by

Masa Depan Investasi Perikanan Budidaya: Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Santong Sumbawa

Penulis: Rusdianto Samawa, Pendiri Teluk Saleh Institute, Menulis saat BatikAir Flight Jakarta – Makassar

________________

Keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Santong Sumbawa magnet pengelolaan sumber daya kelautan – perikanan, kehutanan (hutan sosial), Pertanian, dan fasilitas pelabuhan. Walaupun KEK Tanjung Santong masih proses izin dan beberapa sudah selesai dikerjakan.

Tugas Pemerintah Kabupaten Sumbawa kedepan, membuat kelembagaan Badan Otoritas Pengelolaan KEK Tanjung Santong dalam rangka mempercepat seluruh proses kerjasama investasi dan pengembangan sehingga akselerasi percepatan pembangunan dapat dilaksanakan.

Termasuk, kajian AMDAL masih tahap uji publik yang terus digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa yang membawahi langsung otoritas pengelolaannya. Namun, optimis KEK Tanjung Santong menjadi primadona ekonomi baru wilayah timur Sumbawa yang dapat mengcover seluruh aktivitas kegiatan UMKM, Investasi dan pengembangan ekonomi budaya lokal masyarakat (local wisdom).

Kekayaan sumber daya perikanan di Teluk Saleh sendiri sangat menjanjikan. Investasi budidaya dapat meningkatkan produktivitas pada level regional dan lokal. Tentu keberadaan KEK Tanjung Santong itu bisa dimanfaatkan oleh UMKM dan kegiatan ekonomi skala lokal yang selama ini dinilai masih rendah, sementara ketersediaan lahan cukup luas, berkisar hingga 300-an hektar.

Proyeksi konsumsi perikanan budidaya di KEK Tanjung Santong akan meningkat menjadi 60% pertahun pada 2021 – 2025. Indikator proyeksi meningkat, yakni; lahan garapan tersedia, produksi terjangkau, dan infrastruktur mudah sehingga produktivitas cukup digenjot. Apalagi, ditambah kebutuhan untuk suplay logistik MotorGP 2021 dan ekspor hasil budidaya. Tentu bisa proyeksi tersebut, tercapai.

Syarat paling utama sebagai sebuah strategi peningkatan produksi perikanan budidaya di KEK Tanjung Santong, investor sendiri harus membawa seluruh teknologi modern yang berstandar internasional untuk percepatan penggunaan lahan yang tersedia.

KEK Tanjung Santong harus menganut asas dan paham budidaya berkelanjutan yang perlu inovasi pembenihan bersertifikasi. Tantangan KEK Tanjung Santong saat ini dalam industri budidaya cukup banyak, seperti arus informasi, sumberdaya terbatas, perdagangan bebas, dan ledakan penduduk.

Hal ini sangat berpengaruh, misalnya; pemanasan global menyebabkan kekacauan musim, degradasi lingkungan, dan pertambahan penduduk membuat tingginya permintaan pangan. Karena itu perlu teknologi adaptif perubahan iklim, dan perbaikan produksi untuk proyeksi kecukupan pangan.

Di KEK Tanjung Santong, seputar garapan budidaya masyarakat Kec. Plampang, Desa Gapit dan Desa Empang bahwa budidaya produk perikanan saat ini masih dibayangi cemaran zat kimia, virus (penyakit), kerusakan lingkungan perairan, kekeruhan, residu limbah pertanian dan banjir akibat hutan gundul yang membawa sampah kayu dan plastik. Karena itu, perlu teknologi budidaya yang tepat, genjot produksi, dan ramah lingkungan.

Teknologi budidaya ini meliputi pemantauan kimia (pH, oksigen terlarut, amonia, CO2), fisika (suhu, kecerahan, warna), dan biologi (plankton), bakteri, kuantitas air, kedalaman air, kemiringan tanah, hingga pendeteksi kerusakan disekitarnya.

Akurasi pemberian pakan dan air masuk dan keluar makin dibutuhkan untuk menghemat sumber daya alam yang terbatas. Misalnya; teknologi bernama auotofish feeder yang sering digunakan Norwegia mengatur dengan teknologi digital yang bisa beri pakan ikan atau komoditas budidaya lainnya secara berkala.

Begitu juga, teknologi Aerator bertenaga matahari juga makin jadi pilihan. Alat teknologi ini dipakai oleh Jepang dan Korea Selatan yang berfungsi juga mengurangi pemakaian genset atau listrik. Alat Aerator ini dikombinasikan teknologi digital. Beberapa inovator mengembangkan integrasi sistem aerasi, autofish feeder, suplai air, sehingga bisa dimonitor dengan Handpone sendiri.

KEK Tanjung Santong memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat Sumbawa, bahwa pengelolaan perikanan budidaya disekitarnya sudah harus menggunakan teknologi tanpa sentuh untuk monitor kuantitas dan kualitas air. Semoga kedepan, muncul inovator mengembangkan teknologi ini dari Indonesia agar seluruh masyarakat pembudidaya bisa pakai.

FAO pada 2020 lalu, berharap akan investasi di KEK Tanjung Santong tetap memperhatikan integritas lingkungan, inovasi, dan pencegahan limbah dari teknologi. Pelaku budidaya diharapkan bisa tingkatkan operasional yang aman. Ada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang baik, terdiri dari 4 pilar pengembangan KEK Tanjung Santong, yakni keamanan pangan, kesejahteraan ikan, kepeduliaan lingkungan, dan sosial ekonomi.

Perikanan budidaya KEK Tanjung Santong kedepan harus komoditas yang nilai ekspornya tinggi, seperti Salmon. Kuncinya adalah pemasaran, penggunaan teknologi dan sertifikasi keamanan pangan serta sertifkasi lingkungan untuk masuk jalur ekspor.

Untuk mampu bersaing, nilai tambah produk perikanan memberi jaminan atas keunggulan. Investasi budidaya harus terapkan prinsip Seafood Savers untuk perikanan berkelanjutan sehingga penguatan sektor akuakultur untuk mendorong pembudidaya skala kecil mengadopsi teknologi.

Masa depan investasi perikanan budidaya: pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Santong Sumbawa harus terus dievaluasi karena masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapinya. Salah satunya adalah soal belum terpenuhinya standar produk perikanan budidaya di berbagai pasar – pasar internasional.

Untuk itu, perlu ada promosi yang dilakukan secara bersama pelaku usaha dan pemerintah untuk meyakinkan KEK Tanjung Santong bahwa investasi perikanan budidaya telah terpenuhi standar keamanan dan kenyaman untuk berinvestasi.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed