by

Mengenang Perjuangan Almarhum Ricky Salaka Melakukan Perlawanan Terhadap PP KPI

JAKARTA-Pada Senin dini hari, 19 Oktober 2020, jam 02.00 W8b telah berpulang keharibaan Tuhan seorang aktivis pelaut almarhum Ricky Salaka yang meninggal dunia di RS Pengayom dilingkungan kompleks Rutan Salemba Jakarta Pusat, yang ditahan setelah ditangkap lebih dulu oleh Polda Metro Jaya pada malam hari ril 2020.

Ditangkap oleh Polda Metro Jaya atas laporan dakwaan Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) yang diduga melakukan tindak pidana penyerobotan gedung KPI Cabang Tanjung Priok yang beralamat di Jl. Kebon Bawang Raya I No. 7B Jakarta Utara dan penggelapan mobil operasional KPI.

Dari catatan komunitas Pelaut KPI, almarhum Ricky Salaka adalah tokoh dibalik gugatan perdata komunitas Pelaut Senior KPI Tanjung Priok terhadap PP KPI yang beralamat di Jl. Cikini Raya No. 58AA-BB Menteng Jakarta Pusat yang sidang perdananya pada 21 Maret 2016 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tapi gagal karena diduga oleh banyak pelaut pihak tergugat diperkirakan tebar duit dan duit itu adalah duit organisasi KPI.

Tentunya duit hasil keringatnya para pelaut Indonesia yang bekerja di kapal-kapal asing di luar negeri, yang berupa setoran kontribusi yang ditransfer pihak perusahaan pelayaran yang mempekerjakan pelaut Indonesia sebagai awak kapalnya.

Dakwaan penyerobotan gedung KPI cabang Tanjung Priok itu terjadi pada tahun 2016 saat Ketua KPI cabang Tanjung Priok adalah Capt. Silvester Hutahiruk dan almarhum Ricky Salaka sendiri menjabat Sekretarisnya yang sempat melengserkan Capt. Silvester Hutahuruk dan kurang berdaya. Pihak PP KPI nampaknya merasa tidak suka atas tindakan almarhum Ricky Salaka.

Kemudian diambillah suatu keputusan pemecatan terhadap almarhum Ricky Salaka oleh PP KPI, dengan sekaligus mengangkat Sandewang jadi ketua dan Zakaria menjadi sekretarisnya pengurus KPI cabang Tanjung Priok.

Namun karena dukungan pelaut senior di Tanjung Priok terhadap almarhum Ricky Salaka sangat kuat, maka Sandewang dan Zakaria hanya tinggal nama saja, serta gedung KPI cabang Tanjung Priok pun mau tidak mau masih tetap berada dibawah kekuasaan almarhum Ricky Salaka.

Dalam perkembangannya dan atas solidaritas sesama pelaut senior Tanjung Priok, dalam rangka melalukan perlawanan dengan PP KPI Cikini. Kemudian didaulat Haneman Surya mantan Wakil Presiden KPI periode 2004-2009 sebagai ketua dan almarhum Ricky Salaka kembali menjadi sekretarisnya pengurus KPI cabang Tanjung Priok.

Bagi komunitas Pelaut KPI yang berposko di markas Yake di Jl. Raya Jatinegara Timur No. 61-65 Jakarta Timur 13310 dan sebelumnya bernama Pelaut Senior, mengenang perlawanan almarhum Ricky Salaka terhadap PP KPI nampak sejak almarhum ikut aksi damai Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) yang menggeruduk gedung KPI Pusat Cikini pada aksi pertama bulan April 2016 dan yang kedua bulan Mei 2016 bersama ratusan massa pelaut Tanjung Priok begitu heroiknya sangatlah punya pengaruh dan menaruh simpatik.

Bahkan di aksi damai PPI pertama, almarhum ikut juga dalam satu delegasi PPI saat berhadapan langsung dengan Presiden Eksekutif KPI almarhum Hanafi Rustandi dan Sekjen rangkap Bendahara KPI Mathias Tambing yang saat ini menjadi Presiden KPI dari KLB tahun 2017 yang sarat rekayasa itu.

Almarhum Ricky Salaka nampak mengawal terus komunitas PPI baik saat audiensi dengan anggota DPR Irma Suryani Chaniago maupun saat hearing dengan Komisi XI DPR saat membahas MLC 2006 untuk dijadikan RUU tentang ratifikasinya ditingkat akhir. Kemudian RUU Ratifikasi MLC menjadi UU No. 15 Tahun 2016 tentang Pengesahan Konvensi Ketenagakerjaan Maritim tahun 2006.

Terlepas dari kekurangan atau kelebihan yang ada pada diri almarhum Ricky Salaka, daya juang untuk memajukan nasib pelaut yang ada di Tanjung Priok sangatlah potensial dan berjalan konstan, yang bagi komunitas Pelaut KPI patut memberikan apresiasi.

Bahkan saat masih di Rutan Salemba sebelum jatuh sakit, Pelaut KPI sempat mendengar pesannya yang katanya almarhum berkeinginan membersihkan gedung KPI cabang Tanjung Priok yang pastinya sudah kotor ditinggalkan oleh almarhum selama berada di Rutan Salemba.

Jika mau jujur menyimak begitu heroiknya almarhum Ricky Salaka melakukan perlawanan tanpa reserve terhadap PP KPI Cikini, tiada lain disamping ditangan almarhum bisa membuat Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau Collective Bargaining Agreement (CBA) dengan pihak perusahaan pelayaran sendiri untuk penempatan kerja bagi pelaut yang berbasis di Tanjung Priok.

Juga terasa karena adanya intervensi berlebihan dari PP KPI Cikini yang mengekang independensi KPI cabang Tanjung Priok untuk berlaku otonom.

Contoh yang dirasakan ialah adanya pesanan atau bisa disebut perintah, meski sifatnya tak tertulis oleh PP KPI Cikini. Yaitu, agar kantor KPI cabang Tanjung Priok dihindari untuk menjadi tempat berkumpulnya para pelaut manula sebagaimana yang diterapkan juga di kantor PP KPI Cikini untuk tidak dijadikan tempat pelaut manula berkumpul.

Sungguh tidak patut atas adanya pesanan atau perintah dari PP KPI itu, dan pengurus KPI cabang Tanjung Priok tak ambil pusing dengan ambil sikap mengabaikan bahkan membangkangnya.

Bagi komunitas Pelaut KPI yang purnalayar memang merasakan adanya ketidaksukaan rezim PP KPI sejak Kongres VI KPI tahun 2004 di Mandarin Oriental Hotel Jakarta Pusat, seperti ambil contoh terjadi dipukulnya seorang pelaut saat mau hadiri acara pembukaan kongres tersebut.

Ketidaksukaan seperti itu tidak kurangnya PP KPI tampilkan cara-cara premanisme dengan menggunakan para preman yang sebenarnya bukan pelaut untuk ditugaskan menghalau para pelaut manula jika berkumpul di kantor PP KPI Cikini bahkan di kantor KPI cabang Tanjung Priok.

Sangatlah ironis mengapa pengurus organisasi serikat pekerja profesi pelaut malah menabur permusuhan dengan pelaut anggotanya, terlebih lagi dengan pelaut anggota yang manula. Tidak pernah ada preseden organisasi serikat pekerja sektor apapun yang menampilkan rasa perseturuan dengan pekerja yang menjadi anggotanya. Tidak pernah ada!

Ketika serikat pekerja profesi pelaut KPI dideklarasikan tahun 1976 dan secara berturut-turut dinakhodai oleh era Capt. Pattinasranij, Capt. Azwar Nadlar dan sampai pun dinakhodai oleh Capt. Iskandar B Illahude, suasana keakraban dan kekeluargaan antara pengurus dengan pelaut anggotanya begitu harmonis dan sama-sama senang.

Tapi setelah KPI diurus oleh civil society yang semula diharapkan oleh para aktivis pelaut reformasi akan lebih baik ketimbang saat diurus oleh pejabat atau mantan pejabat pemerintah dalam hal ini pejabat dari Ditjen Hubla, justru berbalik 360 derajat dan menampilkan keburukan luar biasa. Sehingga wajar jika almarhum Ricky Salaka tampil untuk mengembalikan KPI cabang Tanjung Priok pada jatidirinya seperti keharmonisan antara pengurus dengan pelaut anggotanya saat dipimpin Barce Pinontoan. Tidak menampilkan disharmonis seperti dilakukan oleh PP KPI saat ini, bahkan makin menjadi-jadi ketika didalam gedung KPI Pusat Cikini ada tumpangan kantor hukum yang dimiliki Presiden KPI Mathias Tambing, menghalau kedatangan pelaut anggota ke rumahnya sendiri itu sudah menjadi kewajiban oknum pengacara kantor hukum tersebut karena memang terkesan dijadikan palang pintu. Luar biasa dzholomnya.

“Selamat jalan sahabat Ricky Salaka, semoga Tuhan memberkati dan sorga tempatnya. Bagaimanapun kesan yang ditinggalkan, Bung Ricky Salaka selain pemberani dan bertanggung jawab. Tentu bukan para sahabat Bung Ricky saja yang merasa kehilangan atas semangat untuk berjuang, yang almarhum wariskan. Dalam komunitas Pelaut KPI yang purnalayar dan mengenai dekat dengan almarhum, senantiasa turut berdukacita serta tetap mengenang saat sama berjuang meski beda tempat dalam upaya menyelamatkan organisasi KPI dari kerusakan terstruktur, sistematis dan massif yang dilakukan oleh PP KPI yang berperangai dzholim itu”, ucap Hasoloan Siregar atau Solo yang akunya bersahabat sangat baik dan dekat dengan almarhum Ricky Salaka sembari berharap keluarga yang ditinggalkan tetap tabah serta selalu diberkati kasih Tuhan.

Ucapan yang sama disampaikan juga oleh Teddy Syamsuri dan Penasehat Pelaut KPI Binsar Effendi Hutabarat. Dengan berkomitmen untuk berjuang terus menyelamatkan organisasi KPI sebagaimana tertuang dalam tiga tuntutan yang tersurat dalam Aspirasi Pelaut KPI 8 September 2020.

(pR

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed