by

Mayoritas Korporasi dan Oligarki Penyelundup Kepiting: Kerugian Negara Puluhan Triliun

Penulis: Rusdianto Samawa, Front Nelayan Indonesia (FNI)

_________________

Angka permintaan ekspor kepiting sangat tinggi mencapai 100% lebih. Bahkan, pelaku usaha yang bertahun-tahun dan berjejaring itu nekat melakukan upaya penyelundupan. Bukan memperluas sektor budidaya. Tetapi, justru pemerintah yang berupaya kerja keras untuk menambah luas area budi daya kepiting agar memenuhi kuota ekspor.

Potensi ekspor kepiting Indonesia, bisa mencapai ribuan ton, namun hanya mampu memenuhi sekitar 48% atau 400-an ton. Mestinya pelaku usaha korporasi dan oligarki bisnis komoditas ini mengambil peluang potensi yang sangat tinggi ini agar bisa berkolaborasi memperkuat produksi budidaya dan penangkapan oleh nelayan sehingga kedepan meningkatkan perekonomian.

Kalau belajar dari pengalaman, ekonomi kepiting tidak dikuasai oleh pribumi. Namum, dikuasai korporasi (perusahaan) asing yang berjenjang dan membiayai kegiatan bisnis kepiting hanya pada komonitas tertentu. Kecuali nelayan dan pembudidaya mayoritas masyarakat pesisir. Wilayah-wilayah yang dikuasai, seperti Pulau Jawa, Pulau Bangka Belitung, Kubu Raya Kalimantan Barat, Balikpapan Kalimantan Timur, Aceh, NTT, Kepulauan NTB, Kepulauan Sulawesi, dan Kepulauan Sumatera.

Korporasi ini memiliki jaringan kuat, ada sejumlah ratusan perusahaan dibawah satu komando oligarki bisnis. Pabrik-pabrik olahan diberbagai sektor, seperti; khusus penangkapan, olahan, dan transportasi. Bahkan, perusahaan khusus penyelundupan pun milikinya.

Kegiatan yang dilakukan, ekspor kepiting utuh sudah dibekukan. Tentu sudah steril dengan harga jual tinggi. Tetapi mayoritas korporasi yang ekspert dibidang produktivitas kepiting di Indonesia, bisa dibilang tak pernah kerjasama dengan pemerintah untuk memenuhi target produksi benih kepiting dan budidaya setiap tahun 1 juta ekor. Padahal, meningkatkan kapasitas skala besar produksi kepiting sangat diharapkan dan melibatkan masyarakat.

Namun, aktivitas korporasi dan model oligarki dalam bisnis kepiting ini lebih banyak melakukan kegiatan ilegal seperti penyelundupan. Syogyanya lebih banyak korporasi yang melibatkan aspek bisnis, mestinya negara tambah untung, bukan buntung. Malah negara mengalami kerugian akibat penyelundupan kepiting.

Berdasarkan data FAO (2020) dihimpun dari berbagai alur pengumpulan logistik dan pangan, bahwa; bulan Oktober – Desember 2019 lalu, kepiting penyelundupan sebesar 1.676 ton, turun 10 persen dari kuota 1.809 ton pada musim 2018 – 2019. Pada saat yang sama, Kementeri Kelautan dan Perikanan (KKP) prediksi kuota musim 2019 – 2020 untuk kepiting meningkat penyelundupanya sebesar 23 persen menjadi 14.911 ton, naik dari sekitar 12.410 ton untuk musim 2018 – 2019. Kalau hitung kerugian negara sudah capai ratusan miliar.

Pemicu penyelundupan itu yakni Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 56 tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan dari wilayah Negara Republik Indonesia. Bahwa sejak tanggal 27 Desember 2016 memberlakukan pelarangan pengiriman, penangkapan, pengeluaran kepiting bertelur.

Namun, sekarang Peraturan tersebut sudah direvisi dengan tujuan mempermudah komunikasi bersama nelayan dan pembudidaya kepiting dengan Permen Nomor: 12 tahun 2020. Produk regulasi tersebut, menopang persediaan kepiting yang lebih ketat. Karena perkiraan kuota kepiting untuk musim 2020 – 2023 meningkat sebesar 23 persen. Dengan demikian, pasokan kepiting akan naik pada tahun 2020 hingga 2023.

Perdagangan global kepiting relatif stabil saat ini atas revisi regulasi yang ada. Sejak 2020 ini, volume ekspor impor akan stabil, dengan fluktuasi yang sangat kecil. Total ekspor impor kepiting secara global meningkat sebesar 1,6 persen selama sembilan bulan pertama tahun 2019 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018.

Pengimpor terbesar, Amerika Serikat, meningkatkan impor sebesar 8,4 persen menjadi 89.224 ton selama periode sembilan bulan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018. Perusahaan pengekspor kepiting Amerika Serikat saat ini mengalami penurunan omzet sekitar 80 persen dalam ekspor kepiting dan rajungan ke China.

Dari negara-negara pengimpor utama lainnya, seperti Republik Korea memiliki pertumbuhan terkuat sekitar 26,5 persen atau berkisar pada angka 38.339 ton, sementara impor Cina turun 6,5 persen menjadi 57.772 ton.

Sementara, Indonesia mengalami pembengkakan pada tarif ekspor ke beberapa negara, seperti Cina, Taiwan, India, Amerika Serikat, Singapore, Thailand dan Arab Saudi. Hal ini juga termasuk pemicu penyelundupan, mahalnya biaya ekspor. Masalah-masalah ini perlu diatasi secara cepat oleh pemerintah sehingga eksportir Indonesia, bisa mengisi kekosongan dan bersaing sehat.

Prospek pasokan kepiting Indonesia untuk tahun 2020 sangat bervariasi. Namun, tergolong berat karena menghadapi masalah Covid-19. Pasokan kepiting akan lebih ketat. Eksportir kepiting Indonesia harus fokus pada kepiting hidup agar ada peningkatan permintaan kepiting hidup di pasar Cina, terutama sehubungan dengan Tahun Baru, acara keagamaan dan kebudayaan dibeberapa negaa tujuan ekspor.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed