by

Indeks Perdagangan Global Kepiting Meningkat

Penulis: Rusdianto Samawa, Front Nelayan Indonesia (FNI)

_________________

Perdagangan dunia global kepiting seluruh negara pada (semua jenis komoditas) sedikit meningkat (+1,8 persen) pada tahun 2018, menjadi 405.400 ton. Sementara tahun 2020 turun ke level terendah tingkat produksi kepiting sebesar 30 persen. Selain itu, ekspor kepiting Indonesia turun 30,3 persen menjadi 50.400 ton dari kisaran ekspor tahun 2018 – 2019 sekitar 80.000 ton dari target produksi sebesar 100ribu ton.

Sementara ekspor kepiting Cina yang sebelumnya kepiting dari Indonesia tumbuh sedikit menjadi 81.900 ton. Kemudian, impor kepiting Republik Korea juga tumbuh, dari 45.400 ton menjadi 50.100 ton (+10,4 persen). Pengiriman kepiting dari Kanada ke Amerika Serikat turun. Begitu sebaliknya, meningkat dari Federasi Rusia ke Amerika Serikat.

Ekspor kepiting Federasi Rusia meningkat hampir 10 persen, dan pasar utamanya adalah Republik Korea (43.000 ton atau 61 persen dari total), Belanda (12.800 ton atau 18 persen dari total) dan China (11.500 ton atau 16 persen dari total). Ekspor kepiting Tiongkok turun sedikit menjadi 72.600 ton pada 2018, dari 75.000 pada 2017 – 2020 ini.

Kemudian, Indonesia ekspor produk komoditas Kelautan dan perikanan, termasuk kepiting pada tahun 2020 capai 6 miliar dolar AS atau setara Rp84 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per dolar AS). Angka ini naik sekitar 5 persen jika dibandingkan dengan target yang mencapai 5,5 miliar dolar AS. Pemerintah masih andalkan produk udang, kepiting dan rajungan yang memang memiliki kontribusi kecil diantara komoditas produk lainnya seperti ikan lebih besar.

Sementara negara tujuan ekspor kepiting Indonesia ke Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, Timur Tengah, Afrika dan Uni Eropa. Kondisi relatif stagnan karena pasar global cukup sulit menyesuaikan akibat Covid-19 sehingga lebih lambat. Meski begitu, peluang pasar ekspor kepiting masih yang terbesar kuotanya dari Indonesia.

Selain itu persaingan pasar ekspor dengan negara lain juga semakin ketat, apalagi persaingan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Saingan ekspor hasil laut Indonesia, termasuk kepiting seperti Thailand, Vietnam, Filipina. Kalau di Amerika ada Ekuador dan Meksiko.

Maka, setelah pemerintah membuka izin ekspor kepiting melalui Permen 12 tahun 2020, maka harga kepiting masing-masing kategori B berat 200 gram Rp100ribu per Kg, ACB Rp120ribu, ACK Rp80ribu, AS Rp125ribu, AA Rp80ribu, A Rp60ribu, B Rp45ribu, CK Rp38ribu, CH Rp20ribu dan Kepiting BL/BK Rp45.000 per Kg.

Membaiknya ekspor kepiting, semakin baik juga populasi kepiting dialam seiring adanya pengiriman kepiting bertelur yang merupakan salah satu penyumbang tertinggi pertumbuhan PDB. Proyeksi pertumbuhan sektor kepiting menyumbang 30,88% secara year on year, atau 10,36% secara PDB.

Kabar baiknya, sektor produksi perikanan termasuk kepiting berkontribusi cukup besar. Nilai ekspor komoditas perikanan untuk konsumsi meningkat 16% atau sekitar Rp28,46 triliun pada semester I 2019. Sementara itu nilai ekspor nonkonsumsi naik 83% atau sebesar Rp4,18 triliun.

Dari sisi volume, tahun 2017 – 2019 ekspor produk perikanan konsumsi hidup meningkat menjadi 40,6 juta ekor. Lalu volume ekspor produk perikanan konsumsi non hidup sebesar 505.801,83 ton. Sementara untuk produk perikanan nonkonsumsi terbagi atas nonkonsumsi hidup sebesar 2,98 miliar ekor dengan volume ekspor produk nonkonsumsi nonhidup sebesar 90.240,68 ton.

Melihat realisasi ekspor. Optimis Indonesia capai nilai ekspor lebih tinggi. Terlebih, permintaan komoditas kepiting yang mengalami lonjakan di tahun 2020 dengan syarat memaksimalkan produksi bibit budidaya dan tangkapan alam.

Selain itu, Indonesia mengalami pembengkakan pada tarif ekspor ke beberapa negara, seperti Cina, Taiwan, India, Amerika Serikat, Singapore, Thailand dan Arab Saudi. Hal ini juga termasuk pemicu penyelundupan, mahalnya biaya ekspor. Masalah-masalah ini perlu diatasi secara cepat oleh pemerintah sehingga eksportir Indonesia, bisa mengisi kekosongan dan bersaing sehat.

Prospek pasokan kepiting Indonesia untuk tahun 2020 sangat bervariasi. Namun, tergolong berat karena menghadapi masalah Covid-19. Pasokan kepiting akan lebih ketat. Eksportir kepiting Indonesia harus fokus pada kepiting hidup agar ada peningkatan permintaan kepiting hidup di pasar global.

Untuk itu, mendorong pemerintah Indonesia aktif menyusun strategi peningkatan dan penerapan layanan berbasis single-submission, single inspection, dan single profile melalui sinkronisasi dan harmonisasi data penerbitan HC dengan pemberitahuan ekspor barang (PEB) dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI.

Revisi regulasi yang telah disahkan untuk ekspor kepiting menjadi momentum bagi kebangkitan industri budidaya kepiting guna mendukung peningkatan ekspor. Kinerja yang positif akan memperbaiki neraca perdagangan global Indonesia yang saat ini masih defisit di angka sekitar USD1,9 juta. Upaya tersebut, memperbaiki kinerja ekspor dan menaikkan cadangan devisa Negara dalam waktu bersamaan di tengah menurunnya pendapatan Negara dari ekspor.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed