by

LEMBAGA KEBUDAYAAN NASIONAL PUJI PONPES AL-ISTIQLALIYAH DAN USTADZ DASAAD

JAKARTA — Sikap warga Ponpes Al-Istiqlaliyah mengadakan Khaul ke-62 bagi guru besarnya, Tuan Sjech Abdul Kadir Al Djaelani, melalui siaran televisi dan video streaming, adalah arif dan patut diacungi jempol.

“Itu namanya cerdas dalam beragama, melek teknologi maju. Itu pilihan yang lebih tepat ketimbang menciptakan kerumunan massa di masa Covid19 ini,” kata Wakil Sekjen Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) Pusat, di Jakarta, Jumat (20/11/20).

Sedianya, Khaul akan dilaksanakan jam 07 – 20 WIB Ahad, 29 November 2020 di Ponpes Al-Istiqlaliah, Pasar Kemis, Tangerang, Banten.

Wakil Sekretaris Panitia Khaul, Agung Permana mengumumkan pemusatan jamaah seperti tahun-tahun lalu diganti melalui siaran televisi dan video streaming.

“Oleh karena itu, tidak perlu hadir ramai-ramai di Ponpes, cukup ikuti lewat siaran televisi dan video streaming,” kata Agung.

Menurut Suryadi, langkah yang diambil oleh keluarga besar Ponpes Al-Istiqlaliyah itu, adalah sikap yang menghargai hak sesama umat untuk memilih hidup sehat.

Mereka, lanjutnya, tidak emosional dan tidak mau hanyut ke dalam suasana yang terbentuk massif oleh kerumunan massa, mengingat pasti akan sulit dikendalikan meski sudah ada pengamanan protokol kesehatan (Protkes)

“Ini patut dicontoh oleh yang lain. Rasional dan tegas-tegas menunjukkan ponpes tidak punya kepentingan politik, kecuali demi kecintaan pada guru mereka sekaligus peduli pada hak sesama untuk hidup sehat,” kata Suryadi yang juga Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Komunikasi Kepolisian (PUSKOMPOL).

Baru-baru ini hal serupa juga dilakukan Ustadz Dr. H. Dasaad Latif di Kaltim.

Dasaad tak mau berceramah dalam acara yang dihadiri massa melampaui ketentuan dengan alasan tidak mungkin Protkes bisa efektif ditegakkan

Dasaad yang sengaja datang jauh-jauh dari Makassar, Sulsel, justru membubarkan hadirin. Ia menyeru agar semua kembali ke rumah masing-maising.

Tindakan keluarga besar Ponpes Al-Istiqlaliyah dan Ustadz Dasaad adalah tindakan cerdas dan rasional dalam beragama seperti tuntun agama Islam melalui Rasulullah Saw.

Mengundang atau membiarkan terjadinya kerumunan manusia pada masa pandemi, kata Suryadi, adalah tidak menghargai jasa para relawan yang telah dan terus bekerja keras dalam upaya-upaya penghindaran dan penyembuhan dari Covid19.

Seperti diketahui, hingga kini virus Covid19 belum diketahui wujudnya, sehingga selalu saja ditemukan orang tanpa gejala (OTG).

Obatnya belum pula ditemukan, kecuali vaksin yang sedang dalam proses dalam rangka layak divaksinasikan.

Sementara laju angka-angka korban Covid19 dalam katagori terpapar, OTG, reaktif, positif dan bahkan meninggal masih terus berfluktuasi. Harus diakui, memang ada pula pasien yang sembuh.***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed