by

KEBUTUHAN BERAS ROHUL SEKITAR 50 RIBU TON PERTAHUN, JIKA SUMUT DAN SUMBAR TAK INPOR, MASYARKAT BISA KELAPARAN

Kepala BKP3 Rohul Padi Ruslan
Kepala BKP3 Rohul Padi Ruslan

ROKAN HULU detikperistiwa.com – Kini energi pangan sangat menentukan sekali dalam kehidupan manusia , baik dalam konteks, daerah, regional,  nasional maupun internasional, setidaknya istilah ini sudah sering terdengar “Siapa yang mengusai pangan berarti dia mengusai dunia”.

Potensi pangan itu, salah satunya, kini terdapat di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), namun jika masyarakat Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) tak ada impor beras ke Negeri Seribu Suluk,  bisa-bisa saja masyarakat akan mengalami mati kelaparan.

Menurut informasi dari Badan Ketahan Pangan, Pertanian dan Penyuluhan (BKP3) Rohul, Ruslan, kini dari 60 ribu jiwa lebih penduduk Rohul, membutuhkan pangan beras, sekitar 50 ribu ton pertahun. “Sedangkan di Kota Ujungbatu yang nota benenya kota bisnis di Rohul, itu mendatang beras sekitar 50 ton per pekannya, ada yang datang Sumbar, Sumut, Palembang, Bengkulu dan lainnya,” terangnya.

Lanjutnya, kini produksi beras Rohul tidak mencukupi untuk kebutuhan masyarakatnya, jadi seharusnya lahan-lahan potensi-potensi pangan harus kembali dioptimalkan, sehingga produksinya bisa  meningkat serta mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Kini bendungan Kaiti-Samo, termasuk potensi yang sangat besar, namun karena tidak ada air, sehingga lahan-lahan persawahan itu dialihfungsikan menjadi tanaman karet dan kelapa wasit, karena irigasi yang dibuat, airnya diambil masyarakat untuk kebutuhannya seperti kebutuhan rumah tangga, kolam dan lainnya, sayang airnya, sayangnya tidak dikembalikan lagi ke alur irigasi tersebut,” ungkapnya.

Ruslan mengungkapkan, dulu dirinya dan  Sukiman ( Waktu menjabat sebagai Wakil Bupati (Wabup) Rohul, pada tahun 2006 lalu), ikut bersama-sama  mencabuti tanaman-tanaman karet dan kelapa sawit yang ditanam masyarakat pada lahan persawahan, sayangnya langkah itu tidak dilakukan secara kontinu, sehingga sekarang sudah banyak lahan itu berobah fungsinya.

“Saya menawarkan dulu, sewaktu saya belum jadi pejabat lagi seperti ini, supaya irigasi ditukar menjadi piva kayak miliknya PT Caltek itu, karena kalau irigasi, itu airnya diambili, sehingga air tidak lagi memadai ke areal perswahan, karena tidak ada air, para petani pun mengalihfungsikan lahnnya,” terang di dampingi Sekda Rohul Damri Harun dan diamini Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Rohul, Harisman.

Jadi untuk meningkat peningkatan produksi beras itu, lahan persawahan harus dioptimalkan “Ini sawah dicetak tapi airnya tidak ada makanya, saya sudah sarankan dan ajukan dulu sama Mantan Bupati Rohul, Achmad, supaya program piva itu dilaksanakan, namun saya hanya diperintahkan untuk mengurus dan menjelaskan kepada petani, supaya jangan alihfungsikan lahannya,  ya cuma seperti itulah yang bisa kita lakukan, kalau gak air bagaimana orang bersawah, makanya kemarin itu menimbulkan gejolak masa,” tuturnya lagi.

Endar Rambe (Pengamat Sosial)
Endar Rambe (Pengamat Sosial)

Pengamat Sosial, Endar Rambe, melihat persoalan pangan di Rohul maupun di Provinsi Riau, semakin hari akan menjadi problem yang sangat, besar jika hari ini pemerintah tidak berfikir, nanti akan terjadi ketergantungan dan kecanduan yang sangat luar biasa kepada provinsi-provinsi tetangga.

Padahal visi-misi dari Pasangan Suparman Sukiman (SUSUKI), jelas telah dipaparkan kepada masyarakat, kini tinggal actionnya di tengah-tengah masyarakat. “Dulu Suparman sewaktu masa-masa kampanye sering menyampaikan pemanfatan tiga aliran sungai besar di Rohul yakni Sungai Rokan Kiri, Rokan Kanan dan Aek Sosa, jika hal ini dikelola untuk kepentingan dan kemaslahan ummat ini sangat luar biasa, makanya dibutuhkan pemimpin yang memiliki koneksitas dan komunikasi dengan pimpinan pusat untuk pembangunannya,” terang Rambe yang juga Humas PWI Rohul.

Memang sangat disayangkan sekali, sekali di zaman Mantan Bupati Rohul, Achmad,  doyan membuat bangunan mewah-mewah tak berpenghuni, katakan sajalah, Gedung Daerah Rohul, Surau Suluk Syekh Ibrahim, padahal anggaran mencapai ratusan miliyaran rupiah, jika hal itu dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur kebutuhan masyarakat, seperti persawahan, jalan, jembatan dan lainnya,  tentu sangat luar biasa dampaknya.

Kini, jika memang Pemerintahan Susuki benar pro dengan rakyat, Sungai Rokan Kanan (Batang Lubuh), umpanya bisa saja dibuat bendungan di daerah Bangun Purba, kemudian dialirkan ke lahan PT Sumatera Silvia Lestari (SSL), toh perusahan tersebut juga tidak ada memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Rohul.

“Secara koorporasi mereka bisa saja jadi pengelolanya, tapi yang mereka tanam, bukan kayu, namun tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai dan lainnya, hal ini implikasinya sangat luar biasa, selain menjadi sumber energi pangan untuk Rohul, untuk Riau, bahkan untuk Sumatera, juga hal ini bisa mengatasi krisis air bersih di wilayah Kecamatan Tambusai dan Rambah Hilir,” urai Mantan Ketua LPM Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang.

Sering jadi perbincangan di masyarakat Bangun Purba, kalau mereka sering berdalih terjadi prokontra dengan perusahaan PT SSL, karena masyarakat mau menanam padi, kini jadikan lahan itu untuk menanam padi. ” Kini bangun di sana irigasi, sehingga kejayaan masyarakat Bangun Purba dahulunya sebagai penghasil beras terbesar di Riau ini bisa dikembalikan lagi,” pungkasnya. adv/humas (Endar. R)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed