by

Presisi Gubernur NTB: Contents of Policy Messages

Tulisan ini menjelaskan kebijakan masa depan dalam penataan sumberdaya manusia dan indikator industrialisasi. Akurasi visi NTB Gemilang untuk prediksi masa depan tergantung pada dua hal: Contents of Policy Messages (Isi Pesan Kebijakan) dan Presisi Silaturahmi Gubernur NTB.

Penulis: Rusdianto Samawa, Pendiri Teluk Saleh Institute, Menulis dari atas Alfard Menuju Bandara Soekarno Hatta: Flight CGK – Bali – LOP

________________

Konsep presisi sendiri adalah singkatan dari prediktif, responsibilitas, transparansi, berkeadilan. Pendekatan ini dianggap mampu membuat pelayanan lebih terintegrasi, modern, mudah, dan cepat.

Visi kebijakan: “Industrialisasi untuk NTB Gemilang” memiliki akurasi yang mendalam. Visi ini, tidak saja berkutat pada harapan infrastruktur dari program: mahadesa, beasiswa 1000 magister ke luar negeri, doktoral dalam Negeri, blankspot, investasi, pemberdayaan: UKM, UMKM dan IKM diseluruh NTB.

Namun, visi besar NTB Gemilang mengandung makna ilmu pengetahuan akan pentingnya menata masa depan sumberdaya manusia melalui instrumen beasiswa. Kita bisa bayangkan, kesiapan sumberdaya manusia dimasa mendatang untuk kesiapan lakukan rekayasa industri dan statistik sosial yang tersusun rapi.

Jelas, kebijakan NTB Gemilang perlu dievaluasi yang sudah berjalan selama dua tahun lebih sehingga dapat memenuhi standar akurasi dari penilaian publik melalui sistem pengukuran kinerja. Tentu, ukuran nilai publik terhadap pemerintah Provinsi NTB pada dua hal: Contents of Policy Messages (Isi Pesan Kebijakan) dan Presisi Silaturahmi Gubernur NTB.

Tentu, proses silaturahmi merupakan upaya pemupukan kedekatan kepala daerah terhadap rakyat. Bisa melihat dan mengamati ukuran dan kuantitas nilai kebijakan sebenarnya sebagai output dan income atas kedekatan kepala daerah bersama rakyatnya.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, visi NTB Gemilang yang berbasis pada industri rekayasa, dan statistik sumberdaya: beasiswa LN – DN. Jelas, dikemudian hari menentukan arah masa depan suatu daerah.

Indikator diatas, tolak ukur dalam mengukur kepresisian Gubernur NTB dari visi yang dijalankan melalui sistem pemerintahan daerah Provinsi NTB. Artinya, ukuran skor menilainya berdasarkan pada reproduksi kebijakan sebelumnya menjadi Contents of Policy Messages, yakni; Industrialisasi dan kedekatan bersama rakyat (silaturahmi).

Hal itu bisa dibuktikan paradigma dan metode dalam mengembalikan originalitas proses industri rekaya dengan pendekatan pada penguatan sumberdaya manusia. Tak bisa pungkiri, visi NTB Gemilang tergantung pada pelaksanaan dan kedekatan (silaturahmi) bersama rakyat.

Namun, publik mengalami deman narasi sehingga cara memahaminya sejurus pola yang ada seperti keraguan akan hadirnya industri besar. Padahal, kebalikan dari cara tersebut, bahwa kehadiran industri rekayasa berbasis pada UKM, UMKM, IKM dapat menumbuhkan kesejahteraan. Selama ini, publik dipengaruhi oleh psikologi sosial yang tidak menarik sama sekali dalam memahami, menafsirkan proses industrialisasi.

Sementara, rekayasa industri itu menentukan gemilang atau tidak. Jelas, melalui peningkatan statistik sumberdaya manusia melalui beasiswa. Evaluasi yang mesti dilakukan proses implementasi dalam kondisi yang berubah sehingga bisa mendapatkan hasil yang sama.

John Robert Taylor (1999) dalam tulisannya: An Introduction to Error Analysis: The Study of Uncertainties in Physical Measurements. University Science Books, menyebut; kebijakan harus mendekati tingkat akurasi yang menggambarkan realitas dengan kedekatan antara kepala daerah dengan rakyat sebagai titik pusat sasaran pelaksanaan kebijakan.

Secara teoritik, kebijakan NTB Gemilang dalam realisasi visi, harus lebih dekat kepada rakyat. Ibarat, panah yang menancap lebih dekat dengan pusat sasaran (rakyat), maka dianggap akurat. Semakin dekat sistem pengukuran nilai sosial yang diterima, sistemnya makin baik dan akurat pula.

Jika sejumlah besar anak panah ditembakkan, presisinya, ukuran kedekatan dari masing – inimasing anak panah dalam kumpulan tersebut. Semakin menyempit kumpulan anak panah tersebut, sistem dianggap semakin presisi.

Memang, ada perbedaan antara akurasi kebijakan dan presisi silaturahmi yang disajikan Gubernur NTB dalam berbagai kunjungan. Tentu, presisi pada posisi kontrak politik – emosional kedekatan yang mengacu pada level keberagaman dukungan rakyat.

Presisi Gubernur NTB tentukan kebijakan dalam ukuran akurasi sangat baik itu terletak pada faktor seberapa dekat seorang Gubernur NTB dengan rakyat. Derajat kecocokan antara prilaku dan tindakan bisa menentukan faktor tunggal kenaikan statistik keberhasilan kebijakan.

Ringkasnya, harus diakui presisi Gubernur NTB menentukan akurasi kebijakan pembangunan yang dilaksanakan sebagai bagian dari penataan masa depan sumberdaya manusia dan ukuran keberhasilan industrialisasi.

Contents of Policy Messages

Visi pembangunan NTB Gemilang harus utamakan skala prioritas dan realitas sehingga kesejahteraan dapat meningkat. Apalagi selama pandemi covid-19 dengan proses refocussion membuat statistik kemiskinan stagnan dan bisa jadi menurunnya angka kemiskinan dengan pola One Belt Connection Infrastruktur dasar.

Tentu, sala satu hal penting, contoh dari akurasi kebijakan, yakni kehadiran Food Estate di Labangka merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan pangan. Pertumbuhan sektor pertanian, perikanan, kelautan dan investasi. Itu akurasi kebijakan penataan wilayah sumberdaya dimasa datang.

Merilee S. Grindle dalam bukunya berjudul Politics and Policy Implementation in The Third Word (1980), katakan; implementasi kebijakan tergantung pada content (isi) dan context-nya. Tingkat berhasilnya pada kondisi realitas yang ada.

Nah, Gubernur NTB menentukan metode pembangunan pada dua hal, yakni: industrialisasi skala home (rekayasa industri) melalui UMKM, IKM, UKM dan komponen variabel penataan sumberdaya manusia melalui implementasi beasiswa sesuai yang diperlukan sehingga berdampak pada output dan outcome diberbagai daerah.

Memang, masyarakat harus pahami “Contents of Policy Messages (Isi Pesan Kebijakan) yang bersyarat pada; ketersediaan dana dan sumber lain, adanya sanksi, tingkat kesukaran masalah, kredibilitas dan kejelasan pesan publik, konsistensi, frekuensi, penerimaan pesan, bentuk kebijakan, efficacy of the policy, partisipasi masyarakat dan tipe kebijakan.

Hal bersyarat itulah menentukan, akurasi kebijakan Gubernur NTB yang tergantung pada pola dan metode. Tentu, kebijakan masa depan dalam penataan sumberdaya manusia dan indikator industrialisasi sudah baik dalam ukuran wajar.

Akurasi visi NTB Gemilang untuk prediksi masa depan tergantung pada dua hal: Contents of Policy Messages (Isi Pesan Kebijakan) dan Presisi Silaturahmi Gubernur NTB sehingga dapat menentukan keberhasilan.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed