by

Pangeran Mempawah 5 Kali Menolak Dijadikan Raja

 

Pangeran Perbawa Budaya HRH.Tengku Pangeran Abdullah Ali Chandrarupa Wibowo menanggapi banyak munculnya raja palsu, Pangeran Mempawah ini membeberkan bahwa Ia pernah 5 kali menolak dinobatkan menjadi raja di beberapa kerajaan lama dan kerajaan oleh berbagai kelompok masyakarat.

Menurut Pria yang juga menjabat Pangeran Kapita Yang Terutama Kepangeranan Chandrarupanto Patani Shri Tiworo ini kebanyakan raja raja palsu itu membuat kamuflase dengan mengklaim sebagai raja kerajaan baru yang meneruskan kerajaan yang sudah bubar ratusan tahun lalu, pahadal mereka tidak memiliki silsilah dan dasar kelembagaan yang jelas.

“Mereka membuat kamuflase dengan anggaran yang tidak besar dan terjangkau, cukup modal 3-5 juta rupiah sudah bisa mengaku raja kerajaan baru,” ujarnya.


Mereka rata-rata membentuk sebuah kelompok seni dan membeli pakaian pakaian ala kerajaan serta agar lebih meyakinkan nama kelompoknya menggukankan nama yang mengandung unsur kerajaan lama.

“Selanjutnya ketua kelompok tersebut disebut Raja,” katanya

“Meraka tidak punya silsilah yang jelas, hanya terkadang kalau ada rezeki mereka memberikan uang ke oknum asli yang bisa melindunginya,” jelasnya.


“Saya heran kok mereka berani mengaku mendirikan kerajaan baru? apa mereka tidak tahu ini sudah jaman republik,” ujarnya lagi.

“Saya saja yang jelas generasi ketiga dari dua kerajaan dan saya mendapat gelar pengakuan dari 28 kerajaan dan lembaga adat kerajaan di dalam maupun luar negeri, tidak berani mau mendirikan kerajaan baru, ” paparnya.

“Saya hanya mau menerima ketika saya dinobatkan sebagai Pangeran Kapita Yang Terutama Kepangeranan Patani Shri Tiworo oleh Raja Tiworo, kepangeranan itu cabang otonom khusus dari sebuah kerajaan, sama dengan duchy edinburgh di Inggris atau pura pakualaman di Yogyakarta,” katanya lagi

“Pangeran kapita itu pangeran merdeka yang memiliki kekuasaan sendiri yang tidak bisa di intervensi raja namun tidak bisa bergelar raja,” jelasnya.

“Saya pertama kali menolak dinobatkan sebagai Raja pada 2011 oleh sebuah kelompok nasional yang mengklaim kelompok raja sultan, ” paparnya lagi.

“Saya mau jadikan raja dari kerajaan baru yang menjadi cabang adat patani dan mempawah, saya tolaklah karena saya tahu ini jaman republik tidak mungkin ada kerajaan baru, ” ujarnya.

Walaupun mereka katakan akan didukung 35 Raja Sultan Nusantara, jika ada kerajaan baru berarti menghianati para raja sultan senusantara dan rakyat bangsa Indonesia yang sepakat bersatu dalam republik kata pria yang akrab disapa Pangeran Chandrarupa ini

“Salah satu pengurus kelompok tersebut mengatakan pada saya, bahwa saya sudah layak menjadi raja, karena saya memiliki silsilah dari 2 kerajaan yang masih ada dan memiliki gelar pengakuan dari kerajaan kerajaan lain, tapi tetap saya tolak,” tegasnya.

“Menjadi menjadi raja kerajaan baru tidak cukup dengan silsilah dan itu semua lho,banyak persyaratan yang harus dipenuhi, ” kata pria tampan ini.

Menurutnya Kerajaan itu adalah lembaga pemerintahan yang ada sebelum berdirinya Republik Indonesia, setelah kerajaan dan rakyat membentuk republik tidak mungkin lagi ada kerajaan baru sekalipun didirikan oleh keluarga kerajaan yang masih ada,

Ia melanjutkan, seandainya kerajaan baru itu bisa dibentuk maka harus disetujui /diatur oleh pemerintah republik melalui undang undang

“Kedua saya menolak dinobatkan menjadi raja di wilayah Kemaharajaan kutai mulawarman pada 2013,saya tolak karena saya tidak memiliki garis silsilah ketahtaaan dengan kutai mulawarman, saya yakin banyak yang lebih berhak dan layak daripada saya, ” jelasnya.

“Maharaja Kutaipun memaklumi alasan saya dan beliau memberikan saya gelar kehormatan sebagai Paduka Sri Baginda Raja Muda Arya Natanegara,” tuturnya.

Ke empat pada 2015 saya menolak dijadikan Raja mempawah dengan dukungan komunitas yang mengaku komunitas raja sultan, yang merasa tidak cocok dengan raja mempawah. “Saya tolak karena saya tidak mau mengkudeta Raja Mempawah,” jelasnya.

“Ke empat pada 2016, saya menolak dinobatkan sebagai raja baru jayakarta /jakarta, dijakarta tidak ada kerajaan jadi saya tolak jelasnya, alasan saya sama seperti pada tahun 2011 itu,” sebutnya.

Yang kelima masih pada 2016 saya menolak dijadikan raja mataram baru, kerana saya tahu mataram sudah diteruskan oleh keraton surakarta, keraton yogyakarta, pura mangkunegaran dan pura pakualaman kata pria yang memiliki hobi berrenang ini

Pria yang juga penyanyi multi genre ini berharap dengan Ia menceritakan penolakannya ketika akan di nobatkan menjadi raja dapat membuat para raja palsu bisa memahami bahwa banyak syarat untuk menjadi seorang dengan gelar raja.

(rjp)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed