*Adian Napitulu Menyerang, Fadli Zon Hanya Bungkam dan “Cengar-Cengir”*

Fadli Zon dan Adian Napitulu sama-sama di DPR. Meskipun satu lembaga, ternyata pola pikir keduanya sangat berbeda. Adian Napitulu adalah aktivis jalan yang menumbangkan Orde Baru. Sebaliknya, Fadli Zon justru akrab dengan Orde Baru. Ketika Adian napitulu berjuang di jalan, Fadli Zon justru sudah menjadi bagian dari MPR.

Keduanya kembali dipertemukan dalam ILC bertajuk “Pasca Reuni 212” hari selasa 4 Desember 2018. Adian Napitulu seolah sudah menjadi bamper tim Jokowi untuk menghadapi serangan rudal dari mulut Fadli Zon. Fadli Zon terlihat berbeda ketika berhadapan dengan Adian, dibanding menghadapi yang lain. Terlihat ada raut muka panik.

Adian Napitulu diberikan kesempatan terlebih dahulu oleh Karni Ilyas. Diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu membuat Adian sangat tenang dan cerdas dalam menyampaikan pendapatnya tentang reuni 212. Sebelum Fadli Zon menyerang balik, Adian Napitulu memborbardir terlebih dahulu.

Menurut Adian, tidak ada kaitan antara reuni 212 terhadap elektabilitas capres. Namun karena ILC membuat acara bertajuk “pengaruh reuni 212 terhadap elektabilits capres, Adian merasa bingung, apa hubungannya? Adian mengatakan jika memang reuni 212 adalah acara politik, tentu berpengaruh terhadap elektabilitas capres, tapi kalau bukan acara politik, tak perlu dikait-kaitkan.

Adian juga merasa bingung juga dengan anggapan kalau Jokowi akan dikalahkan oleh reuni 212. Adian meyakini Jokowi akan kalah hanya oleh orang yang prestasinya lebih hebat dibanding Jokowi. bagaimanapun juga prestasi Jokowi jelas, dan saat ini tak punya lawan soal prestasi. Adian menegaskan tidak akan mengumpulkan berjuta-juta orang, tapi Jokowi akan mendatangi jutaan rakyat. Jokowi datangi rakyat, bangun inftrastruktur untuk rakyat meskipun banyak yang mencaci maki. Adian percaya bahwa tim Jokowi tidak panik.

Itu adalah pernyataan pembukaan Adian yang selaras dengan tema ILC. Intinya, Adian ingin menegaskan bahwa tim Jokowi sama sekali tidak panik dengan reuni 212 yang dihadiri oleh jutaan manusia. Adian yakin bahwa yang bisa mengalahkan Jokowi hanya orang yang memiliki prestasi lebih banyak dibanding Jokowi.

Adian lalu menyindir soal kebebasan pers. Media-media yang tak memberitakan reuni 212 dianggap media pendukung pemerintah. Soal ini Adian tidak sepakat. Kebebasan pers itu adalah media berhak memberitakan sesuatu, berhak juga tidak memberitakan suatu peristiwa.

Inti dari pernyataan-pernyataan Adian sepertinya memang hanya untuk menyerang Fadli Zon. Setelah panjang lebar menjelaskan tentang reuni 212, prestasi Jokowi, dan kebebasan pers, Adian lalu fokus mengarah ke Fadli Zon.

Adian merasa prihatin ada seorang presiden disebut krempeng dan planga-plonngo oleh anggota DPR. Lalu Adian mengklarifikasi kepada FadlI Zon apakah benar pernah bilang seperti itu. Fadli Zon terlihat panik, hanya bisa manggut-manggut dan berbicara tanpa microfon. Adian menenangkan Fadli Zon dengan menyatakan tidak masalah. Bagi Adian, meskipun kerempeng dan planga-plongo, tapi Jokowilah yang telah membagikan 9 juta sertifikat tanah untuk rakyat, yang membangun jalan ratusan kilometer, yang memperjuangkan BBM satu harga.

Yang ironis, justru yang selama ini menghina Jokowi adalah orang yang belum berbuat apa-apa. Contohnya kalau kita berbicara presiden dan DPR sama-sama lembaga tinggi negara, sebagai pimpinan DPR harusnua malu sekarang banyak media menyerang DPR karena tak punya prestasi apa-apa. Adian mengatakan hal ini sambil menatap wajah Fadli Zon.

Adian merasa prihatin ada seorang anggota DPR yang tidak punya prestasi apa-apa, mendegradasi prestasi Jokowi yang sangat sarat dengan prestasi. Ini sangat tidak fair. Adian mengaku sebagai anggota DPR juga dan siap buka-bukaan dengan Fadli Zon tentang kebobrokan DPR. Akan tetap, Adian enggan buka-bukaan karena ingin menjaga marwah DPR dan Presiden selaku lembaga tinggi negara. Bagaimanapun juga DPR dan presiden adalah produk pemilu.

Adian menjelaskan bahwa dalam demokrasi ada nilai-nilai etis yang harus dijaga. Tidak bisa kita menggunakan atas nama kebebasan, kita bisa mencaci maki, memfitnah orang seenaknya, memberitakan kebohongan, dsb. Kebebasan yang Adian perjuangkan saat jadi aktivis di tahun 1998 bukan seperti itu.

Adian menantang Fadli Zon kalau berkompetisi, berkompetisilah yang baik. Kemukakan visi dan misi. Hal itu yang disampaikan rakyat.

Beberapa pernyataan di atas adalah petuah-petuah Adian Napitulu untuk Fadli Zon. Ada yang unik, pasalnya Fadli Zon hanya bungkam da cengar-cengir. Padahal, biasanya Fadli Zon tipe orang yang langsung menyela, jika ada yang menyerangnya. Mungkin Adian Napitulu begitu tanggung bagi Fadli Zon, sehingga Fadli Zon lebih memilih diam, dibanding diserang lebih pedih oleh Adian.

Semoga nasihat Adian Napitulu bisa membuat Fadli Zon sadar.

By: saefudin achmad .

No Response

Leave a reply "*Adian Napitulu Menyerang, Fadli Zon Hanya Bungkam dan “Cengar-Cengir”*"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.