by

Jawab Para Penolak Ekspor Benih Lobster, Ketua ANLI: Indonesia Untung!

Penulis: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (A.N.L.I)

_______________

Jakarta – Dinamika beberapa hari ini sangat menarik. Selain ada migrasi pembudidaya komoditas ikan, udang, rumput laut kepada komoditas Benih Lobster. Juga muncul kelompok penolak ekspor benih Lobster. Kelompok penolak ini dipimpin oleh Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti.

Kelompok penolak merasionalisasikan argumentasinya pada aspek over fishing atau kelebihan tangkapan oleh nelayan ke depannya. Kelompok ini ramai di media sosial karena dukungannya terhadap Susi Pudjiastuti yang menulis akun “Ya Allah kalau Benih Lobster di ekspor, kita ini kufur nikmat.” Hal itu sebagai respon terhadap kebijakan Menteri Edhy Prabowo yang akan membuka keran ekspor benih lobster.

Menurut Ketua Asosiasi Nelayan Lobster Indoensia (ANLI) Rusdianto Samawa, sebenarnya, jawaban atas narasi kelompok penolak ini sangatlah simpel yakni secara biologis, benih lobster yang bertahan di laut hanya 0,01 persen. Sementara lobster bertelur bisa capai ribuan dalam sekali bertelur.

“Benih Lobster bertahan hidup dalam lingkungannya tidak lama. Waktunya 1 jam, 1 hari paling lama umur 1 minggu kalau tak ada mangsa dia bisa bertahan. Kalau capai 1 bulan dan seterusnya itu ukuran selamat hidup capai 200-300 gram ke atas,” ujar Rusdianto dalam keterangannya kepada redaksi, Kamis (12/12).

Sambung dia, perlu pencerahan dan kepastian argumentasi kepada masyarakat dan para pembela kelompok masing-masing, bahwa benih lobster bertahan hidup itu sekitar 0,01 persen. “Lalu yang bertahan ini bagaimana cara menyelamatkannya? Tentu jawabannya harus ditangkap larvanya atau benihnya,” ungkapnya.

Simulasi penangkapan benih lobster ini juga harus diberi pengertian kepada masyarakat Indonesia, bahwa klasifikasi kebijakan sedang disusun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan dua skema solusi yakni ekspor benih lobster dan budidaya benih lobster.

“Jadi selama ini, larangan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 termasuk “kufur nikmat” karena ikut berpartisipasi membiarkan hatchery (dimangsa) hewan lainnya. Itu terjadi lebih dari empat tahun lamanya. Pertanyaannya? apakah rugi tidak ditangkap, ya jawabannya: “otomatis rugi.” Apalagi, larangan itu sambil melakukan penangkapan terhadap nelayan lobster,” selorohnya.

Ketika pelarangan itu terjadi, maka seiring juga negara rugi dengan aksi penyelundupan. Bahkan, mensinyalir institusi negara tak mampu mencegah penyelundupan itu sehingga benih lobster sampai ke negara lain. Bahkan dalam jumlah besar mencapai 40 juta benih selundupan ke negara Vietnam. Sementara data versi pemerintah dalam hal ini KKP periode 2014-2019 hanya 1 juta benih lobster per tahun yang berhasil diselundupkan.

“Begitulah, narasi kelompok penolak yang muncul sebagai antitesa rencana Menteri Edhy Prabowo membuka ekspor benih lobster seluas-luasnya. Jawaban lebih gayeng lagi, Menteri Edhy Prabowo katakan: ekspor benih lobster untuk devisa bangsa dan negara. Tentu ini jawaban sekaligus pelurusan terhadap narasi yang dibangun kelompok penolak,” ucap Rusdianto.

Rusdianto yang pernah dikriminalisasi oleh Susi itu menyatakan sangat perlu dijelaskan kepada masyarakat dan media, kelompok penolak ekspor benih lobster itu yang memilih ribut di media bersama netizen yang tidak jelas juntrungannya.

“Mestinya, kelompok penolak ini ikut memberi argumentasi ilmiah dan mengajukan skema kebijakan agar dikenal lebih intelektual dan lebih bijak dalam menilai maupun menolak ekspor,” jelasnya.

Menurut dia, Menteri Edhy Prabowo dikenal terbuka, positif dan bijak itu, tentu akan menerima siapapun yang datang memberi usulan dan mau berdialog bersama. Termasuk mantan menteri sudah pasti akan diterima sebagai usulan akademik paket kebijakan.

Menjawab Abdul Halim

Menteri Edhy Prabowo yang membuat kebijakan akan membuka keran ekspor benih lobster yang tengah dikaji. Lantas, hal ini menuai pro dan kontra. Bahkan pengamat Kelautan dan Perikanan pun, Abdul Halim di kompas beberapa hari lalu, ikut menilai Menteri Edhy Prabowo untuk membuka peluang ekspor benih lobster sebagai langkah yang tidak strategis dalam jangka panjang.

“Menjawab argumentasi Abdul Halim, sangat simpel kalau persfektif biologi lobster dan ekonomi politik serta mengapa permen itu harus direvisi dari persfektif mekanisme menyusun peraturan perundang-undangan,” ulasnya.

Masih kata Rusdianto, pertama, persfektif biologi, lobster bertelur menghasilkan larva, lalu menjadi benih lobster, tingkat ancaman benih dalam lingkungannya sangat tinggi ancamannya karena hanya 0,01 persen yang bisa lolos dari mangsanya.

Kedua, persfektif ekonomi politik, larangan menyebabkan tingginya jumlah penyelundupan. Ini disinyalir negara ikut memfasilitasinya. Tentu menguntungkan Vietnam. Pertanyannya: mengapa benih lobster sampai ke Vietnam? Kalau negara tegas, maka benih lobster tak akan bisa sampai ke Vietnam. Kalau benar-benar melarang.

Ketiga, persfektif mekanisme penyusunan peraturan perundang-undangan, bahwa permen tersebut dinyatakan disclaimer, mengapa? Karena isinya menjelaskan tiga komoditas sekaligus: lobster, kepiting, rajungan. Sementara Peraturan itu mestinya menjelaskan pengaturan tentang satu komoditas.

“Tentu argumentasi masing-masing belum tentu benar. Namun, yang perlu didorong ketika Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membidik pertumbuhan nilai ekspor sebesar 6 persen dalam rencana strategis RPJMN 2020-2024. Angka ini lebih rendah dari target yang dipasang untuk renstra pada periode 2015-2019 yang hanya sebesar 10-12 persen. Target yang dipasang pada 2015-2019 itu terlalu ambisius dan berat untuk direalisasikan,” tegasnya.

Sementara dia melihat target 6 persen itu lebih realistis, kendati masih tetap dengan optimisme bahwa pertumbuhan ekspor perikanan bisa lebih tinggi dari kecenderungan rata-rata pertumbuhan nilai ekspor dunia yang berkisar diangka 3–4 persen.

“Tentu berharap volume ekspor benih lobster ke depannya diharapkan dapat menambah performa peningkatan devisa negara dan memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional,” pungkasnya.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed