by

OIC Youth Indonesia Dsak Pemerintah RI Pertimbangkan Kembali Hubungan Diplomatik Dengan Armenia

Azerbaizan-Dalam pidato Presiden Joko Widodo tersebut, beliau telah menyampaikan bahwa di 75 tahun sejak PBB berdiri sebagai organisasi antar pemerintah terbesar di dunia, masih banyak yang perlu dicapai bersama dan dirasakan oleh sebagian besar warga dunia, terutama dalam hal perdamaian dan keamanan. Kami sebagai OIC Youth Indonesia berpendapat bahwa pidato Presiden Jokowi sudah cukup memadai dalam menyampaikan pentingnya multilateralisme, pentingnya memperjuangkan perdamaian khususnya bagi negara-negara yang belum merdeka (Palestina), pentingnya kerjasama dalam mengatasi pandemi, dan pentingnya mencapai tujuan kesejahteraan bagi semua.

Menurut Sekretaris-Jenderal OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, peran Indonesia sebagai bagian dari solusi perdamaian, sebagai mediator semestinya lebih aktif, sebab ini adalah tahun terakhir Indonesia menjabat sebagai anggota Dewan Keamanan PBB untuk periode 2018-2020.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu sangat ditunggu perannya dalam menjadi bagian dari solusi khususnya dalam menangani konflik di negara-negara saudara muslim.

Di Organisasi Kerjasama Islam (OKI) , selain Isu Palestina, terdapat juga Isu Kashmir (India – Pakistan) , Isu Rohingya (Myanmar), dan Isu Nagorno-Karabakh (Armenia-Azerbaijan).

Peran Indonesia dalam memberikan sikap terkait konflik Armenia – Azerbaijan masih kurang optimal. Misalkan, jika kita menelusuri di berbagai laman web, kita akan menemukan jauh lebih banyak rekam jejak kerjasama bilateral Indonesia – Armenia dibandingkan Indonesia – Azerbaijan.

“Kami dari OIC Youth Indonesia menyayangkan minimnya sikap jelas pemerintah RI, padahal hari ini hari ketiga perang kedua negara tersebut,” katanya.

Konflik dimulai tanggal 27 September 2020, terjadi eskalasi antara Azerbaijan dan Armenia di Nagorno Karabakh, wilayah territorial Azerbaijan yang diakui secara internasional di PBB tahun 1993.

Sebelumnya pada tahun ini di bulan Juli sempat terjadi juga agresi tentara Armenia terhadap pemukiman warga Azerbaijan di Nagorno Karabakh.

Eskalasi di bulan Juli memakan beberapa korban di kedua belah pihak termasuk Mayjen Azerbaijan, Polad Hashimov.

Sebagai warga negara Indonesia, melihat negara kita memiliki hubungan diplomatik dengan Armenia, tidak membuat kita tumpul dalam menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan. Yang dilakukan oleh tentara Azerbaijan terhadap tentara Armenia adalah serangan counteroffensive, yakni melindungi hak territorial wilayahnya. Dalam menyikapi ini, sudah jelas bahwa Armenia telah melanggar norma dan prinsip dasar hukum internasional, hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahannya, serta resolusi DK PBB 822, 853, 874, 884 tahun 1993.

OIC Youth Indonesia memandang bahwa Indonesia sebagai anggota DK PBB perlu lebih proaktif, terlebih jelas-jelas PBB sudah menyepakati bahwa Nagorno-Karabakh adalah wilayah Azerbaijan. Sebagai sesama anggota OKI dan anggota Gerakan Non Blok (GNB), Indonesia tidak perlu berpikir dua kali untuk tidak membela Azerbaijan.

“Bahkan menurut kami akan jauh lebih konkrit dan menguntungkan bagi Indonesia jika kita memperkuat secara intens kerjasama bilateral, baik segi sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan militer dengan Azerbaijan,” lanjutnya

OIC Youth Indonesia sebagai organisasi kepemudaan Islam yang menghimpun berbagai OKP Islam di Indonesia telah turut serta dalam meningkatkan kesadaran di masyarakat tentang wilayah territorial Nagorno Karabakh milik Azerbaijan, terutama dalam kerangka Kampanye “Justice for Khojaly” International Awareness Campaign oleh Pemuda OKI Dunia (ICYF) yang diluncurkan tahun 2008. Beragam acara peringatan tragedi tanggal 26 Februari 1992 yang memakan paling sedikit 161 nyawa tak bersalah telah diadakan OIC Youth Indonesia di Masjid Istiqlal, Bundaran HI, Sekolah-sekolah, dan berbagai Universitas.

Dengan berjalannya konflik di hari ketiga dan minimnya respons pemerintah, menunjukkan bahwa Presiden Joko Widodo dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah salah arah dalam menentukan arah peta diplomasi. Kami dari OIC Youth Indonesia menunggu implementasi janji visi misi Presiden Jokowi dalam Diplomasi, khususnya Diplomasi Islam, terutama sikap tegas dari pemerintah terkait konflik Armenia – Azerbaijan ini, termasuk jika perlu pertimbangkan ulang hubungan diplomatik dengan Armenia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed