by

Bang Zul, Bukan Gubernur Biasa

Penulis: Rusdianto Samawa, Pendiri Teluk Saleh Institute (TSI)

___________________

Saat duduk sendiri menikmati kopi Tubruk Mima Caffe milik seorang pengusaha asal tanah Empang Sumbawa, Bung Malik Salim. Datang sekelompok sahabat pendukung pasangan Mo – Novi No Urut 4 pada Pilkada Sumbawa yang beberapa bulan lalu menang dan telah dilantik. Mereka datang menghampiri sekedar cerita dan menikmati kopi Vietnam Driv sajian Mima Caffe.

Cerita panjang lebar ditemani kopi dan sanggar panas (pisang goreng panas). Cerita tidak jauh dari sikap, karakter dan gaya leadership Gubernur NTB yang sangat apik, adem, hangat dan sederhana.

Bukan saya yang cerita ya. Supaya tulisan ini objektif dan mendekati kebenaran. Karena beberapa bulan lalu, sejak perayaan demokrasi Sumbawa. Marak suara tuduhan dan bahasa miring kepada saya. Dikatakan sebagai penjilat, pelacur, dan penghianat.

Sebelum tulisan ini tersebar, berlalu dan dibaca. Ada baiknya juga dijelaskan judulnya. Perihal tema dan judul ini kesepakatan yang diambil bersama teman-teman saat ngopi bareng. Tetapi judul tulisan ini, sudah pernah ada yang menulisnya dari Jambi. Judulnya saja ya. Semoga bukan plagiat. Judul ini benar-benar muncul dari pikiran kita bersama. Tetapi isinya akan tetap berbeda. Perbedaan judul hanya saja ada bolt dan huruf besar. Itu untuk menandakan perbedaan saja. Judul dibuat setelah mencari digoogle dengan bahasan kalimat yang sama. Ternyata ketemu judul yang sama.

Itu bedanya antara isi pikiran belum tertuang dalam bentuk tulisan dengan ide gagasan hasil cerita yang sudah tertumpah dalam tulisan. Tetapi tidak masalah, saya menuangkan judulnya “Bang Zul, Bukan Gubernur Biasa” tanpa tanda tanya.

Rakyat NTB terasa dan merasa ada euforia atas sikap dan mental pelayanan dari seorang Bang Zul Gubernur NTB. Ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan rakyat. Tentu sikap tersebut, tak lepas dari gaya leadership-nya. Komitmen terhadap pembangunan dan perbaikan jalan – jalan lingkungan masyarakat kian baik. Indeks pengentasan kemiskinan menjadi contoh bagi daerah lain ditengah Covid-19 hingga sekarang. Apalagi peningkatan mutu pendidikan yang selama ini menjadi program prioritasnya hampir terwujud 100% dengan mengirim mahasiswa pasca sarjana ke Luar Negeri.

Bang Zul sendiri mendapat penghargaan dari Presiden Republik Indonesia dalam mengatasi masalah rumit ekonomi masyarakat ditengah Covid-19 melalui skema kebijakan pemberdayaan UMKM, IKM, UKM dan industri rumahan sehingga berdampak pada kemajuan ekonomi. Tentu semua itu, untuk kesejahteraan masyarakat NTB.

Beberapa waktu lalu, Minggu pertama bulan Juni, saat di Mataram keliling dinas-dinas. Saya coba assesmen pegawai-pegawai kantoran. Sengaja menanyakan hal – hal ringan dan tak masuk akal, misalnya apakah anda pernah foto bersama gubernur?. Jawabannya semua menjawab “ya pernah.” Pertanyaan ini indikator bahwa Gubernur NTB sangat baik, ramah, teduh dan adem.

Menurut pegawai-pegawai kantoran lingkup dinas – dinas Pemvrop NTB bahwa: “Gubernur NTB bukan hanya foto, tetapi menanyakan kabar pribadi kita, keluarga, anak, kedua orangtua. Biasanya terakhir Gubernur bilang: kalau ada apa – apa kesulitan keluarga segera bilang ke saya.”

Bahkan saat saya menanyakan seorang pegawai, menurutnya: baru seorang Bang Zul Gubernur NTB menanyakan pribadinya selama ia menjadi PNS. Itupun ia langsung sedih dan sedikit meneteskan air matanya. Ia terharu, tersipu, dan merasa ada kehangatan seorang pemimpin mengalir dalam darah tubuhnya. Luar biasa.

Begitu juga, pandangan sekelompok diskusi sahabat yang datang ngopi bareng di Mima Caffe, mereka katakan: “Bang Zul merupakan Happy Central (pusat kebahagiaan rakyat). “Bang Zul Bukan Gubernur Biasa” yang hanya kerja-kerja rutinitas, seperti mimpin rapat, seremonial, upacara, kunjungan kerja dan/atau sekedar bubuh tandatangan resmikan sesuai proyek. Tetapi, Bang Zul telah menyelami, menikmati, dan merasakan sensitifnya perasaan rakyat (sense of crisis, sense of belonging, dan Sense of humor).

Bang Zul, Bukan Gubernur Biasa telah menunjukan harapan rakyat. Bagi saya, indikator simpel: “hanya masa Bang Zul alur mudik (datang kunjungan) seluruh menteri negara begitu ramai dan tidak berjarak waktu lama. Menteri datang ke NTB Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dalam seminggu bisa 5 menteri. Bahkan ada menteri dalam sebulan 2 kali datang. Yang lebih fenomenal lagi, ada Menteri menginap hingga 2 malam berturut-turut.”

Demikian indikatornya, kedatangan dan kesukaan menteri datang ke NTB tentu berkat seorang Bang Zul menjadi Gubernur luar biasa, bukan biasa saja. Itu pesan politik bahwa Bang Zul mengandalkan jejaring kebaikan, ketulusan dan powerfull.

Bang Zul adalah pemimpin yang mampu memotivasi masyarakat, pegawai, pembantunya, dan anak – anak muda untuk terus maju dan berkarya. Sesuai apa yang di ungkapkan ya: “Boleh provinsi kita kecil, tapi mimpi kita harus besar.” #BangZulBukanGubernurBiasa.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed