by

Boris Syaifullah: Best for the World

Boris Syaifullah: Best for the World (Menjadi yang Terbaik untuk Dunia)

“Rencana besar Boris Syaifullah membangun SMK Borsya Telekomunikasi, merupakan upaya mulia dan amaliahnya untuk menghadirkan pendidikan yang berbasis pada merdeka belajar yang terdiri dari spesialis big data, spesialis artificial intelligence (AI) dari Sumbawa untuk Dunia.”

Rusdianto Samawa, Menulis dari Warkop Roakawa Sumbawa

Boris Syaifullah yang akrab disapa Borsya (—seterusnya dalam tulisan ini akan disebut Borsya untuk persingkat). Mengamati Borsya tidak cukup waktu hanya beberapa tahun ini. Walaupun pernah bertemu sekali tahun 2018, bulan Februari di Plaza Indonesia. Saat itu agendanya roadshow menggalang dukungan untuk merebut kepemimpinan Kadin Jawa Barat.

Namun, gagal karena vote saat pemilihan ketua kadin Jawa Barat kurang sehingga tidak terpilih. Dalam perjalanan Borsya tidak menyerah untuk berbakti sehingga mencoba peruntungan pada pencalonan Ketua Umum Apnatel Jawa Barat, hasil akhirnya terpilih atas suara mutlak dibabak akhir. Dengan menyingkirkan lawan politiknya.

Sebelumnya, sepengetahuan saya pribadi, setelah mengamatinya: Borsya memang pengusaha papan menengah, karena memulai karirnya sebagai pekerja di Industri telekomunikasi Korea. Jabatannya pun tidak tanggung setelah kembalinya dari Korea yakni dipercaya menjadi mitra utama dalam hal industri telekomunikasi Indonesia yang bekerjasama Kadin Korea Bandung. Sekarang Kadin Korea Bandung juga ia nakhkodai.

Tentu kepercayaan Kadin Korea kepada Borsya sesungguhnya bukanlah mudah, tentu ada proses kepercayaan yang di dalami sebelum memilih Borsya sebagai mitranya. Keterpilihan Borsya merupakan value (nilai) yang sudah tercatat dalam jejak perjalanannya. Jelas, penilaian kepercayaan itu subjektif karena Borsya dinilai sangat jujur, kapabilitas dan konsistensi pada bidang yang dikuasainya.

Saat ini pun, saya terkesima dengan Borsya yang berencana mendirikan sebuah sekolah atau kampus perguruan tinggi telekomunikasi yang dinamakan: “SMK Borsya Telekomunikasi.” Lokasi yang dipilihnya Sumbawa. Tentu ini rasa syukur yang mendalam dan harus di dukung semua pihak. Karena Borsya ini merupakan aset besar Tau Tana Samawa yang memiliki komitmen kuat membangun Sumbawa kedepannya.

Tentu, Borsya sebagai founding father SMK Borsya Telekomunikasi itu sudah membaca arah masa depan yang segera dijemput. Bagi Borsya pemikirannya melampaui kaum muda yang lainnya. Karena Borsya sesunggu sudah melihat dan mengamati dunia saat ini tengah dihadapkan dengan disrupsi pekerjaan dibeberapa lini industri, termasuk sektor unggulan.

Borsya mampu meneropong peradaban masa kini dimulai dari Sumbawa untuk dunia. Karena, Borsya telah mengidentifikasi ada kebutuhan mendasar atas penguasaan keterampilan baru di Sumbawa yang menjadi keniscayaan bagi perusahaan Borsya group itu sendiri.

Atas cakupan pemikiran Borsya melihat dunia itu, maka mencoba membangun infrastruktur peradaban melalui sektor pendidikan dengan tujuannya agar ada keseimbangan antara output dan input yang dibutuhkan masyarakat Sumbawa.

Contoh: masyarakat Sumbawa harus berpindah mainseat dari bercita-cita menjadi birokrat kepada praktisi dalam dunia teknologi. Dahulu, mungkin jenis pekerjaan seperti spesialis big data, spesialis artificial intelligence (AI), atau analisis data belum dibutuhkan perannya. Namun, sekarang Borsya melihat peluang yang ada sehingga berencana membangun: “SMK Borsya Telekomunikasi.”

Dengan demikian, Boris Syaifullah yang menakhkodai perusahaannya: Borsya Group mengintip peluang itu dalam beberapa tahun terakhir hingga puluhan tahun ke depan, bahwa: permintaan (demand) terhadap pekerja sektor ini diprediksi akan meroket dan peluang bisnis to bisnis sangat besar.

Selain itu, Boris Syaifullah dalam nurani dan nyali besarnya memiliki tugas dan fungsi membangun peradaban masyarakat Sumbawa. Karena menurutnya, generasi Sumbawa sudah semestinya mempunyai pengetahuan dan penguasaan soft skill (kemampuan) yang bersifat afektif dan psikomotorik. Karena, sesungguhnya masyarakat Sumbawa paling tidak, harus memegang dua kemampuan peran yang sangat penting itu tadi.

Boris Syaifullah dianggap berkemampuan tinggi membaca situasi, seperti critical thinking, problem solving, communication, collaboration, dan creativity atau invention yang menurutnya justru sangat dibutuhkan dalam persaingan global dunia saat ini.

Disitulah saya merasa bangga dengan Boris Syaifullah sala satu kaum muda yang satu ini. Walaupun, dilain sisi, antara saya dan dirinya banyak perbedaan. Menurutku, perbedaan hanya muncul pada pandangan. Tetapi, kebersamaan dan empati untuk membangun masyarakat Sumbawa tak boleh berbeda, harus sama frekuensinya. Kebanggaan ini tidak hanya saya sendiri. Jelas, masyarakat Sumbawa lebih tinggi derajat kesahihan bangganya atas prestasi Borsya yang selama ini diraihnya. Dukung terus Borsya.

Tersentuh hati dan sedikit mata basah atas inisiatifnya membangun SMK Borsya Telekomunikasi yang saya saksikan sendiri melalui video yang broadcast-nya (sebarkan) itu. Karena, pikiran masyarakat Sumbawa sekarang sangat tinggi labil atas banyaknya pengangguran dan minimnya mencetak lapangan pekerjaan.

Maka, Borsya dalam hal ini, mengambil peran menggagas sistem sekolah menengah kejuruan yang diyakini kedepannya memiliki peran vital dalam mempersiapkan individu global dan mencetak tenaga kerja berkualitas untuk masa mendatang. Bravo Borsya.

Sedikit melansir white paper yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) pada Januari 2020, dunia saat ini membutuhkan metode Pendidikan 4.0 guna mendukung The Fourth Industrial Revolution. Pada white paper tersebut, disebutkan delapan karakteristik kritis dalam konten dan pengalaman pembelajaran untuk menerapkan pendidikan 4.0.

Meliputi kemampuan masyarakat global, kemampuan berinovasi dan berkreativitas, kemampuan teknologi, kemampuan interpersonal, dan pembelajaran yang telah dipersonalisasi sesuai karakteristik individu masing-masing (personalized and self-paced learning). Borsya sangat menyadari akan kemampuan generasi masyarakat Sumbawa dimasa yang akan datang. Hebat analisis kebutuhan Borsya: taktis dan praktis.

Kita terus saling mendoakan agar Borsya menjadi mercusuar pembelajaran telekomunikasi yang handal dan menyiapkan pembelajaran inklusif yang berbasis pada masalah dan kolaboratif, serta pembelajaran seumur hidup sesuai dengan kebutuhan siswa (lifelong and student-driven learning). Saya kira sekolah SMK Borsya Telekomunikasi nantinya memberikan kekuasaan pada siswanya diberikan kemerdekaan belajar untuk bisa lebih meningkatkan kualitas.

Ketika metode belajar merdeka yang ditetapkan di SMK Borsya Telekomunikasi nanti. Maka Boris Syaifullah adalah orang kesekian yang menguasai dunia. Karena, merdeka belajar merupakan suatu filsafat pembelajaran untuk menguasai dunia sekarang dan yang akan datang. Jelas, tidak akan bisa dengan metode pembelajaran seragam karena dapat menurunkan kualitas sumberdaya manusia.

Boris Syaifullah bersama SMK Borsya Telekomunikasi harus mencoba suatu metode yang baru ini sehingga lebih kreatif, inovatif, dan kolaboratif. Dengan kemerdekaan belajar, akan tercipta ruang kelas yang parsitipatif sehingga guru dan murid dapat semakin baik melalui proses belajar mengajar mereka.

Apalagi, SMK Borsya Telekomunikasi nanti menggunakan merdeka belajar melalui metode STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) menjadi salah satu kunci penting dunia pendidikan menghadapi era 4.0. Pasalnya, STEAM bisa mendorong pengembangan ilmu sains, teknologi, teknik, dan matematika semakin kreatif.

Kehebatan analisis kebutuhan seorang kaum muda seperti Boris Syaifullah ini bahwa sekolah-sekolah selama ini tanpa sikap praktik, maka belum lengkap persentase keberhasilannya. Jika ditambahkan “arts” bisa melihat lebih jauh untuk menyelesaikan masalah sehingga muncul akselerasi berpikir analitis dan kolaboratif.

Saya sendiri telah memahami satu intisari keberpihakan Borsya, sebagaimana dalam tulisan ini bahwa Boris Syaifullah telah membaca melampaui para generasi yang lain untuk melengkapi kontribusi kepada Sumbawa untuk dunia.

Dengan demikian cita-cita menghasilkan anak bangsa yang berdaya saing tinggi dan berkualitas bukan lagi menjadi angan-angan belaka. Hal tersebut, sesuai prinsip yang dipegang teguh oleh Boris Syaifullah, yakni Best for the World (Menjadi yang Terbaik untuk Dunia).[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed