by

FPII SETWIL NTB, KECAM PANITIA PRA OSPEK STIKES YARSI MATARAM

MATARAM—Forum Pers Independen Indonesia (FPII) NTB mengecam insiden pengusiran wartawan METROPOL (Amrin), MNCTV (Hari Kasidi) dan Radar Mandalika (Boim),  yang dilakukan oleh panitia Pra Ospek Stikes Yarsi Mataram, Rabu (6/9).Ketua Setwil FPII NTB, Amrin, menyatakan pihaknya akan mengambil sikap tegas dengan melayangkan surat ke Pihak Kampus Sikes Yarsi Mataram, dalam hal ini Ketua Rektor Stikes Yarsi Mataram.“Yang jelas itu (halaman Stikes Yarsi Mataram) ruang public. Selama di ruang public, tidak ada yang berhak melarang wartawan.” Tegas Ketua FPII Setwil NTB, Amrin, Rabu (6/9).Ketua Setwil FPII NTB ini kembali menegaskan, sikap yang di tunjukkan Yuspia Cs tersebut sudah melanggar hukum, yakni Undang-Undang (UU) Per No.40 Tahun 1999. Dia juga menyebut, pengusiran yang di lakukan Yuspia Cs itu sama halnya telah merendahkan profesi jurnalis atau wartawan.

“Kalau tidak senang dan atau merasa di rugikan atas sikap wartawan atau pemberitaan, bias buat hak jawab. Jangan menghalangi UU Pers. Undang undang itu menjamin dan melindungibtugas jurnalistik. Wartawan itu lebih bagus di ajukan ke pengadilan, bukan di usir. Di usir itu merendahkan kerja wartawan,” tegasnya.

Dijelaskan, ada hal-hal yang tidak boleh dilanggar juga oleh wartawan saat meliput seperti kegiatan rapat yang sifatnya tertutup dan rahasia. Apabila sebuah kegiatan bersifat tertutup, maka wartawan juga harus bisa memakluminya. Sebaliknya, apabila bersifat terbuka, maka tidak ada alasan melarang wartawan meliput.

FPII Setwil NTB juga meminta kepada pihak Stikes Yarsi Mataram, untuk meminta maaf secara terbuka. Apabila secara baik-baik tidak ada penyelesaian, maka langkah hukum juga akan ditempuh.

“Sangat jelas diatur dalam Undang-Undang Pers, setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan kerja-kerja jurnalistik, dapat dipidana dengan ancaman pidana penjara paling lama 2 tahun, atau denda paling banyak Rp 500.000.000,” terang Amrin.

Hal senada disampaikan Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) NTB, Herman Zuhdi. Dirinya menilai panitia Pra Ospek Stikes Yarsi Mataram telah melanggar UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. “Menghalang halangi kerja wartawan sama halnya mmelawan hukum. Kerena setiap wartawan yang bertugas untuk keiatan jurnalistik di lindungi oleh Undang-Undang”, tegasnya.

Seperti yang di ketahui, salah satu orang tua mahasiswa baru mengeluhkan sikap panitia yang mewajibkan untuk membawa sembako berupa beras 1kg/orang, minyak goreng 1kg/orang, susu dan pupuk organik 5kg/orang selama 3 (tiga) hari. Kebijakan yang di lakukan oleh panitia Pra Ospek Stikes Yarsi Mataram di nilai memberatkan mahasiswa baru.

Untuk itu, tiga wartawan yang terdiri dari MNCTV (Hari Kasidi), Metropol (Amrin) dan Radar Mandalika (Bo’im) mendatangi pihak kampus untuk mengklarifikasi kebenaran yang di keluhkan oleh salah satu orang tua mahasiwa baru. Namun saat mengambil gambar kegiatan mahasiwa baru yang sedang mencabut dan membersihkan rumput di halaman depan Stikes Yarsi, di hampiri oleh beberapa panitia yang di komandoi oleh Yuspia. Yuspia pun menanyakan keperluan wartawan datang ke lokasi kegiatan. Oleh yang bersangkutanpun melarang wartawan untuk mengambil gambar kegiatan. Ia pun berdalih, setiap wartawan yang akan melakukan peliputan harusnya meminta ijin terlebih dahulu kepada panitia. (Red/fpii big Famili)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed