by

KAMI Ingin Ajak Mahasiswa Berpikir Kritis ‘Lagi’

SURABAYA – Setelah viral kasus proposal pembubaran deklarasi KAMI Jatim oleh PC PMII Surabaya, kini kelompok mahasiswa lainnya mengatasnamakan Mahasiswa Arek Suroboyo (MAS) menolak kehadiran KAMI.

Penolakan yang dilakukan MAS itu disampaikan Koordinator Mahasiswa Arek Suroboyo, Sahala yang juga mahasiswa asal UPN Veteran Jatim di Angkringan Merah Putih Kenjeran, Surabaya pada Rabu, (23/9).

Ada tiga poin MAS yang disampaikan, keberatan Mahasiswa Arek Suroboyo terhadap KAMI, 1. pandemi, 2. merongrong keutuhan bangsa 3. pernyataan Gatot Nurmantyo (GN) atas pergantian jabatan Panglima TNI.

Dengan 3 poin yang disampaikan Mahasiswa Arek Suroboyo itu, mendapat respon cepat dari Komite Khusus KAMI Jawa Timur, Laksma (Purn) Arief Maksum.

“1. Bila karena pandemi, mestinya semua mesin politik pemerintah difokuskan untuk mengatasi pandemi, nyatanya TKA China dibiarkan menjarah kekayaan negara. Contoh, mutakhir adalah pengusiran penambang emas di Ketapang Kalbar. Kenapa MAS diam…!!!,” katanya saat dihubungi via WhatsApp. Sabtu, (26/9/2020).

2. Merongrong keutuhan bangsa, lanjut Arief, selama ini narasi yang dibangun KAMI, justru untuk meluruskan kembali tujuan kemerdekaan berbangsa Indonesia, Omnibuslaw, UU Minerba.

“Dan UU-HIP adalah contoh jelas bagaimana pemerintah telah mengebiri tujuan bernegara, hak rakyat disunat, kekayaan negara bukan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat, kenapa MAS diam….!!!” tanyanya lagi.

“Pernyataan GN, nuansa awal kebangkitan PKI-perjuangan sangat jelas di tahun 2014, semua narasi tentang PKI hampir tertutup, orang mulai gamang bicara kekejaman PKI, bahkan nuansa akan meniadakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, juga digulirkan,” ungkapnya.

Jadi, lanjut Arief, mestinya MAS sebagai organisasi mahasiswa, harus belajar menganalisa kejadian, biar setiap kata yang keluar bermakna dan bermanfaat bagi kesejahteraan Indonesia.

“KAMI ingin mengajak diskusi dan duduk bersama dengan MAS untuk saling membiasakan diri berada dalam dialektika yang konstruktif (berpikir kritis), itu lebih baik,” ajak Laksma (Purn) Arief Maksum. (ari)

Foto : Logo KAMI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed