by

Penggerak Milenial Indonesia Sarankan Presiden Jokowi, Reshuffle Erick Thohir

JAKARTA- Wacana Reshuffle Jilid II di Kabinet Indonesia Maju, kembali mencuat, setelah banyaknya desakan publik terkait kinerja para Menteri Presiden Jokowi yang dinilai lamban dalam bekerja.

Adapun Menteri yang kena bidik dan santer akan di Reshuffle Presiden Jokowi, diantaranya yaitu, Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Yasonna Laoly selaku Menteri Hukum dan HAM, terakhir yakni Menteri Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Merespon hal tersebut, Koordinator Nasional Penggerak Milenial Indonesia (PMI) Adhia Muzaki menilai, Presiden Jokowi disarankan agar lebih jeli dan mendengarkan keluhan publik, terkait rencana Reshuffle Kabinet yang akan dilakukan pada pekan depan.

Adhia berpandangan, dari semua Menteri yang ada di Kabinet saat ini, hanya ada tiga nama yang layak di Reshuffle.Tiga nama tersebut yakni, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, serta Menteri BUMN, Erick Thohir.

Dari tiga nama tersebut, menurut Adhia, yang lebih layak untuk segera di Reshuffle yaitu Erick Thohir selaku Menteri BUMN. “Ada tiga Menteri yang memang kalau menurut saya yang layak untuk di Reshuffle. Tentu itu semua karena Menteri ini bekerjanya lamban dan tak paham konsep,” kata Adhia, Jumat (16/4/2021).

“Tiga Menteri itu yakni, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Nadiem Makarim, dan juga Menteri Hukum dan HAM, Yassona Laoly,” tambahnya.

Adhia menilai, kinerja Erick Thohir sebagai Menteri BUMN dari sejak dilantik, terlihat tidak maksimal karena, Erick sendiri tengah mempersiapkan diri maju sebagai calon Presiden pada 2024 mendatang. Sementara perusahaan BUMN di bawah kepemimpinan Erick Thohir, banyak mengalami kerugian.

Adhia menegaskan, perusahaan BUMN di berbagai Holding terus mengalami kerugian diantaranya, PT Pertamina, PT PLN, PT Antam, PT Pupuk Indonesia, PT Garuda, termasuk juga PT BUMN Karya yang bergerak dibidang pembangunan Infrastrukur dan kontruksi.

“Banyak Holding di BUMN ini yang mengalami kerugian, dibidang pertambangan misalnya ada PT Antam, kemudian juga dibidang energi, ada PT Pertamina, PT PLN, terus juga Holding BUMN Karya, jelas itu mengalami kerugian,” tegas Adhia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed