by

EKSPOR BENIH LOBSTER


“Jawaban terhadap penolak ekspor benih Lobster. Untung bagi Indonesia, Sustainability Kelautan dan Perikanan.”

Penulis: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (A.N.L.I)

_______________

Dinamika beberapa hari ini sangat menarik. Selain ada migrasi pembudidaya komoditas ikan, udang, rumput laut kepada komoditas Benih Lobster. Juga muncul kelompok penolak ekspor benih Lobster. Kelompok penolak ini dipimpin oleh Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kelompok penolak merasionalisasikan argumentasinya pada aspek over fishing atau kelebihan tangkapan oleh nelayan nanti kedepannya. Cara merasionalisasi narasi ini kepada khalayak publik: media dan netizein, kelompok ini memakai bahasa: “Ya Allah kalau Benih Lobster di ekspor, kita ini kufur nikmat.”

Sebenarnya, jawaban atas narasi kelompok penolak ini sangatlah simpel yakni: “secara biologis, benih lobster yang bertahan di laut hanya 0,01%. Sementara Lobster bertelur bisa capai ribuan sekali bertelur. Benih Lobster bertahan hidup dalam lingkungannya tidak lama: “waktunya 1 jam, 1 hari paling lama. umur 1 minggu kalau tak ada mangsa bisa bertahan. Kalau capai 1 bulan dan seterusnya itu ukuran selamat hidup capai 200-300 gram keatas.”

Perlu berikan pencerahan dan kepastian argumentasi kepada masyarakat dan para pembela kelompok masing-masing, bahwa benih lobster bertahan hidup itu sekitar 0,01%. Lalu yang bertahan ini bagaimana cara menyelamatkan: “tentu jawabannya harus ditangkap Larva-nya (benihnya).”

Simulasi penangkapan benih lobster ini juga harus diberi pengertian kepada masyarakat Indonesia, bahwa klasifikasi kebijakan sedang disusun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan dua skema solusi yakni: Ekspor Benih Lobster dan Budidaya Benih Lobster. Dua skema ini tulisan selanjutnya ya.

Jadi selama ini, larangan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014 – 2019 termasuk “kufur nikmat” karena ikut berpartisipasi membiarkan hatchery (dimangsa) hewan lainnya. Itu terjadi lebih dari empat tahun lamanya. Pertanyaannya? apakah rugi tidak ditangkap, ya jawabannya: “otomatis rugi.” Apalagi, larangan itu sambil lakukan penangkapan terhadap nelayan lobster.

Ketika pelarangan itu terjadi, maka seiring juga negara rugi dengan aksi penyelundupan. Bahkan, mensinyalir institusi negara tak mampu mencegah penyelundupan itu sehingga benih lobster sampai ke negara lain. Bahkan dalam jumlah besar capai 40juta benih selundupan sampai ke negara Vietnam. Sementara data versi pemerintah: KKP periode 2014 – 2019 hanya 1 juta benih lobster per tahun hasil selundupan.

Begitulah, narasi kelompok penolak yang muncul sebagai antitesa rencana Menteri KKP Edhy Prabowo membuka ekspor benih lobster seluas-luasnya. Jawaban lebih gayeng lagi, menteri Edhy Prabowo katakan: “ekspor benih lobster untuk devisa (bangsa) dan rakyat (negara). Tentu ini jawaban sekaligus pelurusan terhadap narasi yang dibangun kelompok penolak.

Maka perlu dijelaskan kepada publik: masyarakat dan media, kelompok penolak ekspor benih lobster itu, yang dipimpin mantan menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014 – 2019 memilih ribut dimedia bersama netizein yang tidak jelas juntrungannya. Mestinya, kelompok penolak ini ikut memberi argumentasi ilmiah dan mengajukan skema kebijakan agar dikenal lebih intelektual dan lebih garing (bijak) dalam menilai maupun menolak ekspor.

Kalau menilai mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) periode 2014 – 2019 tak mampu menghadirkan argumentasi akademiknya sebagai bagian dari dinamika intelektual. Paling tidak berusahalah menyodorkan rancangan akademik sebagai bagian dari mekanisme pengambilan keputusan.

Padahal Menteri Edhy Prabowo yang dikenal terbuka, positif dan garing itu, justru menerima siapapun yang datang memberi usulan dan mau berdialog bersama. Termasuk mantan menteri akan diterima usulan akademik paket kebijakan.

Kali ini, Edhy Prabowo akan membuat kebijakan membuka keran ekspor benih lobster yang tengah dikaji. Lantas, hal ini menuai pro dan kontra. Bahkan pengamat Kelautan dan Perikanan pun, Abdul Halim di kompas beberapa hari lalu, ikut menilai Menteri Edhy Prabowo untuk membuka peluang ekspor benih lobster sebagai langkah yang tidak strategis dalam jangka panjang.

Menjawab argumentasi Abdul Halim, sangat simpel kalau persfektif biologi lobster dan ekonomi politik serta mengapa permen itu harus direvisi dari persfektif mekanisme menyusun peraturan perundang-undangan.

Pertama: persfektif biologi, lobster bertelur menghasilkan larva, lalu menjadi benih lobster, tingkat ancaman benih dalam lingkungannya sangat tinggi ancamannya karena hanya 0,01% yang bisa lolos dari mangsanya.

Kedua: persfektif ekonomi politik, larangan menyebabkan tingginya jumlah penyelundupan. Ini disinyalir negara ikut memfasilitasinya. Tentu menguntungkan Vietnam. Pertanyannya: mengapa Benih Lobster sampai ke Vietnam?. Kalau negara tegas, maka benih lobster tak akan bisa sampai ke Vietnam. Kalau benar-benar melarang.

Ketiga: persfektif mekanisme penyusunan peraturan perundang-undangan, bahwa permen tersebut dinyatakan disclaimers. Mengapa? karena isinya menjelaskan tiga komoditas sekaligus: Lobster, kepiting, rajungan. Sementara Peraturan itu mestinya menjelaskan pengaturan tentang satu komoditas.

Tentu argumentasi masing-masing belum tentu benar. Namun, yang perlu di dorong ketika Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membidik pertumbuhan nilai ekspor sebesar 6% dalam rencana strategis Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Renstra RPJMN) 2020-2024.

Angka ini lebih rendah dari target yang dipasang untuk renstra pada periode 2015-2019 sebesar 10%-12%. Target yang dipasang pada 2015-2019 terlalu ambisius dan berat untuk direalisasikan.

Target tersebut dipasang 6% itu lebih realistis, kendati masih tetap dengan optimisme bahwa pertumbuhan ekspor perikanan bisa lebih tinggi dari kecenderung rata-rata pertumbuhan nilai ekspor dunia yang berkisar diangka 3% – 4%.

Tentu berharap volume ekspor benih lobster kedepannya diharapkan dapat menambah performa peningkatan devisa negara dan memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed