by

Log Book Penangkapan Ikan: Kewajiban Dan Syarat Berusaha

Penulis: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI)

__________________

Pada Pasal 108 ayat 1 – 5 Peraturan Menteri Pengelolaan Perikanan Tangkap, bahwa; “Setiap nakhoda Kapal Penangkap Ikan yang memiliki SIPI dan melakukan Penangkapan Ikan di WPPNRI dan/atau Laut Lepas wajib mengisi Log Book Penangkapan Ikan dengan benar untuk setiap trip Penangkapan Ikan dan menyampaikan kepada syahbandar di Pelabuhan Pangkalan.”

“Pengisian log book penangkapan ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pengecekan terhadap: kesesuaian titik koordinat dengan VMS; dan kesesuaian Alat Penangkapan Ikan dengan jenis ikan hasil tangkapan. Lagi pula, setiap nakhoda Kapal Penangkap Ikan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa: pembekuan SIPI; dan
pencabutan SIPI.”

Pembekuan SIPI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenakan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender. Pencabutan SIPI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenakan apabila sampai dengan berakhirnya pembekuan SIPI tidak memenuhi kewajiban.

Menurut data yang berkembang hingga Juli 2020 tahun ini, sebanyak 5.356 unit kapal perikanan yang sudah menggunakan e-log book. Proses pengisian e-log book sangat simple, hanya dengan 5 kali klik tombol, data operasional penangkapan ikan sudah terekam.

Penerapan e-log book penangkapan ikan dapat digunakan oleh nelayan yang tidak bisa membaca dan menulis, sehingga memudahkan nakhoda kapal melaporkan catatan harian penangkapan ikannya secara akurat dan real time.

Log Book merupakan sistem Informasi yang prosesnya pengolahan data perikanan yang dipergunakan dalam proses verifikasi, pengisian data (entry data), validasi data, analisis data, dan pengambilan kesimpulan log book penangkapan ikan dengan menggunakan peralatan yang telah ditentukan.

Pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.18/MEN/2010 tentang Log Book Penangkapan Ikan, pada Pasal 2 ayat 1 – 3, bahwa: (1) Setiap kapal perikanan yang memiliki SIPI wajib mengisi log book penangkapan ikan. (2) Pengisian log book penangkapan ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada setiap operasi penangkapan ikan. (3) Pengisian log book penangkapan ikan tanggung jawab Nakhoda.

Sementara, Log book dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 48/2014 tentang Log book Penangkapan Ikan. Setiap kapal perikanan yang mempunyai Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) berukuran di atas 5 Gros Ton yang beroperasi di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dan laut lepas harus membuat serta menyampaikan log book penangkapan ikan.

Pada Pasal 3 ayat 1 dan 2 menjelaskan bahwa: (1) Log book penangkapan ikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, mengacu pada ketentuan peraturan perundang – undangan serta standar internasional yang diterima secara umum yang disusun berdasarkan jenis alat penangkapan ikan.

Kemudian, pada ayat (2) bahwa Log Book penangkapan ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas: a. Log book rawai tuna dan pancing ulur (long line and hand line); b. Log book pukat cincin, huhate, dan pancing tonda (purse seine, pole and line, and trolling line); dan c. Log book alat penangkapan ikan lainnya.

Log book tujuannya alat media laporan harian tertulis nakhoda mengenai kegiatan penangkapan ikan. Log book merupakan landing declaration dari nakhoda, atau Surat Pernyataan Nakhoda mengenai aktivitas penangkapan sumber daya ikan (hasil tangkapan) di laut yang akan didaratkan di pelabuhan perikanan. Kalau penggunaan log book secara manual, maka banyak menghabiskan kertas.

Kepatuhan nelayan dan pelaku usaha menggunakan cara manual rendah, data yang disampaikan belum tersaji secara akurat dan objektif. Bagi nelayan kecil, format laporan log book ini tidak sederhana. Selain itu, belum adanya mekanisme verifikasi dan validasi data log book yang mudah dan cepat.

Proses pengumpulan data berbasis gadget ini lebih praktis, mudah dan efisien. Tidak lagi membutuhkan kertas dalam pencatatan data operasi penangkapan ikan. Untuk menggunakan e-log book, terlebih dahulu pelaku usaha, perusahaan maupun nelayan mengajukan surat permohonan aktivasi kepada syahbandar di pelabuhan perikanan. Permohonan ini untuk mengaktifkan aplikasi e-log book penangkapan ikan.

Sebagaimana penjelasan Pasal 4 ayat (1) bahwa Log book penangkapan ikan berisi informasi mengenai: a. data kapal perikanan; b. data alat penangkapan ikan; c. data operasi penangkapan ikan; dan d. data ikan hasil tangkapan. Kemudian, pada ayat (2) Pengisian log book wajib dilakukan sesuai dengan data yang sebenarnya (objective) dan tepat waktu (up to date).

Pengisian dilakukan setelah melakukan aktivasi, syahbandar akan mencetak tanda terima aktivasi. Selanjutnya, mendapatkan username dan password untuk login ke dalam aplikasi e-log book. Aplikasi ini tersedia secara offline dan dikirim saat online. Nakhoda tidak perlu lagi ke pelabuhan perikanan, data yang ada langsung terintegrasi dengan aplikasi SILOPI.

Adapun rincian kapal perikanan yang sudah melaksanakan e-log book awal Juli ini, di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) sebanyak 2.006 kapal dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) 1.709 kapal. Kemudian di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) 438 kapal dan Pangkalan Pendaratan Ikan/Pelabuhan Perikanan (PPI/PP) 1.203 kapal.

Data kapal (e-log book) yang sudah melakukan aktivasi periode Oktober – Desember 2018 dan Januari 2019 (penarikan data per 25 Januari 2019) berjumlah 2411 unit kapal, dengan komposisi ijin daerah 955 unit kapal dan ijin pusat 1456 unit kapal. Data Januari – Juli 2020 sudah mencapai 5.476 unit kapal.

Pada periode Oktober – Desember 2018 dan Januari 2019 (penarikan data per 25 Januari 2019) berjumlah 1486 unit kapal. Dengan komposisi ijin daerah 553 unit kapal dan ijin pusat 933 unit kapal.

Data kapal yang sudah masuk dan diverifikasi oleh pelabuhan periode Oktober – Desember 2018 dan Januari 2019 (penarikan data per 25 Januari 2019) berjumlah 529 unit kapal. Dengan komposisi ijin daerah 262 unit kapal dan ijin pusat 267 unit kapal.

Jumlah data yang sudah divalidasi pusat periode tahun 2018 hingga Januari 2019 (penarikan data per 25 Januari 2019) dan melakukan pelanggaran “tidak patuh” berjumlah 989 perusahaan dengan 1528 unit kapal dan 3198 trip.

Penerapan aplikasi e-log book penangkapan ikan oleh nelayan Indonesia, yang pertama di Asean. Indonesia pertama di Asean dan satu dari sedikit negara di Asia yang sudah memakai model sistem elektronik untuk log book penangkapan ikan.

Hal ini sebagai bentuk komitmen Pemerintah Indonesia dalam menanggulangi illegal unreported and unregulated (IUU) fishing (praktik Penangkapan ikan ilegal, tidak terlaporkan dan menyalahi aturan). Menerapkan sistem pencatatan data perikanan tangkap yang baru melalui aplikasi pada telepon pintar atau e-logbook akan menjadi solusi bagi Indonesia dalam melaksanakan pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Data perikanan tangkap ini penting harus disadari semua pihak terkait perikanan tangkap, karena menjadi bahan perumusan kebijakan pengelolaan perikanan oleh Negara untuk meningkatkan nilai kepatuhan Indonesia dalam perikanan regional.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed