SUMBAWA DALAM PANDANGAN BANK DUNIA, STUDI KASUS DESA PESISIR DAN GEO-NGARE

By: Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

===================

CAFFE BOSS, KOTA BULAENG SUMBAWA – Saya menulis tema ini, berdasarkan informasi, riset, dan survei langsung ke desa – desa pesisir dan Geo-Ngare. Tempat menulisnya pun tepat di Caffe Boss Kota Bulaeng Sumbawa. Namun, terlebih dahulu, saya definisikan Geo-Ngare ini. Bahasa Geo-Ngare lahir dari persfektif lokalitas masyarakat yang harus mendapat pelayanan air bersih hiegienis.

Desa-desa Geo-Ngare ini merupakan wilayah yang rasa airnya asin campur tawar. Orang Sumbawa sering bilang Ngare. Ada banyak desa Geo-Ngare ini, seperti Nyarinying, Gapit, dan desa lainnya. Artinya, masyarakat konsumsi air itu bukan untuk minum. Tetapi, untuk mandi, mencuci dan bersih-beraih alat dapur.

Sala satu contoh, saya datang ke Desa Gapit kec. Empang. Berdialog bersama masyarakat. Dialog itu ada karena berkat pertemuan dengan warga Desa Gapit sebelumnya. Tentu, masalah yang muncul adalah seringnya krisis air bersih untuk konsumsi: minum dan memasak.

Atas masalah itu, Bank Dunia juga memiliki pandangan lain terhadap beberapa Desa Pesisir dan Geo-Ngare di Kabupaten Sumbawa. Sudah tentu pandangan Bank Dunia berbekal kearifan lokal telah membantu identifikasi dalam kesiapan program PAMSIMAS milik pemerintah Indonesia untuk Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi.

Program tersebut, belum mencapai target karena indikator air, sanitasi, dan perbaikan kebersihan (higienis) belum terpenuhi infrastrukturnya disebabkan oleh beberapa level kebijakan yang kurang diperhatikan pemerintah Kabupaten Sumbawa. Sala satunya di Desa Gapit Kec. Empang, akses untuk air bersih tidak sepenuhnya diterima manfaatnya oleh masyarakat dan belum memperbaiki akses untuk sanitasi. Desa Gapit Kec. Empang masih susah air bersih.

Selama tiga dekade terakhir, Desa Pesisir dan Desa Geo-Ngare Kabupaten Sumbawa belum juga menikmati kesejahteraan dalam hal program pengurangan kemiskinan, pengembangan manusia, dan perbaikan pelayanan pemerintahan terhadap masyarakat.

Padahal kalau dipikir – pikir secara baik dan benar, pemerintah Desa masing-masing menerima dana satu miliyar dari pemerintah pusat skema APBN langsung. Dari penerimaan dana tersebut, seharusnya bisa menyelsaikan masalah air bersih dan sanitasinya. Namun, kebanyakan sibuk bangun skema proyek jalan yang sebetulnya sedikit menguntungkan masyarakat.

Padahal tantangan yang perlu dihadapi adalah meningkatkan akses untuk air bersih yang aman dan sanitasi adalah prioritas utama sehingga terjaga hiegienisnya. Maka, penting di desa-desa Pesisir dan Geo-Ngare memerlukan kebijakan yang fokus untuk menuntaskan nasalah air bersih dan sanitasi. Minimal dana desa bisa dipakai untuk menuntaskan itu.

Bayangkan, tingkat gejala penyakit di wilayah pesisir dan Geo-Ngare semakin meningkat dikarenakan infrastruktur sanitasi yang buruk sehingga kesehatan umum, perekonomian, dan lingkungan menyebabkan penyakit diare dan tipus yang ditularkan melalui kotoran manusia (feses) yang berkait langsung dengan kurangnya air bersih, sanitasi, dan isu isu kebersihan lainnya.

Sulitnya akses untuk air bersih dipesisir dan Geo-Ngare Kabupaten Sumbawa menyebabkan rumah tangga miskin, terutama perempuan dan anak-anak, menghabiskan banyak waktu untuk mengambil dan membeli air ditempat lain.

Hasil wawancara berinisial Arahman berasal dari Aiboro Kec. Plampang yang selama ini jual beli air minum ke berbagai desa-desa pesisir dan Geo-Ngare, katakan masyarakat membutuhkan air bersih untuk minum memasak dan meminum hampir ratusan ribu liter air dalam sehari. Terutama di desa pesisir, seperti Labuhan Jambu, Labuhan Jontal, Labuhan Pidang, Labuhan Terujung, Labuhan Bontong, Labuhan sangur, Labuhan Terata, Labuhan kuris, Labuhan Ala, Labuhan Ujung, Gapit, Labuhan Teluk Santong, Labuhan Sumbawa, Labuhan Punti, Labuhan Tanjung, Labuhan Aipaya, dan desa pesisir lainnya.

Kedepan, perlu ada investasi untuk infrastruktur air bersih sehingga pemerintah tidak kesulitan untuk mendistribusikan serta menjaga fasilitas pelayanan kebutuhan air bersih yang sudah ada. Maka, sangat penting menjadi acuan beberapa pandangan Bank Dunia tentang Sumbawa melalui program PAMSIMAS yang belum masuk ke Kab. Sumbawa. Karena itu, pemerintah Sumbawa harus terus berjuang untuk memperbaiki fasilitas air bersih yang ada dan memperluas akses sanitasi melalui pendekatan berbasis masyarakat.

Tentu menghadirkan upaya itu bertujuan untuk meningkatkan penggunaan fasilitas air bersih dan sanitasi, dan memperbaiki perilaku bersih masyarakat dengan memperluas dan utamakan berbasis masyarakat. Itulah harapan masyarakat yang berada di wilayah Pesisir dan Geo-Ngare untuk pemerintah Kab. Sumbawa. Semoga segera.[]

No Response

Leave a reply "SUMBAWA DALAM PANDANGAN BANK DUNIA, STUDI KASUS DESA PESISIR DAN GEO-NGARE"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.