by

RATUSAN JUTA UANG SUAP DIRAMPAS

tengah-masri-300x182

BENGKULU ,detikperiatiwa.com- Majelis hakim Tipikor Bengkulu yang diketuai oleh Bambang Pramudwiyanto, MH beranggotakan, Dr. Joner Manik, MH dan Rahmat, SH, memutuskan kelima terdakwa suap hakim Tipikor, bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Kelimanya yakni, Janner Purba, SH dan Toton MH (Hakim Tipikor), Badarudin alias Bily (Panitera Pengganti). Serta Edi Santoni dan Syafri Syafii (terdakwa RSMY selaku penyuap).

Atas kesalahannya tersebut, majelis hakim menjatuhkan pidana penjara dengan besaran yang berbeda terhadap kelima terdakwa. Terdakwa Janer dan Toton dihukum penjara selama 7 tahun, denda Rp 500 juta subsidair 5 bulan kurungan. Sementara Bili dijatuhi pidana penjara selama 4 tahun, denda Rp 400 juta subsidair 4 bulan.

Menurut majelis hakim, perbuatan ketiga terdakwa dapat mengakibatkan menurunnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah dan khususnya pada Pengadilan Tipikor. Selain itu, sebagai hakim dan panitera pengganti, terdakwa tentunya sudah tahu konsekuensi hukum yang diterima bila melakukan perbuatan tersebut.

Perbuatan ketiga terdakwa sebagaimana yang diatur dan diancam dalam Pasal 12 huruf c Undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sementara itu, terdakwa Edi Santoni dan Syafri Syafii dihukum penjara selama 4,5 tahun dan denda Rp 300 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Atas putusan itu, terdakwa maupun JPU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih pikir-pikir.

Sementara itu, dalam putusan kemarin majelis hakim juga memutuskan uang suap dirampas untuk negara. Total uang suap yang dirampas mencapai Rp 748 juta. Dengan rincian, uang suap untuk penebas jalan yang diterima Toton sebesar Rp 30 juta. Lalu uang suap agar tidak ditahan yang diterima Toton sebesar Rp 25 juta, Janner Rp 43 juta dan Bily sebesar Rp 10 juta. Terakhir uang suap agar divonis bebas sebesar Rp 650 juta. “Semua uang sudah dititipkan terdakwa ke KPK saat menjalani pemeriksaan usai ditangkap beberapa bulan lalu,” terang Humas PN Bengkulu, Dr. Joner Manik, MH.

Sementara itu, mobil dan juga rekening yang sempat disita dan diblokir KPK, diputuskan untuk dikembalikan kepada para terdakwa yang berhak. Terpisah, Janer Purba menilai putusan itu terlalu tinggi baginya. Terlebih lagi saat ini dirinya sudah lanjut usia.  “Usia saya kini 52 tahun, kalau dihukum 7 tahun, berarti saat bebas usia saya sudah 62 tahun, kenapa gak mati aja sekalian,” lirihnya.

Hakim Tipikor yang sempat 9 tahun menjadi kondektur Metromini di Jakarta ini, belum memutuskan apakah akan menerima atau banding. “Saya minta pendapat keluarga dulu lah, apakah menerima atau banding,” demikian Janer.

Sementara itu, Edi Santoni menilai putusan tersebut tidak adil. “Hukuman saya hanya dikurangi 6 bulan, sementara terdakwa lain dikurangi sampai 3 tahun,” sambungnya. Ia pun kembali mendesak agar tersangka lain dalam kasus ini segera ditindaklanjuti. “Pak Junaidi selaku mantan Gubernur Bengkulu yang sudah jadi tersangka sampai saat ini tidak jelas apa kelanjutannya,” lanjutnya.

Selain itu, ia juga meminta mantan Wadir RSMY, berinisial AS ikut diperiksa dan bertanggungjawab. “AS ikut memaraf dan mengusulkan SK Z.17 ini, kok tidak jadi tersangka. Malah sekarang dia mendapatkan promosi jabatan di Pemprov. Kami minta penegak hukum untuk berlaku adil,” pintanya. (rb/fiz)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed