KARIR GURU HONORER BERAKHIR CERAI, MENJANDA 11 TAHUN, OJEK ONLINE 11 TAHUN, PNS TAHUN KE 12


By: Rusdianto Samawa, Caleg Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Kabupaten Sumbawa, Nomor Urut 8, Dapil III Meliputi Kec. Tarano, Empang, Plampang, Labangka dan Maronge.

==================

THE BOULEVARD TANAH ABANG – Beberapa waktu lalu ada yang membagikan status tentang demo para pengajar yang menuntut kenaikan standar upah. Sebagai manusia biasa, saya tak menyalahkan aksi tersebut meskipun sejumlah pihak memandangnya kurang etis seolah-olah guru kurang tulus saat memilih profesi mengajar dan menerima upahnya yang ternyata kecil.

Saya terus terang hanya ikut prihatin, saya mendorong pemerintah lebih objektif. Banyak Guru Honorer mulai dari group WA hingga media sosial saya sendiri, komplain tentang tulisan saya. Mereka anggap politisasi issue ini. Ya, wajar mungkin saja karena saya caleg.

Tetapi alangkah baiknya mari kita postifikan pikiran. Bahwa saya menulis juga memakai pikiran objektif, tidak pakai pikiran politis. Saya ingin mengajak Guru Honorer berjuang untuk kepentingan mereka sendiri. Bukan untuk saya pribadi. Karena saya bukan Guru Honorer.

Mereka minta solusi kepada saya. Lalu aku katakan, jadikan aku Presiden, Bupati dan Gubernur, ku jadikan kalian “orang sukses”. Ya tentu definisi “orang sukses bukan hanya jadi PNS, tetapi bisa kreatifitas pekerjaan lainnya.” Begitu ku jawab semua pertanyaan.

Tetapi, dari atas Apartemen The Boulevard Tanah Abang, Kantor Pengacara Krisna Mukti dan Kantor Jaringan Advokat Indonesia, Jakarta Pusat. Kebetulan Sekjendnya orang Sumbawa. Aku ingin ceritakan seorang Guru Honorer yang tidak lama baru diangkat jadi PNS, tetapi perjuangannya luar biasa. Namun, setelah jadi PNS, apakah beban hidup berkurang? jawabannya sudah pasti berkurang. Tetapi, bertambah berat lagi, tidak seperti sebelumnya.

“Ya Allah, Ya Tuhan, itulah perjuanganku mas. Tak disangka aku diangkat oleh Gubernur DKI Jakarta.” Ungkap Musdah Inisialnya, saya mendengar ceritanya disebuah warung makan Padang Pojok Kantor Pos perkampungan Kalipasir, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

Kala makan disitu, Musda bersama teman-temannya sepulang dari Monas sore hari. Tidak menyangka seorang berinisial Sitti Musdah bakal mendidik ketiga anaknya sendiri. Dia harus menjadi bapak sekaligus ibu bagi putra dan putrinya yang masih bersekolah. Pekerjaan sebagai guru honorer membuat dirinya diragukan oleh sang suaminya sendiri. Ia tak semata menyalahkan laki-laki yang kini sudah bercerai dengannya dan meninggalkannya pergi ke Rusia.

Jika dari aspek kinerja guru dituntut untuk menjadi profesional seharusnya diiringi dengan komitmen pemerintah untuk memberikan insentif yang juga sepadan. Dalam kinerja bahkan tak ada beda antara guru honorer dengan guru berstatus PNS. Beban kerja dan tanggung jawabnya sama dengan guru PNS tapi kesejahteraan bagai langit dan bumi.

Musda seorang Guru Honorer Kategori 2 (K2) di salah satu SMA Negeri di DKI Jakarta itu mulanya ragu saat diajak berbincang. Namun kemudian ia bersedia menyediakan waktu: “Barangkali saja buat mewakili perasaan temen-temen saya,” kata Musda.

Musda bercerita tentang kehidupannya sebagai guru honorer yang sudah ia mulai sejak 2002: “Tahun 2005 ada sistem pemerintah untuk K-2 bagi yang sudah bekerja sekian tahun. Dan saya masuk ke dalamnya,” kata Musdah.

Senada dengan honorer lain: “Walaupun besaran honor yang diterima sangat jauh dari apa yang diharapkan, tetapi saya merasa senang dan bangga menjalani profesi ini. Tetapi alangkah baiknya nasib guru honorer dapat diperjelas. Seperti pengangkatan K2 yang sampai saat ini ditangguhan tanpa batas waktu, padahal kami sudah ingin terus mengabdi.” Ungkapnya

Musdah mengaku sudah tahu konsekuensi sejak awal bekerja sebagai guru honorer. Namun ia seakan tak punya pilihan. Harapannya saat itu, ia kelak bisa diangkat jadi pegawai negeri sipil. Sebagai guru honorer, Musda mengaku berpenghasilan Rp.3,6 juta. Untuk menghidupi seorang suami dan tiga anak di kota besar, uang sebesar itu tentu kurang dan tidaklah cukup. “Gaji segitu mah harus ngencengin ikat pinggang,” katanya.

Bagi Musda: “Menjadi guru honorer adalah horor yang mencekam. Bayangkan saja, dengan gaji tidak cukup untuk wilayah Jakarta harus tetap bertahan dengan cara apapun. Guru Honorer harus siap digaji kecil alakadarnya. Jangan harap ada jaminan kesehatan, jaminan hari tua, atau jaminan kematian. Dibayar tepat waktu saja sudah sangat beruntung. Jangan bayangkan pula penjenjangan karir yang pasti. Kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan guru berstatus PNS atau guru tetap yayasan di sekolah-sekolah swasta bonafide yang penghasilannya sudah memadai.” Katanya dia.

Dari dasar kondisi itulah: “Hubungan dengan suaminya saat itu makin memburuk. Ia mengakui, masa depannya sebagai guru honorer makin suram. Hubungan kami bermasalah dan bercerai,” ujarnya.

Lanjutnya: “Sejak itulah, saya menjanda sebelas tahun dan mengemudi ojek online sejak 11 tahun juga. Demi menutup kekurangan keluarga dan biaya hidup anak -anak.” Ungkapnya

Padahal waktu itu, kami sudah berusaha bicarakan yang terbaik, bahwa: “Sebagai laki-laki harusnya mampu memberi yang terbaik. Tapi aku yang banyak bekerja. Aku juga ungkapkan kalau tak jauh berbeda, guru honorer di sekolah negeri pun demikian. Bedanya, guru honorer yang mengajar di sekolah negeri sedikit punya harapan agar dapat diangkat menjadi PNS. Itupun mereka harus sabar menunggu. Ada guru yang harus menunggu 5 tahun, 10 tahun, bahkan sampai 15 tahun untuk diangkat menjadi PNS. Seperti saya kan tahun ke 12.” Katanya membatin.

Lanjut Musda: “Bayangkan saja betapa teririsnya hati Guru Honorer, misalnya kalau disekolah, meja kami tak jauh dari meja teman-teman PNS berbincang, ada lima orang guru berstatus PNS tengah mengobrol tentang gaji mereka. Seakan hati ini tersayat mendengarnya dibanding status Honorer dan PNS, ya semakin runyam perasaan dan pikiran karena ditekan oleh kondisi dengan lima orang guru tersebut sangat timpang, terutama soal penghasilan. “Kalau mereka bisa Rp. 15 jutaan gajinya,” katanya.

Setelah bercerai, Musda dengan upah Rp. 3,6 juta itu, harus menghidupi 3 anaknya. Setiap hari, Musdah harus bolak balik dari kawasan Cilodong, Depok ke kawasan Jakarta Selatan menggunakan sepeda motor. Semangatnya saat ini hanya agar tiga buah hatinya bisa hidup dengan layak dan bisa sekolah setinggi mungkin.

Memang guru honorer yang mengajar di sekolah swasta yang kebanyakan siswanya berasal dari kalangan tidak mampu, dituntut kesabaran dan keikhlasan tingkat tinggi. Sebab sekolah pasti memiliki keterbatasan dalam memberikan gaji bagi mereka. Untuk biaya operasional sekolah saja sudah sulit, apalagi jika harus mencukupi kebutuhan guru. Jelas mereka tak bisa berharap banyak mendapat kesejahteraan yang layak.

Sudah tentu, kalau Musda diberi kesempatan, ingin sekali mengikuti tes CPNS. Selama ini, dia bilang, untuk mengikuti CPNS jalur K2 harus memakai kuota. Sementara menunggu kuota, umurnya terus bertambah. Yang lebih sedih, sudah menunggu lama tapi tak kunjung diangkat menjadi PNS. Memang mekanismenya sering tak jelas dalam proses pengangkatan PNS bagi guru honorer.

Sebagai guru honorer di kota besar, dari sisi penghasilan Musda mungkin lebih beruntung. Guru honorer di Sumbawa saja mengaku penghasilannya jauh di bawah Musda: “Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, harus mencari penghasilan sampingan sebagai pengemudi ojek online (nGojek). Menjadi driver ojek sejak 11 tahun lalu. Baru-baru imi diangkat menjadi PNS pas tahun ke 12. Ketika memilih menikah, dikaruniai anak satu masih dalam kandungan, nah tahun ke 12 itu diangkat menjadi PNS.” Ceritanya

Menjalani karier sebagai seorang guru penuh dengan perjuangan dan tantangan, beberapa orang di dekat saya memberikan saran agar Musdah keluar dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan baru yang lebih menghasilkan. Namun Musdah waktu itu seakan sedang dalam pertempuran hati dimana niat Musdah yang ingin mengajar berbenturan dengan keadaan nyata yang menyulitkan.

Ibu dua anak ini ngojek di sela-sela pergi ke kantor dan pulang kantor dengan waktu tempuh masing-masing setengah jam. “Ya dari situ tambahannya. Kalau tidak dari mana lagi. Gaji saya hanya bergantung kepada BOS (bantuan operasional sekolah) saja,” kata Musdah.

Upaya solusi sudah mestinya dilakukan oleh pemerintah. Yang perlu diperhatikan regulasi dalam pengangkatan guru honorer mesti ada pada level pemerintah daerah, bukan sekolah. Di beberapa daerah bahkan agar status mereka meningkat, bukan rahasia lagi, mereka dipungut sejumlah uang. Tentu sulitnya semakin berlipat-lipat. Namun, Musdah tidak pernah menyalahkan pemerintah atas hidup yang mereka jalani. Mereka hanya meminta agar pemerintah bisa memfasilitasi jalan keluar yang bisa saja merubah hidup mereka.

Sebab, yang terjadi selama ini pengangkatan guru honorer dilakukan atas inisitif sekolah. Sehingga adanya jumlah lonjakan guru honorer tak terhindarkan. Tentu saja perhatian pemerintah agar memberikan perhatian khusus bagi guru honorer di sekolah negeri maupun swasta mesti melalui prosedur hokum yang tepat. Jangan berharap banyak kualitas pendidikan di Indonesia akan meningkat jika nasib gurunya saja tidak diperhatikan.

Untuk anda yang punya cita-cita sebagai Guru, ada baiknya mulai saat ini bergerak dengan mencari penghasilan tambahan lainnya, karena nyatanya ini adalah perjuangan yang cukup berat kawan!.[]

No Response

Leave a reply "KARIR GURU HONORER BERAKHIR CERAI, MENJANDA 11 TAHUN, OJEK ONLINE 11 TAHUN, PNS TAHUN KE 12"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.