by

EKSPOR LOBSTER UNTUNG

“Devisa Negara Diprediksi Capai Puluhan Triliun Pertahun. Bagaimana menghitungnya? simak tulisan ini.”

Penulis: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI)

________________

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bakal membuka keran ekspor benih lobster yang selama ini dilarang melalui kebijakan menteri sebelumnya, Susi Pudjiastuti. Benih-benih lobster ini rencananya bakal diekspor ke beberapa negara, bukan hanya Vietnam.

Alasan kuat melegalkan ekspor benih lobster, yakni hitungan ekonomi dan keuntungan bagi devisa negara. Tetapi, hitungan Survival Rate (SR) lobster sudah banyak sekali referensi yang menjelaskan secara ilmiah. Survival Rate (SR) yang benar adalah 0,01 – 0,03%.

Jumlah Survival Rate (SR) tersebut, tertera dalam buku E. V. Radhakrishnan, Bruce F. Phillips dan Gopalakrishnan Achamveetil, berjudul: “Lobsters: Biology, Fisheries and Aquaculture” bahwa selama tujuh dekade terakhir, lobster telah menjadi subjek penelitian fisiologis, biokimia dan molekuler dan lebih dari 15.000 penelitian makalah telah diterbitkan pada biologi lobster, ekologi, fisiologi, perikanan dan akuakultur selama abad sebelumnya dan saat ini.

Bahkan, dalam buku seorang Tsang et al. 2008; Karasawa et al. 2013; Lavery et al. 2014 mengisahkan orang Amerika yang pakar lobster, Homarus Americanus, adalah spesies yang paling banyak dipelajari. Permulaan Pada abad ke-21 menyaksikan peningkatan dalam penelitian molekuler dan studi-studi ini telah menggambarkan kembali hubungan filogenetik diantara berbagai kelompok lobster yang hanya memiliki tingkat bertahan hidup (Survival Rate – SR) adalah 0,01 – 0,03%.

Induk lobster yang ukuran 2-3 Kg mampu menghasilkan telur 150 ribu – 800 ribu per induk. Variasi ini tergantung jenis, ukuran dan usia induk. Kalau 4-5kg tentu umurnya sudah ratusan tahun dan bertelur bisa 2 kali setahun dengan jumlah telurnya capai 3-4juta.

Sementara, Hatching Rate (HR) di alam >95 persen. Kemudian, siklus Survival Rate (SR) dari menetas sampai pada Peurulus hanya 1 persen. Sementara dari Peurulus sampai pada ukuran matang reproduksi 1 persen. Sehingga SR dari telur sampai size matang 0,01 Persen.

Dari siklus tersebut, mana lebih untung ekspor benih lobster dengan penangkapan untuk budidaya?. Jawabannya: Lebih untung ekspor benih lobster. Logika keuntungannya yakni:

1. Ekspor langsung: standar harga 150.000 per ekor. Bila pemberlakuan perkuota per tahun. Maka, lipatgandakan standar harga dengan kuota ekspor pertahun. Misalnya kuota ekspor tahun 2020 sebesar 100 juta benih lobster. Maka Rp150.000 x 100.000.000 (benih) = Rp151.300.000.000.000.00 (Seratus Lima Puluh Satu Triliun Tiga Ratus Miliar).

2. Ekspor Lobster Budidaya: standar harga benih untuk budidaya 150.000 dilipatgandakan jumlah pembudidaya. Katakan seluruh Indonesia hanya 100 orang pembudidaya. Tempatnya pusat sentra budidaya. Jumlah lubang 200 ukuran 10 x 12 meter. Luas area budidaya 500 hektar.

Upaya pembesaran benih selama 12 – 13 bulan. Satu lubang budidaya 2000 benih. Berarti 2000 x 200 lubang hasilnya: 400.000 (empat ratus ribu) benih. Biaya logistik pakan satu lubang perhari 500.000 (lima ratus ribu). Berarti Rp500.000 x 200 (lubang) hasilnya: 100.000.000 x 13 bulan hasilnya: 1,300.000.000.00.

Itu hasil pengeluaran selama budidaya 1,3 miliar. Sekarang kita hitung untuk ekspor lobster masing-masing ukuran. Kita hitung saja ukuran berat 3-4 ons seharga 250.000 (dua ratus lima puluh ribu). Kita hitung ya, tahun 2020 target ekspor 50 ton. Hitungannya: 250.000 x 50 ton hasilnya: Rp12.500.000.000 (dua belas miliar lima ratus juta).

Keterangan: dua model hitungan ekspor dan budidaya diatas harus dipahami bahwa semakin rendah harga benih, maka ekspor benih lobster dan budidaya lobster semakin kecil keuntungannya. Peluang ekspor budidaya lebih besar tergantung pada proses pembesaran dengan jaminan produksi pakan harus tersedia secara simultan dan berlanjut.

Kedua logika diatas, beberapa minggu ini menjadi pertanyaan dan keributan diberbagai media. Sementara banyak pihak yang menggantungkan hidup dari komoditas benih lobster. Selain itu penyelundupan pun makin marak bila ekspor tetap dilarang.

Tentu, pemerintah sudah memiliki langkah agar populasi benih lobster tetap terjaga meski larangan ekspor dibuka. Hal itu dengan upaya pembesaran, dan setiap 2,5 – 5 persen dari jumlah lobster yang dibesarkan harus dikembalikan ke laut. Tentu ukuran yang harus dikembalikan itu ukurannya Survival Rate (SR) sudah berumur 1 tahun dengan ukuran berat 5-7 cm, beratnya 0,10 ons.

Menurut Presiden Jokowi, permasalahan benih lobster harus dilihat dari dua sisi. Pertama, kebijakan bermanfaat bagi nelayan Indonesia. Kedua, kebijakan tidak merusak lingkungan. Sudah jelas, orientasi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah bisa mengakomodir kedua kepentingan agar tercipta keseimbangan. Dengan begitu, tidak ada satu pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Dengan keseimbangan itu akan menghasilkan ekonomi lobster yang baik dan sudah pasti menguntungkan negara.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed