by

Menyikapi Dinamika SMAN 1 Rambah, Kebanggaan Masyarakat Negeri Seribu Suluk Awalnya Dibangun Dari Sumbangan Botol Hingga Kini Berdiri Megah

Pasir Pangaraian, 10 Juli 2020

Catatan: H Syarkewi SE (Aktifis Politik Partai Golkar Rohul)

ROKAN HULU-Menyikapi dinamika akhir-akhir ini, terkait SMAN 1 Rambah, merupakan sekolah kebanggan masyarakat Negeri Seribu Suluk, dari awal dibangun di bawah pondasi kegotong-royongan dari masyarakat, dengan harapan lembaga pendidikan itu bisa menjadi suluh (Obor) bagi masyarakat.

Untuk diketahui, SMAN 1 Rambah tersebut, didirikan pada Tahun 1965, awalnya nama Sekolahnya yakni SMA Pilial (Jarak Jauh) dari SMA Kabupaten Kampar dengan murid pertama sebanyak 15 orang.

Kemudian, para tokoh-tokoh ketika merasa perlu memikirkan pendidikan generasi atau masyarakat, tepat pada tahun 1968, setelah dibentuknya Panitia Lima dan Tujuh, dilakukan peletakan Pertama SMA 1 Rambah oleh Bupati Kampar.

Diketahui Panitia Lima , terdiri dari H Muhammad Said Nasution sebagai Ketua, kemudian Wakilnya Bactaruddin Lubis, Sekretaris Rustam Kamsto, Wakil Sektaris Ali Amran Muhammad dan Bendahara Swil Kasim.

Mereka ini, dibantu masyarakat, bertugas menyelenggarakan dan menciptakan supaya Proses Belajar Mengajar (PBM) sampai bisa aktif serta berjalan normal di sekolah tersebut, termasuk mencari guru dan lainnya.

Kemudian, Panitia Tujuh, yakni Amin (Ketua), dengan pengurus lainnya, Amiruddin Nasution, Aladin RS, Muchtar MA, Baharudin, Suwita Bakar dan Siunye.

Mereka, memfokuskan untuk melaksanakan pembangunan, termasuk sarana, fasilitas, gedung, sehingga sekolah tersebut PBMnya bisa berjalan dengan optimal.

Pada saat itu situasi politik dan ekonomi sangat tidak menentu, namun dengan tekat yang kuat serta semangat kegotong-royongan, pembangunan sekolah tersebut dapat terwujud dan kini menjadi kebanggan masyarakat Rohul saat ini.

Bahkan, kala itu, untuk merealisasikan impian tersebut, masyarakat saling bahu-membahu, termasuk mengumpulkan sumbangan Masyarakat Kecamatan Rambah dalam bentuk menyumbangkan botol, tanah dan hasil pemutaran flim ini dipergunakn untuk digunakan bangunan dan PBM.

Namun, meskipun ketika itu serba penuh keterbatasan, namun bisa dilihat hari ini, sekolah tersebut, sudah megah dan beridiri kokoh, bahkan sudah banyak menelurkan tokoh-tokoh, baik tingkat, Rohul, Riau dan nasional.

Tapi akhir-akhir ini ada kebijakan strategis nasional kalau pendidikan tingkat SMA menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi, meskipun bagitu, tentu tak terlepas dari tanggung jawab masyarakat, sehingga kegiatan PBM di sekolah tersebut menjadi lancar dan berjalan dengan sebaik mungkin.

Bahkan tidak beberapa pekan terakhir, malah muncul persoalan, dugaan melakukan pungutan terhadap murid baru, seharusnya itu tidak perlu terjadi, karena asas dan berdirinya, sekolah tersebut ada kesepakatan, kemupakatan dan kegotong-royongan.

Jika dulu, dalam keadaan dan kondisi keterbatasan, bisa melahirkan lembaga pendidikan tersebut, bukan hari ini, sudah lebih maju dan modren, mestinya semuanya dilakukan dengan komunikasi konstruktif dan duduk bersama melalui asas musyawarah-mufakat, tanpa harus menuding ini dan itu.

Semua elemen, seharusnya, bisa meberikan solusi efektif dan konstruktif, sehingga nama baik SMAN 1 Rambah tersebut, tetap terjaga serta menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Rokan Hulu.

Solusi efektif lainnya, mungkin bisa juga, karena kini lagi ada agenda reses Anggota DPRD Provinsi Riau, itu bisa difasilitasi agar dinamika serta kemajuan SMA N 1 Rambah itu dapat menjadi pemikiran dan perhatian utama untuk diaspirasikan wakil rakyat tersebut kepada Gubernur Riau, khususnya dinas terkait.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed