by

Raja Airlangga Mampu Membawa Kerajaan Hindu Kahuripan Menjadi Jaya Dan Mahsyur Sebelum Turun Takhta


Oleh : Teuku imran

Berbicara tentang kemegahan pengaruh seorang Raja Airlangga di dalam kisah Mahabharata merupakan hal yang sangat menarik untuk kita sampaikan kepada generasi penerus bangsa indonesia.

Sebagaimana yang kita dengar dari Sejarawan bahwa Kerajaan Kahuripan merupakan lanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur (Kerajaan Medang). Berdirinya kerajaan Hindu-Buddha ini tidak terlepas dari peran Raja Airlangga jika dilihat dari berbagai prasasti peninggalannya.

Lokasi pusat pemerintahan Kerajaan Kahuripan diperkirakan berada di wilayah Sidoarjo atau dekat Surabaya, Jawa Timur. Berdirinya Kahuripan menurut sejarawan adalah sebuah kerajaan yang tidak terlepas dari berbagai faktor yang terjadi pada sekitar abad ke-10 Masehi.

Pemimpin masyhur Kerajaan Kahuripan adalah Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. Airlangga (1009-1042) merupakan pendiri sekaligus raja terakhir sebelum Kerajaan Kahuripan terbelah.

Pada abad 10, Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Perpindahan tersebut yang terjadi pada era kepemimpinan Mpu Sindok atau Rakai Hino Sri Isana (929-947 M).

Menurut George Coedes dalam karyanya The Indianized States of Southeast Asia (1968), ada beberapa faktor kemungkinan yang mendorong terjadinya perpindahan Kerajaan dari satu daerah ke daerah lain di Pulau Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Hindu di bumi Jawadwipa.

Pertama disebabkan karena faktor politik, yakni sering terjadinya perebutan kekuasaan yang berimbas terhadap terancamnya kesatuan wilayah kerajaan tersebut. Kedua bisa jadi karena faktor bencana alam, seperti terjadinya letusan Gunung Merapi.

Adapun faktor ketiga adalah adanya potensi ancaman dari kerajaan lain, termasuk serangan dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan.

Faktor keempat dipengaruhi oleh motif ekonomi, termasuk ketiadaan prasarana pelabuhan sehingga sulit menjalin kerja sama dengan kerajaan/bangsa lain, juga mulai kurang produktifnya sawah penghasil padi karena tenaga pria difokuskan untuk membangun candi-candi besar.

Soeroto dalam buku Mataram I (1975) menyebutkan, Kerajaan Mataram Kuno yang juga dikenal dengan nama Kerajaan Medang ini mencapai masa kejayaannya ketika dipimpin oleh Dharmawangsa Teguh (985-1007).

Dharmawangsa Teguh adalah raja keempat Mataram Kuno periode Jawa Timur setelah Mpu Sindok (929-947), Sri Lokapala dan Ratu Sri Isanatunggawijaya yang memerintah sejak 947, lalu Makutawangsawardhana yang bertakhta hingga 985 Masehi.

Selain membawa Kerajaan Mataram Kuno alias Medang ke puncak keemasan, Dharmawangsa Teguh juga menjadi raja terakhir kerajaan yang ibukotanya di Watan ini.

Tahun 1006, Watan diserang mendadak oleh pasukan Raja Wurawari dari Lwaram (sekutu Sriwijaya) ketika sedang menggelar pesta perkawinan. Dharmawangsa Teguh tewas. Adapun keponakannya yang bernama Airlangga lolos dalam serangan tersebut.

Airlangga adalah putra Mahendradatta atau Gunapriya Dharmapatni, saudara perempuan Dharmawangsa Teguh, yang menikah dengan Udayana, Raja Bali. Nantinya, Airlangga melanjutkan kuasa Mataram atau Medang melalui Kerajaan Kahuripan.

Pengaruh Airlangga
Setelah melarikan diri, Airlangga dan sejumlah pengikutnya bersemayam di Gunung Wanagiri untuk menyepi atau bersemedi. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 1009 M, datang utusan rakyat dan pendeta dari Medang yang meminta Airlangga untuk melanjutkan takhta Dharmawangsa Teguh.

Disebutkan oleh Muhammad Fikri lewat karyanya “Pengaruh Airlangga terhadap Kemajuan Kerajaan Medang Kamulan” dalam Jambura History and Culture Journal (Volume 1, 2019), Airlangga menerima pengukuhan sebagai raja dengan gelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

Airlangga kemudian membangun ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan. Wilayah kekuasaannya saat itu masih meliputi daerah Sidoarjo, Pasuruan, dan sebagian Mojokerto saja karena banyak wilayah taklukan Medang yang melepaskan diri sepeninggal Dharmawangsa Teguh.

Melemahnya Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1025 membuat Airlangga semakin leluasa memperluas dan memperkuat pengaruhnya. Beberapa kerajaan di berbagai wilayah pun bisa ditaklukkan.

Tahun 1037, Airlangga membangun istana dan ibu kota baru di Kahuripan (termasuk wilayah Sidoarjo sekarang). Sejak saat itu, kerajaan yang dipimpin Airlangga lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kahuripan.

Banyak kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Kahuripan di bawah kepemimpinan Airlangga, seperti diantaranya: pembangunan berbagai bangunan, bendungan, pelabuhan, jalan-jalan yang menghubungkan wilayah pesisir dengan ibu kota, dan masih banyak lagi kemajuan yang dicapai lainnya.

Airlangga juga memiliki kegemaran di bidang seni sastra, sehingga ia meminta Mpu Kanwa, pujangga kerajaan untuk menyusun kitab Arjuna Wiwaha yang disesuaikan dengan epik Mahabharata.

Akhir riwayat Kahuripan
sebelum Raja Airlangga turun takhta, ia sempat memindahkan ibu kota kerajaan ke Daha (termasuk wilayah Kediri sekarang). Kemudian pada tahun 1042, Airlangga meletakkan kekuasannya untuk menjadi pertapa abadi.

Airlangga memiliki dua putra yang bernama Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.

Airlangga tidak mau anak-anaknya berebut takhta, sehingga wilayah kerajaan dibagi menjadi dua bagian.

Sri Samarawijaya mendapatkan wilayah di bagian barat yang kemudian bernama Kerajaan Kediri, yang berpusat di Daha. Sedangkan wilayah bagian timur diberikan kepada Mapanji Garasakan, yaitu Kerajaan Jenggala yang berpusat di Kahuripan.

Airlangga pun kemudian bertapa menjadi seorang resi atau pendeta hingga akhir hayatnya.
Begitulah kisah Seorang Raja yang mampu membawa kejayaan di masa ia masih ingin berkuasa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed