by

Kebijakan Strategi Nasional menghadapi Krisis Ketahanan Pangan Global

Penulis : Prof. Dr. Muhammad Said.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ALumni Program Pendidikan Singkat ANgkatan (PPSA) 23 Tahun 2021 LEMHANNAS RI

Pangan secara esensial meliputi siklus kegiatan ekonomi yang bermula dari produksi, distribusi dan konsumsi. Produksi berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, kualitas dan kuantitas produk yang akan diproduksi, dan mengetahui selera masyarakat sebagai dasar memproduksi suatu produk dan jasa. Produk-produk yang telah diproduksi agar sampai ke meja konsumen memerlukan jasa distributor, dan marketer baik sehingga konsumen dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan konsumsi mereka secara puas (satisfy) dengan mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan produk yang mereka butuhkan (jual-beli, perpindahan kepemilikan). Ketahanan pangan tidak terjadi secara instan melainkan dipengaruhi berbagai variabel, di antaranya kualitas lahan, alih fungsi lahan, degradasi lahan di sisi produksi, lonjakan demografi, peningkatan income masyarakat mendorong demand terhadap produk, dan perubahan gaya hidup (life style) yang mempengaruhi preferensi dan menuntut ketersediaan pangan merupakan deretan kecil di antara variabel dimaksud.
Perkembangan geo-strategik seperti perubahan iklim (climate change), Pandemic covid 19, teknologi yang bersandar pada kekutan Internet of things (IoT) menyebabkan terjadinya arus peredaran barang dan jasa secara cepat dan massif sehingga mempengaruhi selera konsumen. Perubahan Iklim (climate change) telah mengahdirkan efek global warming, peningkatan suhu rata-rata harian 0,74°C pertahun selama beberapa dekade terakhir. Kepala-kepala negara di dunia menyikapi cara mengantisipasi permasalahan global warning di tengah defisit anggaran pendapatan belanja negara (APBN) dan terbatasnya sumber pembiayaan. Demikian halnya dengan Pandemic covid 19 yang telah menyandera masyarakat global telah meretas pos-pos anggaran belanja program kerja tiap kementerian untuk refocusing penanganan covid. Perang Ukraina-Rusia yang masih berlangsung menyebabkan distabilitas harga, melambungnya harga komoditas pangan dunia, lahirnya kebijakan pelarangan ekspor komoditas pangan, meningkatnya harga komoditas gandum, gula, kedelai dan CPO secara abnormal sehingga food price index dunia mencapai 152 lebih tinggi dari food price index saat perang Arab-Israel tahun 1973-1975 yang sebesar 137 (Republika, 13 Apr 2022). Kondisi faktual ini, menurut forecasting para ekonom, akan melahirkan krisis pangan dunia yang mungkin berlangsung dalam durasi waktu panjang. Pemerintah Indonesia telah menampung ide-ide produktif-aplikatif untuk menjadi alternatif solusi ancaman krisis ketahanan pangan global. Berbagai kebijakan strategis nasional diajukan dalam opini ini mungkin patut menjadi bahan pertimbangan. Pertama, kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pemangku kepentingan (stakeholders) dan masyarakat luas sehingga semua pihak mengambil peran-peran strategis terutama merubah perilaku konsumtif yang extravagance menjadi bersahaja (sederhana, bersih, halal, bergizi dan nutrisi berkualitas tinggi). Kedua, peningkatan kepedulian dan rasa memiliki (sense of belonging) seluruh eksponen bangsa agar kapal besar yang bernama NKRI tetap berdiri kokoh di tengah turbulensi badai krisis ketahanan pangan yang melanda jagat global. Ketiga, merawat dan memanfaatkan gatra sumber kekayaan ekonomi Indonesia yang melimpah, terutama sektor ekonomi bahari (ekonomi maritim) yang sangat potensial dan membentang luas dari sabang sampai merauke. Keempat, kembali pada norma dan budaya luhur bangsa yang menekankan prinsip gotong royong, mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan individu dan kelompok, serta hemat dalam berkonsumsi. Kelima, revitalisasi falsafah budaya dan kearifan lokal (local wisdom) berupa jompa (Lumbung padi) sebutan lain di wilayah Indonesia- sebagai simbol ketahanan pangan yang mengandung falsafah mawas diri dalam antisipasi dini terjadinya krisis pangan dari ancaman bencana alam (kemarau). Keenam, kebijakan pro-petani disertai edukasi peran strategis mereka sebagai duta ketahanan pangan yang didukung cinta produk petani lokal, dan pendampingan pemanfaatan teknologi pangan adaptif dan up to date sesuai perubahan yang terjadi.
Berbagai kebijakan strategis nasional di atas diharapkan menjadikan Indonesia sebagai negara berdaulat, negara yang memiliki kemandirian pangan, masyarakatnya terproteksi oleh kebijakan pemerintah yang pro-produk pertanian lokal dan tercerahkan dari sisi pemanfaatan teknologi sehingga kapal besar bernama Indonesia teguh dan kokoh di tengah turbulensi krisis ketahanan pangan global di atas platform jalinan rasa memiliki (sense of belonging) seluruh eksponen masyarakat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed