by

Sidang Putusan Kasus First Travel , Andika  dan Anniesa Hasibuan Menolak Vonis Hakim

 

 

 

DEPOK-Sidang Putusan Kasus First Travel , di Pengadilan Negeri Depok, Rabu (30/5/2018). “Majelis hakim yang terhormat, kami menolak atas putusan tersebut,” kata Direktur Utama First Travel Andika Surachman selaku terdakwa, di persidangan Pengadilan Negeri Depok, usai mendengar putusan majelis hakim atas dirinya, Rabu (30/5/2018).

 

Meski begitu, Andika tidak menjelaskan secara tegas apakah dirinya akan banding atas putusan ini. Majelis hakim akhirnya memberikan tenggang waktu satu minggu bagi terdakwa dan kuasa hukumnya serta Jaksa Penuntut Umum, memberikan tanggapan atas putusan tersebut, apakah akan  banding atau tidak.

 

“Bagi pihak terdakwa maupun JPU yang akan banding, ada waktu satu minggu menentukannya,” kata Ketua Majelis Hakim Sobandi.

 

Sebelumnya, majelis hakim PN Depok memvonis Direktur Utama Andika Surachman 20 tahun penjara dan istrinya, Anniesa selaku direktur 18 tahun penjara. Keduanya juga didenda sebesar Rp 10 miliar subsider delapan bulan penjara.

 

“Menyatakan terdakwa satu, Andika Surachman bersalah dengan hukuman 20 tahun penjara serta denda Rp 10 miliar subsider delapan bulan penjara. Serta memutuskan terdakwa dua Anniesa Hasibuan secara sah bersalah dan menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara serta denda Rp 10 miliar, subsider delapan bulan penjara,” kata Ketua Majelis Hakim Sobandi saat membacakan putusan.

 

Ia mengatakan hal-hal yang meringankan terhadap terdakwa Andika Surachman,  tidak ada.

 

“Sedangkan untuk Annisa Hasibuan, hal yang meringankan terdakwa masih memiliki anak kecil,” ucapnya.

 

Mengenai hal yang memberatkan terhadap kedua terdakwa, menurut Sobandi, keduanya terbukti bersalah, karena telah melakukan tindak pidana penipuan dan pencucian uang dalam kasus penipuan calon jemaah umrah First Travel.

 

“Keduanya mengetahui bahwa uang senilai Rp 14.300.000, yang diambil dari setiap jemaah yang mengikuti paket umrah promo tersebut tidak mungkin berangkat ke tanah suci,” tuturnya.

 

Selain itu, perbuatan terdakwa memberikan kerugian besar bagi para 63.000 korban calon jemaah umrah First Travel.

 

“Terdakwa juga diminta mengembalikan uang milik para korban. Majelis hakim juga memandang pemberian putusan hukum tersebut mempertimbangkan masyarakat yang harus hati-hati dalam memilih biro umrah. Sebab, majelis hakim memandang bahwa banyak biro-biro wisata nakal, sehingga harus ada tindakan hukum,” beber Sobandi.

 

(tnc/rjp*)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed