya tercipta rasa damai di antara sesama rakyat, tentu harus tertanam dalam  jiwa serta hati sanubari setiap insan yakni cinta kasih dalam bingkai kekuatan Tuhan.
Lanjut Lenis, cinta  itu rasa sangat suka atau rasara sayang dan rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya, sedangkan kasih  perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan, cinta, itu  perasaan fitrah manusia yang murni,  tidak dapat terpisahkan dengan kehidupannya,  selalu dibutuhkan. “Jika seseorang ingin menikmatinya dengan cara terhormat, mulia dan suci tentu  akan mepergunakan cinta itu untuk mencapai keinginannya yang suci dan  mulia pula,” urainya.
Jadi harus saling memberi, bukan menerima, cinta merupakan ungkapan paling tinggi dari kemampuan, paling penting dalam memberi ialah hal-hal sifatnya manusiawi, bukan materi, cinta selalu menyebutkan unsur-unsur dasar tertentu, yakni pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan, pengasuhan umpanya cinta seorang ibu pada anaknya,  seorang ibu dengan rasa cinta kasihnya mengasuh anaknya dengan sepenuh hati.
“Saling mengutuk dan mengecam tidak akan meneyelesaikan sebuah dinamika, malah akan mempertajam ego masing-masing kelompok, tapi harus  tertanam rasa cinta kasih di tiap-tiap hati dari individu dan kelompok, selain itu harus komitmen untuk  menjaga aset budaya negara di seluruh wilayah Republik Indonesia,  dalam kekuatan Pancasila,” tuturnya, Minggu (28/5).
Lenis sudah membuktikan di Papua untuk mengatasi hal itu, kuncinya ialah harus mendekatkan diri dengan masyarakat dengan begitu, pemerintah mengerti keinginan kelompok tersebut. “Setelah pendekatan secara adat, tak ada lagi kelompok separatis yang mengancam Papua harus merdeka dari Indonesia,” tambah ayah empat anak itu.
Tapi, Lenis enggan terlalu mengusung primordialisme, sebagai pejabat negara, harus menyejahterakan masyarakat. “Karena saya disebut staf khusus presiden, berarti dari Sabang sampai Merauke saya akan bantu presiden memantau di lapangan. Jadi mata dan telinga untuk mendengar. Siapapun sampaikan keluhan saya akan sampaikan pada presiden, kita akan selalu ada cinta kasih, jadi kita bertindak dengan mendengarkan kata hari,” sebut Lenis.
“Jadi kedamaian bangsa dan keutuhan NKRI harus tertanam di hati masing-masing individu dan kelompok rasa cinta kasih, kemudian memperkuat ada-istiadat persaudaraan, menghilangkan rasa benci dan permusuhan, karena itu bukan kehendak tuhan,” pungkasnya mengakhiri. (RJ)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed