by

Oi Tampuro: Wisata Kumuh, Butuh Sentuhan Rasa Cinta

“Kebersihan itu sebagian daripada iman. Begitu kata pepatah Islam. Oi Tampuro kekayaan wisata luar biasa, apabila mampu perbaiki: bersih, bangun, tata rapi dan promosi bagus.”

Penulis: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI)

______________________

Kami berangkat berempat: Ayaturahman (pemandu), Agus Harianto (driver), Bang Roy tokoh muda Oi Bura Kore. Kami star dari Desa Sandue setelah melihat petani umkm pembuat cobek. Kemudian menyasar gudang pabrik es batu yang mangkrak. Diduga proyek tersebut, masa pemerintahan Preside Joko Widodo periode pertama dan Menterinya saat itu Ibu Susi Pudjiastuti.

Pabrio es batu itu, miliki lahan sangat luas, perkiraan bangunan berdiri diatas lahan seluas 70 are. Bangunan pabrik tersebut, masih bagus, baik dan kwalitas jamin lama rusak. Namun, karena tak operasi dan pihak ketiga yang kelola pabrik tersebut, bangkrut. Jadi kasarnya, pabrik es batu itu ditinggalkan pengelolanya sehingga masyarakat merajalelah menjarah dan mencuri mesin-mesin pabrik es tersebut.

Setelah itu, kami berempat berangkat ke Oi Bura, menjemput Bang Roy. Duduk sebentar dirumah UMKM Oi Bura Bang Roy. Menyaksikan banyak hasil hutan berupa madu dan lainnya, dipajang rapi. Walaupun sebagai display, tapi Bang Roy sudah termasuk orang yang peduli terhadap kondisi UMKM sekitar Kore Sanggar. Masa sekarang, UMKM menjadi tolak ukur ekonomi rakyat ditengah ketidakpastian penghasil petani dan nelayan.

Selanjutnya, menuju Oi Saro desa sahabat saya: Hamdin, panggilan akrab masa aktivis di kampus Muhammadiyah adalah Piong. Karena desa asal Hamdin itu Piong. Makanya dipanggil begitu.

Piong sekarang, menjabat sekdes Oi Saro. Memang cocok, mengingat beliau itu mantan Gubernur Fakultas FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram (FKIP UMM). Dulu dikenal Ketua BEM Fakultas. Beliau memiliki jejak leadership yang bagus. ya biasa mahasiswa: kritis, diskusi, kritik dan demonstrasi. Begitu kerjaan kami dikampus dan seputar Mataram dulu.

Dulu, kalau kami pimpin aksi, khusus kampus Muhammadiyah, jumlah masa selalu banyak. Terkadang kampus di intervensi untuk libur. Kalau sudah bergabung Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan seluruh BEM Fakultas SE kampus. Maka masa bisa ribuan. Itulah jejak kami bersama Piong.

Saat kami kerumahnya, tak sempat bertemu karena saudara Piong berada di Kore karena anaknya sakit. Kemudian, next kami menuju Oi Tampuro.

Oi Tampuro Penuh Sampah

Ekspektasi dari nama Oi Tampuro dianggap indah dan menawan. Karena tepat berada sebelum pintu masuk Piong Gunung Tambora. Melihat dan mengamati Oi Tampuro sangat miris. Mestinya, pemerintah Kabupaten Bima memiliki rasa empati dan simpati terhadap lingkungan sekitar Oi Tampuro.

Oi Tampuro dalam sejarahnya, tempat pertempuran dalam pertahankan wilayah Tambora. Oi Tampuro dikenal mata air tak pernah kering. Selalu mengalir jauh ke lautan luas. Airnya tawar, bisa diminum dan pakai mandi.

Kami melihatnya, penuh sampah. Pintu masuk masih belum ada pengelolanya. Tampak bangunan masjid tua tidak terurus. Susunan bebatuan hitam legam mengapit mata air Oi Tampuro. Barisan pohon kayu mangrove mengitari pantai dan Oi Tampuro.

Harapannya, pemerintah Kabupaten Bima harus segera anggarkan dana untuk perbaikan Oi Tampuro agar dapat menjadi wisata andalan. Kami melihat masyarakat lokal dan internasional berkunjung ke Oi Tampuro.

Kalau konsep wisata Oi Tampuro dimodernisasi: pasang banyak kolam permandian, sediakan tempat pembuangan sampah, menertibkan bantaran sungai dan laut, ditanam pohon mangrove lebih banyak lagi. Maka Oi Tampuro akan dikenal dunia internasional dan nasional.

Wisata Integrasi Oi Tampuro: Masa Depan Bersama

Oi Tampuro bisa menjadi masa depan wisata terintegrasi antara Mata Air dengan bahari (wisata laut). Mengapa harus wisata terintegrasi? karena seputar Oi Tampuro memiliki penghasil kelapa, minyak kayu putih, kopi dan jagung. Selain itu, memiliki makanan khas Sanggar sebagai cirihas kuliner dengan cita rasa tinggi.

Hal lebih penting, kecamatan sanggar juga, memiliki situs dan objek wisata seperti Makam Kerajaan, Benteng, Gua La Hami, Gua Kelelawar, Gua Uba Rasi, dan Area pelepasan Ternak terluas, hamparan Pantai pasir putih, hingga Air Terjun Oi Marai.

Pengembangan wisata Oi Tampuro dengan wisata bahari sangat menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Bahkan, wisata bahari bisa menjadi alternatif di tengah mati surinya sektor pariwisata Kabupaten Bima diseputar Lingkar Pesisir Tambora.

Apalagi, pariwisata Bima dalam pekembangannya, telah melewati pasang surut dengan berbagai dinamika yang meliputi tiga hal yaitu budaya, keindahan alam dan objek wisata buatan. Nah, Oi Tampuro bisa direkayasa pembangunannya agar lebih indah dan perkenalkan budaya – budaya Bima.

Wisata Oi Tampuro yang terintegrasi dengan wisata bahari pantai termasuk memiliki potensi besar yang punya daya tarik keindahan alam dengan porsi kunjungan wisata masyarakat cukup besar. Tak menutup kemungkinan yang berkunjung ke Oi Tampuro untuk menikmati budaya, ibadah, dan mandi.

Sejauh ini potensi wisata Oi Tampuro dan wisata baharinya belum digarap dengan maksimal. Bahkan, kosong dan pembangunan tanpa cita rasa indah. Pemerintah Kabupaten Bima, sejatinya harus menyiapkan skenario bangun wisata Oi Tampuro yang terintegrasi wisata bahari agar lebih terarah yang harus sesuai dengan Perda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Tahun 2020-2040 Provinsi NTB.

Daya tarik wisata alam, salah satunya Oi Tampuro perpaduan wisata bahari bisa jadi menjadi alternatif dan memiliki daya jual. Yang jelas, pemerintah harus berupaya meningkatkan kunjungan wisata. Tentu diharapkan pemerintah, segera membangun dan menumbuh kembangkan Oi Tampuro dengan perbaikan, penataan, pembagusan, merevitalisasi, membersihkan dan menjaga lingkungannya.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed