by

“Kami Tuntaskan Perjuangan Awal Dan Kami Do’akan Perjuangan PPI Untuk Perbaikan Pelaut”

JAKARTA-Beberapa kali kami, Pelaut KPI (Kesatuan Pelaut Indonesia), menerima pesan dari sarana media sosial khususnya yang menggunakan facebook para sahabat pelaut yang berhimpun di Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI), dan diucapkan terimakasih atas adanya silaturakhmi meskipun melalui medsos.

Sekarang PPI sudah memiliki legal standing sebagai organisasi berbentuk serikat pekerja (SP) maka tertulis SP PPI. Disambut baik oleh Pelaut KPI, karena memang tidak dilarang bahkan sebaliknya dijamin oleh konstitusi negara sebagai hak setiap warga negara untuk bebas berkumpul dan berserikat.

“Apalagi kran demokrasi dibuka seluas-luasnya sesudah reformasi 1998, terlebih selama Bapak Presiden Jokowi yang mendambakan iklim demokrasi berjalan secara bebas meskipun tetap harus bertanggungjawab. Itulah hakikat yang tercermin dari butir kedua Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Menuntut keadilan tapi sebaiknya beradab, itu kira-kira dalam memaknai butir kedua Pancasila tersebut”, papar Teddy Syamsuri yang sudah lama purnalayar dan terakhir eks pelaut kapal pesiar Premier Cruise Line (PCL) dalam rilisnya kepada pers (20/9/2020) untuk semakin memperkuat tali silaturakhmi dengan para sahabat pelaut di PPI.

Hasoloan Siregar atau Solo yang juga purnalayar eks pelaut dikapal Shell Tanker BV bersama Teddy kemudian turut berbincang soal eksistensi PPI tersebut. Bertolak pada 29 Oktober 2015, Solo menerima surat balasan resmi dari Kemenkumham yang membalas surat komunitas Pelaut Anggota KPI yang kemudian disebut Pelaut Senior tertanggal 6 Oktober 2015.

Surat balasan resmi dari Direktur Perdata Ditjen AHU Kemenkumham itu menegaskan bahwa organisasi KPI tidak terdaftar pada data base Badan Hukum Ditdata Ditjen AHU Kemenkumham sebagai organisasi perkumpulan, padahal organisasi KPI pada bulan Desember 2014, 10 bulan sebelumnya, sudah menyelenggarakan Kongres VIII KPI di Fourseason Hotel Kuningan, Jakarta Selatan.

“Ini ironis sebab dengan demikian organisasi KPI tidak memiliki legal standing yang diakui pemerintah karena sudah 10 bulan hasil Kongres VIII KPI belum dicatat dalam data base badan hukum Kemenkumham. Itu sebab kami sepakati untuk mengcopy banyak surat Kemenkumham itu untuk disebarkan kepada para sahabat pelaut yang biasa ngumpul di Tanjung Priok”, ungkap Solo.

Rupanya gayung pun bersambut, copy surat Kemenkumham itu telah membuat para sahabat pelaut yang kerap ngumpul di Tanjung Priok mulai mengadakan pertemuan-pertemuan membahas tidak adanya legal standing organisasi KPI yang waktu itu dianggap sebagai Rumah Besar Pelaut Indonesia.

Pertemuan beberapa kali dalam membahas untuk menyelamatkan eksistensi organisasi KPI, dipusatkan di Taman Kebon Bawang, Tanjung Priok. Orasipun dengan penuh semangat disampaikan oleh pelaut muda Andri Sanusi, oleh Ketua Umum Forkami James Talakua, tokoh pelaut Wawan Cakra, dan lainnya silih berganti. Bagi Pelaut Senior merasa luar biasa mendengar informasi tersebut, sebab belum bisa hadir meskipun diundang.

Para sahabat yang concern terhadap organisasi KPI yang didirikan oleh para tokoh pelaut baik dari kampus, alumni maupun perwira di kapal-kapal niaga nasional, yang konsensusnya dibentuk dari, oleh, dan untuk pelaut Indonesia sendiri. Jelas merasa terpanggil sebagai kewajiban dan tanggungjawab moralnya untuk menyelamatkan organisasi KPI. Maka tagar #SaveKPI juga jadi trading topik para sahabat pelaut saat itu, awal tahun 2016.

Karena berbekal semangat yang satu hati dan satu jiwa tersebut, maka mengkerucutlah suatu narasi yang dijadikan fokus perjuangan, yaitu, mohon maaf jika tidak keliru, menuntut mundur Pengurus Pusat (PP) KPI dan mendesak digelar KLB. Untuk mengakomodasi tuntutan itu, para sahabat kemudian menyepakati bernama Pergerakan Pelaut Indonesia atau PPI.

Sepengetahuan Teddy dan Solo, dua kali PPI gelar demo aksi damai dengan menggeruduk kantor KPI pusat di Jl. Cikini Raya No. 58AA-BB Menteng, Jakarta Pusat dengan kekuatan massa cukup banyak sekitar 500 pelaut yang tentunya baru kali itu ada demo pelaut yang sempat memacetkan jalan Cikini Raya.

Di dua demo aksi damai PPI, baik Teddy maupun Solo selalu mengikuti sampai ikut dalam delegasi PPI saat berdebat dengan PP KPI di kantor Cikini tersebut. Meskipun baik Teddy maupun Solo, termasuk Djoko Saliyono, Kusnadi atau Yus dan Amin Nabu sedang sibuk memenuhi panggilan Polres Metro Jakarta Pusat yang saat itu masih beralamat di Jl. Kramat Raya sebagai terlapor atas laporan PP KPI sebagai pelapor, dengan tuduhan mencemarkan nama baik PP KPI karena adanya unggahan akun facebook Pelaut Senior yang dianggap pencemaran nama baik pelapor.

Saat ikut demo aksi damai PPI yang kedua kalinya, merasa terkejut luar biasa melihat pasukan buru sergap Polda Metro Jaya moncong senjatanya menembakkan gas air mata dihadapan massa pelaut PPI yang sejatinya masalah internalnya sendiri. Masalah pelaut dengan organisasinya sendiri, bahkan seorang Wakapolda Metro Jaya dilorong jalan sempit Pusat Perkantoran Cikini nampak bediri mengawasi keadaan usai penembakan gas air mata tersebut. Sementara mobil watercanon, barakuda dan truk angkut pendemo siap tunggu komando. Sungguh pandangan yang memiriskan hati ini, bagi Pelaut Senior harus mengapresiasi atas daya juang para sahabat pelaut PPI.

Itu sebab ketika PPI diundang anggota DPR fraksi Partai NasDem, Irma Suryani Chaniago bahkan diundang hearing di komisi ketenagakerjaan DPR, baik Teddy maupun Solo selalu mendampinginya.

Hanya dalam perkembangannya entah para sahabat pelaut PPI menuruti anjuran Dirkapel Ir. Sugeng Wibowo yang saat hangat-hangatnya demo aksi damai PPI sempat menganjurkan sebaiknya PPI bentuk organisasi sendiri dan pihak Ditkapel siap memfasitasi atau tidaknya, tapi yang jelas ada konformasi yang pasti jika PPI sudah menjadi organisasi tersendiri dan berbentuk SP.

Dengan demikian dan pastinya tidak bisa lagi PPI berurusan dengan organisasi KPI apalagi sesama organisasi serikat pekerja, karena sudah bukan lagi domain PPI untuk menuntut mundur PP KPI dan mendesak digelarnya KLB sebagaimana awal perjuangan PPI.

“Namun demikian biarkan kami, Pelaut KPI, yang memegang tongkat estafet untuk menuntaskannya sampai harapan kita semua tercapai. Aspirasi Pelaut KPI jelas, menuntut eksekusi PP KPI tanpa kompromi dan tidak bisa ditawar- tawar lagi. Desak segera Munaslub KPI secara demokratis harga mati dalam tempo yang sesingkat sesingkat-singkatnya. Dan minta Dirjen Hubla dalam kapasitas sebagai Pembina KPI eks officio melakukan audit atas asset organisasi KPI secara independen, bersih, transparan, profesional diciptakan dan akuntabel. Do’akan yah sahabat pelaut PPI, jangan lupa jaga kesehatan selalu”, tutur Teddy Syamsuri.

“Mari kita saling dukung, saling bergandengan tangan, demi perubahan serta perbaikan nasib pekerja profesi pelaut ke depan. Kami, Pelaut KPI yang sudah purnalayar hanya ingin organisasi KPI memenuhi tuntutan regenerasi dalam kepengurusannya yang selama ini dikuasai oleh mereka mereka saja yang sudah tua dan tanpa batas waktu atau berkuasa secara unlimited yang bertentangan dengan spirit reformasi, apalagi sang Presiden KPI bukan pelaut. Bagi Teddy dan saya, tak punya kepentingan apapun meski kontribusi terhadap organisasi KPI itu nyata. Tegasnya, tidak mau jadi pengurus KPI. Ini semua demi perbaikan dan kesejahteraan pelaut ke depan. Siapa lagi yang bisa merubah nasib selain dirinya sendiri. Maka mari kita bersatu meskipun masing-masing berada di kamar organisasi yang berbeda. Kami, Pelaut KPI senantiasa mendukung eksistensi PPI sekaligus mendo’akan agar sukses selalu”, pungkas Hasoloan Siregar menyudahi rilis bersama Teddy Syamsuri di markasnya dibilangan Jatinegara, Jakarta Timur.

(Ts66)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed