by

Pasar Ekspor Rajungan Diprediksi Naik 70 Persen

“Kalau bukan Edhy Prabowo Menteri Kelautan dan Perikanan, mungkin saja revisi regulasi tak akan terjadi. Bisa jadi hanyalah hayalan belaka para nelayan, pengusaha dan eksportir. Sungguh mulia terobosan revisi. Tentunya Edhy Prabowo mentunaikan amanat Nelayan Lobster, Kepiting dan Rajungan. Dukung Menteri Edhy Prabowo.”

Penulis: Rusdianto Samawa, Front Nelayan Indonesia (FNI)

_______________

Peraturan Menteri Nomor 12 tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting dan Rajungan telah disahkan revisinya oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Pengesahan ini menandakan, menggeliatnya ekonomi Rajungan. Selama, tahun 2016 hingga 2019 ekonomi Rajungan sangat anjlok dan hancur lebur karena regulasi yang tumpang tindih dan melarang pengeluaran rajungan dalam ukuran tertentu.

Dengan demikian, revisi Peraturan Menteri Nomor 12 tahun 2020 ini, jelas membangkitkan dan memacu ekonomi ekspor Rajunga inin ke level internasional sehingga bisa bersaing dengan negara lainnya.

Lagi pula, kemandegan sudah bisa terurai. Kalau komoditas rajungan sering berada di Cold Storage dalam jumlah banyak karena kesulitan ekspor. Maka, sekarang dan masa mendatang sudah sangat mudah. Tentu para nelayan, pengusaha dan eksportir harus berterima kasih kepada Menteri Edhy Prabowo yang telah mengeluarkan dari kesulitan selama bertahun-bertahun.

Sebagaimana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan volume ekspor rajungan naik pada 2020. Merujuk data sementara Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor rajungan, termasuk di dalamnya kepiting, mencapai US$393 juta dengan volume 25,9 ribu ton. Sehingga potensi ini harus mendapat dorong kuat agar ada peningkatan ekspor rajungan berjalan mestinya.

Pada Pasal 8 menjelaskan bahwa: penangkapan dan/atau pengeluaran Rajungan (Portunus spp.) dengan Harmonized System Code 0306.39.10 di atau dari wilayah Negara Republik Indonesia hanya dapat dilakukan dengan ketentuan: a). tidak dalam kondisi bertelur yang terlihat pada Abdomen luar; b). ukuran lebar karapas di atas 10 (sepuluh) cm atau berat di atas 60 (enam puluh) gram per ekor; c). kuota dan lokasi penangkapan Rajungan (Portunus spp.) sesuai hasil kajian dari Komnas Kajiskan yang ditetapkan oleh direktorat jenderal bidang perikanan tangkap; dan d). pengambilan Rajungan (Portunus spp.) harus dilakukan dengan menggunakan alat penangkapan ikan yang bersifat statis atau pasif.

Tujuan ekspor rajungan sangat luas, pasarnya mulai dari Amerika Serikat, China, Malaysia, Jepang, Singapura, Prancis, hingga Inggris. Volume ekspor ke Amerika Serikat kuotanya sangat besar yang didominasi produk olahan dalam kemasan kaleng dan keadaan hidup. Peningkatan permintaan ekspor rajungan ini terus melonjak seiring kebutuhan konsumsi sangat tinggi.

Data Trademap (2020) ini, bahwa: China salah satu pasar potensial rajungan dan kepiting Indonesia. Tahun 2020 kebutuhan rajungan dan kepiting China capai 40.210 ton. Total volume ekspor rajungan dan kepiting Indonesia ke China dalam kurun waktu lima tahun (2013-2017) adalah sebesar 28.762.150 kg atau 20,20% dari total volume ekspor rajungan dan kepiting, dengan nilai mencapai US$ 192.899.947 atau 10,62% dari total nilai ekspor rajungan dan kepiting Indonesia dalam kurun waktu tersebut.

Volume dan nilai ekspor rajungan dan kepiting Indonesia ke China tahun 2017 mengalami peningkatan masing-masing sebesar 75.29% dan 63,60% dibanding tahun 2016. Besarnya potensi ekspor tersebut diantaranya disebabkan oleh banyaknya jumlah penduduk China, tahun 2017 jumlahnya mencapai 1.4 milyar orang atau 18.5% dari total penduduk dunia.

Tentu permintaan tersebut, harus dibarengi upaya peningkatan kualitas produk komoditas rajungan. Sehingga dapat mengejar permintaan yang tinggi. Apalagi data BPS tahun 2018 – 2019 lalu, bahwa: Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan Indonesia didominasi oleh nilai ekspor komoditas rajungan-kepiting menempati urutan ke tiga terbesar setelah udang dan tuna-tongkol-cakalang. dengan nilai capai US$ 152.739.729.

Rajungan dan kepiting berasal dari hasil perikanan tangkap dan perikanan budidaya, dimana volume ekspor rajungan dan kepiting Indonesia didominasi oleh hasil perikanan tangkap (65%) dan sisanya dari hasil kegiatan budidaya (35%).

Rajungan dan kepiting tersebut diekspor dalam bentuk beku, segar dan olahan dengan menggunakan Kode HS 030614 (kepiting beku), 030624 (kepiting segar), dan 160510 (kepiting olahan). BPS mencatat bahwa volume dan nilai ekspor rajungan dan kepiting Indonesia tahun 2012-2017 mengalami peningkatan pertahun masing-masing sebesar 0,67% dan 6.06%.

Jika persentase ekspor ke negara tujuan utama seperti; Amerika Serikat, China dan Jepang merupakan negara pengekspor rajungan dan kepiting dalam kurun waktu sepuluh tahun ini. Negara Jepang saja, banyak membeli produk rajungan yang diolah. Potensi pasar rajungan sangat luas diprediksi capai 70 persen meningkat. Komoditas rajungan mampu memberikan kontribusi besar terhadap target ekspor produk perikanan 2020 senilai US$6,47 miliar.

Untuk memenuhi kebutuhan ekspor, harus seiring meningkatkan produktivitas ketersediaan bahan baku dan sistem jaminan mutu pada tingkat nelayan, pengumpul, dan pemasok bahan baku.

Karena faktor kelalaian peningkatan produktifitas itulah tantangannya. Menurut Lastri (2016) bahwa: belum optimalnya peningkatan ekspor tersebut (0,88%) disebabkan oleh beberapa faktor: 1). Rendahnya jumlah produksi kepiting di alam. Masih terjadinya over ekspoitasi terhadap populasi kepiting bertelur akibatnya kelangkaan bibit baru; 2). Cara penangkapan kepiting yang tidak memenuhi standar internasional dengan sianida dan lainnya menyebabkan mutu kepiting Indonesia kalah bersaing mutu dengan negara kompetitor.

Prospek ekspor rajungan yang bagus tercermin dari regulasi yang telah direvisi. Ekonomi eskpor Rajungan di beberapa wilayah di Indonesia, adalah Medan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Barat. Tahun 2020 harus terus tingkatkan ekspor.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed