Pilpres dan Rasa Netral

No comment 40 views

SURABAYA – Berkaitan dengan suasana Pilpres, akhir-akhir ini tumbuh pendapat dengan model baru, yakni netral.

Hal ini terdengar dalam obrolan-obrolan lepas di warung-warung kopi, dan berbagai tempat dan suasana lainnya. Fenomena ini saya namakan sebagai arus ketiga.

Karena telah diketahui, kelompok yang pertama memilih pada Jokowi-Ma’ruf, kelompok kedua memilih pada Prabowo-Sandi, sedangkan kelompok yang ketiga, arus baru ini, telah menyatakan netral.

Tentu saja ujung dari rasa netral ini dapat berakibat buruk pada sikap Golongan Putih (Golput).

Pada kelompok yang pertama dan kedua, sengaja dalam kesempatan ini tidak perlu didiskusikan.

Karena tentu saja pada masing-masing telah memiliki argumentasi yang panjang dan berbelit.

Namun pada kelompok ketiga, rata-rata alasan yang dibangun dalam menentukan sikap netral, disebabkan tidak lain karena telah menemukan dan menilai, pada kedua-duanya, Pertama dan Kedua sama-sama tidak jelas, tidak dapat dipercaya, tidak sempurna.

Sehingga pada keduanya dirasa tidak sreg, merasa kecewa, marah atau pada pokoknya pada keduanya dianggap tidak mumpuni dalam memimpin masa depan Indonesia. Kurang lebihnya seperti itu argumentasi singkatnya.

Bila makna sikap netral yang bertolak dari penilaian seperti itu, maka dengan demikian makna dari dari kata netral disimpulkan dari dasar-dasar, alasan yang diambil dari sebab-sebab yang bersifat buruk, tidak sempurna, tidak baik, dan sebagainya yang bersifat negatif.

Padahal, seharusnya makna dari kata netral harus mampu dilahirkan oleh sebab dari hal-hal yang positif, yang baik yang nilainya terdapat pada masing-masing kelompok.

Maka keliru bila kita mencari yang baik, tapi dengan menemukan, lalu menilai sebanyak-banyaknya hal-hal yang negatif pada masing-masing kelompok.

Sehingga tiap keputusan dalam bersikap netral, harus disebabkan pada keduanya telah ditemukan sama-sama memiliki hal-hal yg baik, positif, yang berakibat menimbulkan kesulitan yang amat besar untuk memilih satu diantara keduanya.

Karena sama-sama hebatnya, sama-sama baiknya. Sekiranya rasa seperti itu, andai saja terjadi, kita merasakan kesulitan atas banyaknya nilai kebaikan diantara keduanya.

Uraian diatas memiliki pokok-pokok pikiran, pertama pada tiap kata, melekat kewajiban dasar untuk selalu memberi makna yang baik, yang positif. Demikian juga pada kata netral.

Jangan sampai kata netral, ternyata menjadi ‘korban’ atas rasa kita yang sedang tidak baik, kesal, marah dan sebagainya itu. Karena tentu saja pada rasa-rasa tersebut, tidak lain bermakna subjektif dari ukuran kita sendiri, yang bisa jadi tidak sempurna atau salah.

Bahkan tanpa disadari, ternyata kita tidak cukup bekal dalam mempelajari dan memeriksa pada hal-hal yang telah diasumsikan buruk, negatif, dan lain-lain itu.

Kedua; Tugas kita sebagai manusia harus selalu mencari hal-hal baik pada semua fenomena yang pernah kita jumpai.

Dengan makna sebaliknya, bukan mencari-cari dan mengumpulkan sisi-sisi buruk, atau negatif sebanyak-banyaknya pada kedua kelompok peserta Pilpres tersebut.

Ketiga; Tentu tidak ada yang tidak baik pada tiap penciptaan Allah Swt,. Sejauh kita mau mencari hal-hal yang baik, pasti selalu saja akan kita temukan hal-hal baik.

Bahkan pada hal-hal yang mula-mulanya secara terang benderang dianggap sebagai keburukan, namun setelah kita renungkan dan teliti sedalam-dalamnya, ternyata akan ditemukan kebaikan yang tersembunyi.

Maka karenanya, ketika kita menemukan keburukan, sebaiknya susun terlebih dahulu beragam pertanyaan yang tentu harus dicari juga jawabannya, misal benarkah terjadi keburukan?, apa dasar-dasar yang valid menentukan keburukan?, apa saja faktor penyebabnya?, hingga pada, adakah solusinya?, dan sebagainya dan sebagainya.

Setelah kita mencari, menemukan, dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya nilai baik dari keduanya, maka timbangan rasional pada akal kita, pasti akan menemukan mana yang terbaik diantara yang baik. Akhir kata, mari sukseskan Pilpres 2019 dan jangan bersikap dengan rasa netral.

Oleh : Mh. Fadil – Alumni Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Surabaya

No Response

Leave a reply "Pilpres dan Rasa Netral"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.